jurnalistik.co.id – Sebuah memorial kini berdiri di Lord Mayor Treloar School & College, Hampshire, untuk mengenang para mantan siswa yang menerima produk darah tercemar pada periode 1970–1980-an. Memorial itu menjadi titik ingat bagi mereka yang terinfeksi HIV dan hepatitis, sekaligus bagi keluarga yang menunggu pengakuan atas apa yang mereka alami.
Lord Mayor Treloar School and College di dekat Alton dikenal memberikan perawatan spesialis bagi anak-anak dengan hemofilia. Namun, penyelidikan publik tentang kasus “Infected Blood” mengungkap bahwa sejumlah perawatan medis dilakukan dengan menggunakan produk darah yang tercemar.
Dari 122 siswa hemofilia yang bersekolah di Treloar, hanya sekitar 30 orang yang masih hidup ketika laporan Infected Blood Public Inquiry diterbitkan pada 2024. Penyelidikan menyebut “very few” dari siswa hemofilia yang hadir antara 1970 dan 1987 “escaped being infected”.
Laporan itu juga menyoroti bahwa anak-anak diperlakukan sebagai “objects for research”. Mereka dikatakan mengalami eksperimen tanpa pengetahuan mereka, sementara petugas klinis NHS—menurut temuan penyelidikan—telah mengetahui bahaya yang ditimbulkan.
Memorial yang dipasang di kampus menggambarkan dua siswa yang saling berpelukan. Salah satunya digambarkan memakai sling, sementara yang lain memegang tongkat, merepresentasikan kedekatan dan kebersamaan yang tumbuh di antara para penyintas.
Kesaksian para penyintas
Adrian Goodyear, 55, mengaku pertama kali datang ke Treloar saat berusia sembilan tahun. Ia mengatakan, “We couldn’t believe the place we were looking at. Rolling country hills, swimming pools, canoes, a Jacobian mansion. It was just remarkable at first.”
Namun pengalaman tersebut berakhir dengan kenyataan yang ia gambarkan sebagai vonis kematian. Goodyear menuturkan, “We left school with death sentences.” Di Treloar, ia terinfeksi hepatitis dan HIV.
Ia kemudian menceritakan momen yang menentukan pada 1985. “In 1985, a doctor tearfully said that I had two to three years to live,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia diberi tahu bersama lima anak laki-laki lain.
Goodyear menjelaskan bagaimana dokter berbicara satu per satu di ruangan itu: “I was told this with five other boys and the doctor went round the room and said: ‘You have… you haven’t… you have… you haven’t… you have got HIV’.”
Menurutnya, memorial ini penting agar skandal tersebut tetap hadir dalam ingatan publik dan menghormati mereka yang meninggal. Ia mengingat janji yang sempat dibuat, sekaligus kehilangan yang terus datang: “When we were here we made promises… they died in front of us, one winter we lost five boys.”
Ia melanjutkan, “I made promises to them, as did the other lads here today, that we would never give up. We would find out what happened.”
Berita Terkait
Gary Webster, 61, yang terinfeksi HIV dan hepatitis C saat bersekolah di Treloar antara 1975 dan 1983, juga memandang memorial sebagai penanda yang harus terus diingat. Ia menuturkan bahwa saat masih anak-anak ia dipanggil ke kantor dokter pada suatu malam makan malam, lalu diberi tahu ia memiliki waktu dua tahun untuk hidup.
Webster menyatakan bahwa memorial ini penting untuk memastikan peristiwa yang sama tidak terulang. Ia menyebut memorial sebagai “to remember what happened and to make sure it never happens again”.
Steve Nicholls, 59, yang bersekolah dari 1976 hingga 1983, mengatakan memorial itu mewakili dirinya dan para bocah lain di masa itu. “It represents me 50 years ago, it represents the boys 50 years ago, it’s what we were”.
Ia menambahkan bahwa memorial tersebut mencerminkan “comradeship and the bonds that were formed at the college at the time”. Nicholls juga menuturkan mereka tumbuh bersama—bermain, tidur di dormitori yang sama, dan menjalani perawatan sebagai satu kelompok—hingga akhirnya terasa seperti “brothers”. Ia berkata, “We were often referred to as blood brothers and we’ve stayed in contact throughout the years.”
Meski bertahan sampai kini, ia menyampaikan beban emosional yang sulit dipikul. Nicholls mengatakan mereka “feel incredibly guilty for surviving it and getting through it when many of our friends didn’t.”
Richard Warwick, yang bersekolah antara 1976 dan 1982, menyebut memorial ini sebagai simbol persahabatan dan dukungan. Ia menggambarkannya sebagai “a symbol of comradeship, friendship and support”.
Dampak investigasi dan proses hukum
Infected Blood Public Inquiry menyimpulkan bahwa riset medis dijalankan di Treloar “to an extent which appears unparalleled elsewhere”. Sir Brian Langstaff menegaskan temuan itu “left long scars, not only in this Hampshire community but across the UK”.
Des Collins, senior partner di Collins Solicitors, mengaitkan peringatan memorial dengan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. “Today is about remembering the real-life consequences of responsibilities, at a local and state level,” ujarnya.
Sejumlah mantan siswa juga telah mengupayakan langkah hukum terhadap trust yang mengelola sekolah tersebut melalui Pengadilan Tinggi. Saat itu, Toby Riley-Smith KC menyampaikan pernyataan atas nama pihak trust dengan mengatakan, “so sorry” dan menyinggung bahwa para mantan siswa serta orang-orang terkasih mereka menderita “so much, and for so long”.
Pernyataan tersebut juga menyebut para korban “victims of this tragedy” yang digambarkan Langstaff sebagai “the worst treatment disaster in the history of the NHS”, dan menambahkan bahwa penderitaan itu “has been compounded by the fact that it has taken so long for their plight to be recognised.”
Saat memorial ini dipasang, pembayaran kompensasi juga telah mencapai skala besar. Lebih dari £2 miliar telah dibayarkan sebagai kompensasi kepada para korban di seluruh Inggris.
Bagi para penyintas, memorial bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan peringatan yang mengunci kembali apa yang terjadi—agar ingatan publik tetap hidup dan tragedi serupa tidak kembali terulang.












