Peristiwa

BPBD Kaltim: 218 Kejadian Karhutla hingga Agustus 2026, Lebih dari 1.287 Hektare Terbakar

×

BPBD Kaltim: 218 Kejadian Karhutla hingga Agustus 2026, Lebih dari 1.287 Hektare Terbakar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Karhutla Kaltim Tembus 218 Kejadian, Lebih dari 1.287 Hektare Terbakar

jurnalistik.co.id – Kalai Timur memasuki fase cuaca panas dengan curah hujan yang minim, dan kondisi itu membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus bertambah. BPBD Kaltim mencatat peningkatan jumlah laporan kejadian karhutla hingga pertengahan Agustus 2026.

Samarinda, BPBD Kaltim melaporkan terdapat 218 kejadian karhutla sepanjang Januari sampai dengan 11 Agustus 2026. Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto, menjelaskan angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi dari 10 kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Rekap data hingga 11 Agustus 2026

Cahyo menyebutkan, pelaporan yang terdata sampai tanggal 11 Agustus menjadi dasar angka kejadian yang saat ini dihimpun. “Memang ini kebakaran itu sampai dengan sekarang memang 218 kejadian. Nah kami temukan pelaporan yang terdata sampai dengan tanggal 11 Agustus 2026 hari ini,” kata Cahyo, Rabu (12/8/2026).

Dari 218 kejadian tersebut, luas area yang terbakar mencapai 1.287,9287 hektare. Rinciannya, sekitar 443,6187 hektare lahan, 831,50 hektare hutan, dan 12,81 hektare kebun.

Menurut Cahyo, angka luasan juga masih berpotensi berubah karena data karhutla yang dihimpun daerah masih dalam proses verifikasi oleh Kementerian Kehutanan. “Luasan total lahan sampai dari awal tahun itu kurang lebih sekitar 830-an hektare yang kami himpun,” ujarnya.

Lonjakan terjadi saat Agustus berjalan

Ketika dibandingkan periode sebelumnya, kenaikan jumlah kejadian semakin terlihat memasuki Agustus. Dari total 218 kejadian yang tercatat hingga 11 Agustus, sebanyak 125 kejadian dilaporkan terjadi sejak Januari hingga akhir Juli.

Sementara itu, pada awal Agustus saja, sekitar 70 kejadian telah masuk dalam laporan hingga 9 Agustus. Cahyo menilai pola kenaikan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya suhu dan memanjangnya periode tanpa hujan.

El Nino dan vegetasi yang mengering

Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim mengatakan dampak kondisi cuaca mulai dirasakan sejak Juli. “Dari mulai kemarin Juli itu sudah kita rasakan akibat dari El Nino ini,” kata Cahyo.

Ia menambahkan, kondisi vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar ketika kebakaran terjadi. “Penyebabnya mungkin ya karena memang tumbuhan yang di atas tanah itu sudah sangat mengering. Jadi kemudahan terbakarnya itu memang lebih tinggi,” ujarnya.

Dengan demikian, peningkatan kejadian karhutla di Kaltim hingga Agustus 2026 dipengaruhi oleh kombinasi cuaca panas, minimnya hujan, serta daya bakar vegetasi yang makin kering. Walaupun rekapitulasi hingga 11 Agustus telah dirinci, Cahyo menegaskan bahwa perhitungan luasan masih dapat mengalami penyesuaian seiring proses verifikasi oleh Kementerian Kehutanan.

Rekap tersebut disusun melalui mekanisme pelaporan dari seluruh kabupaten/kota di Kaltim, sehingga angka yang dihimpun mencerminkan penjumlahan informasi di lapangan. BPBD Kaltim menempatkan Pusdalops sebagai pusat pengendalian operasional untuk melakukan perhitungan dan pengolahan data yang masuk, lalu menyajikannya sebagai gambaran situasi karhutla hingga pertengahan Agustus 2026.

Jika dilihat dari luasan, kejadian yang terdata tidak hanya berpengaruh pada kebakaran hutan, tetapi juga melibatkan lahan dan kebun. Luas area yang terbakar mencapai 1.287,9287 hektare, dengan komposisi terbesar pada hutan sekitar 831,50 hektare, disusul lahan sekitar 443,6187 hektare, serta kebun sekitar 12,81 hektare. Dengan struktur sebaran seperti itu, penanganan di lapangan perlu menyesuaikan karakter area yang terbakar.

Kenaikan juga tampak jelas ketika ditelusuri berdasarkan waktu pelaporan. Dari total 218 kejadian yang tercatat sampai 11 Agustus, sebagian besar sudah muncul pada rentang Januari hingga akhir Juli, sementara peningkatan terus berlanjut saat Agustus memasuki fase berjalan. Pada periode awal Agustus, sekitar 70 kejadian telah terekam hingga 9 Agustus, sehingga menunjukkan bahwa tren kenaikan tidak hanya bersifat sesaat.

BPBD Kaltim menilai pola ini sejalan dengan perubahan kondisi cuaca yang terjadi sejak Juli, termasuk pengaruh El Nino yang membuat musim panas lebih terasa. Vegetasi yang mengering turut memperbesar kemungkinan api menyala dan menyebar lebih cepat ketika kebakaran terjadi, karena daya bakar di permukaan menjadi lebih mudah teraliri dan terbakar. Karena itu, perhatian terhadap kondisi lapangan dipandang penting terutama ketika hujan masih minim.