jurnalistik.co.id – Lando Norris menilai insiden yang terjadi pada fase restart di GP Azerbaijan sebagai contoh pelanggaran yang semestinya mendapat sanksi tegas. Menurut juara dunia tersebut, kecelakaan yang berantai itu tidak hanya berdampak pada timnya, tetapi juga merugikan pembalap lain yang tidak terlibat langsung.
Dalam momen restart, Franco Colapinto dari Alpine mengalami masalah ketika mengunci rem lalu kehilangan kendali. Ia kemudian menabrak Pierre Gasly, dan serangkaian benturan membuat Norris terseret ke kecelakaan tersebut. Akibatnya, ketiga mobil itu langsung pensiun dari balapan.
Norris kemudian menyampaikan pendapatnya dengan nada lugas. Ia mengatakan, “Give him a ban. It’s quite simple.”
Colapinto juga mengakui kesalahannya setelah insiden itu. Pembalap asal Argentina tersebut menyatakan, “I can be sorry to everyone. It’s been a big mistake, of course. I just locked up and then I was very out of control.”
Di saat yang sama, Norris menekankan bahwa federasi balap, FIA, perlu meningkatkan keseriusan terhadap kejadian seperti ini. Ia beralasan, dampaknya terasa kepada pembalap lain yang sebenarnya tidak bersalah, sekaligus menambah kerugian terkait komponen yang rusak.
Norris menambahkan bahwa FIA “should be more strict and start handing out bans for this kind of stuff.” Ia juga menilai tindakan semacam itu seharusnya tidak dibiarkan berulang karena biaya yang ditimbulkan besar, serta menjelaskan bahwa “It’s careless from people. It costs a lot of money. All my parts are in the bin now.”
Lebih jauh, Norris menyatakan bahwa kategori sanksi minimal perlu ada untuk mencegah kejadian serupa. Menurutnya, “If you cause a crash on a restart like this, yeah, you should have at least a one-race ban.”
Berita Terkait
Walau demikian, proses penanganan balapan tetap berjalan sesuai keputusan resmi di hari perlombaan. Colapinto menerima penalti waktu 10 detik dalam balapan, tetapi karena ia sudah lebih dulu tidak melanjutkan, penalti itu akan diubah menjadi penurunan posisi start pada balapan berikutnya.
Penurunan grid tersebut akan berlaku pada GP Bahrain, yang berlangsung di Malaysia akhir pekan depan. Namun, besarannya belum dipastikan, meski disebut kemungkinan berada di kisaran lima tempat.
Bagian yang paling menyakitkan bagi Alpine datang dari peluang poin sebelum kecelakaan. Sebelum insiden restart itu, Gasly dan Colapinto sama-sama masih berada dalam posisi yang memungkinkan untuk meraih hasil, yaitu berturut-turut di urutan ketujuh dan kesepuluh.
Insiden itu sekaligus memperlebar jarak Alpine di klasemen konstruktor. Racing Bulls dengan pembalap Arvid Lindblad justru finis ketujuh, sehingga perolehan poin memperpanjang keunggulan mereka atas Alpine menjadi 15 poin dalam perebutan peringkat kelima.
Gasly sendiri menggambarkan kondisi emosionalnya setelah insiden tersebut. Ia mengatakan merasa “crushed” dengan apa yang terjadi, seraya menambahkan bahwa mereka kecewa karena datang dari akhir pekan dan jalannya balapan yang kuat.
Gasly menyatakan, “We’re all very disappointed with the outcome after such a strong weekend, strong race.” Ia juga mengaku masih sulit memproses kejadian tersebut: “It’s still difficult to process what just happened.”
Sementara itu, ada juga perhatian mengenai kondisi Norris dan kemungkinan penggunaan pembaruan yang ia bawa di Baku. Pihak McLaren menyampaikan bahwa terlalu dini untuk memastikan apakah Norris tidak dapat memakai upgrade yang diperkenalkan timnya di GP Azerbaijan saat balapan di Malaysia.
Dengan demikian, GP Azerbaijan bukan hanya menyisakan konsekuensi hasil balapan bagi Alpine dan McLaren, tetapi juga memunculkan seruan agar FIA lebih tegas terhadap insiden restart. Pernyataan Norris menempatkan faktor keselamatan dan efek domino ke sesama pembalap sebagai inti tuntutan sanksi, termasuk kemungkinan larangan minimal satu balapan jika kejadian serupa terulang.












