Peristiwa

Imbas Gempa NTT, Warga Pantura Sikka Kembali Mengungsi dan Bertahan di Terpal

×

Imbas Gempa NTT, Warga Pantura Sikka Kembali Mengungsi dan Bertahan di Terpal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Warga Pantura Sikka Kembali Mengungsi Imbas Gempa NTT, Tidur Beralaskan Terpal

jurnalistik.co.id – Sejumlah warga di pesisir utara (Pantura) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengungsi pada Senin (17/8/2026) malam. Mereka memilih bertahan di tenda darurat yang dibangun secara swadaya, disertai perlengkapan seperti sarung, tikar, dan terpal.

Di Kecamatan Magepanda, pengungsian dilakukan di halaman Gua Maria Fata. Aktivitas penggelaran terpal dan penataan tempat tidur darurat terlihat karena banyak keluarga belum berani kembali ke rumah.

Ardianus (32), warga Kampung Fata, Desa Wodamude, mengaku masih menahan diri untuk tidur di rumah. Ia mengatakan, rasa takutnya muncul karena kekhawatiran gempa susulan.

“Masih takut tidur di rumah,” ujar Ardianus, Senin malam. Menurutnya, keputusan mengungsi dilakukan bukan hanya untuk satu malam, melainkan berlanjut sejak kondisi dinilai belum sepenuhnya aman.

Ardianus menjelaskan bahwa ia dan keluarganya sudah mulai mengungsi sejak Sabtu, 15 Agustus 2026 malam. Pilihan lokasi pengungsian, menurut dia, karena berada di dataran tinggi sehingga memberi ruang untuk penyelamatan bila situasi memburuk.

“Lokasinya aman, setidaknya kalau terjadi gempa dan tsunami kita masih bisa selamatkan diri. Apalgi kampung kami dekat pantai,” ungkapnya. Ia menilai kedekatan permukiman dengan pantai menjadi pertimbangan utama, sebab ia ingin tetap siaga tanpa harus bertahan terlalu dekat dengan area pesisir.

Pasca gempa pada Sabtu pagi, warga lanjut dihantui perasaan waswas. Ketegangan makin terasa ketika kabar tentang potensi gempa susulan disertai tsunami mulai beredar, sehingga banyak orang memilih bersiap lebih awal.

Ardianus menyampaikan bahwa informasi yang diterima sempat memicu kepanikan di tengah warga. “Tadi kami dengar juga informasi itu, katanya ini malam ada gempa. Makanya banyak warga panik,” katanya.

Mengungsi karena cemas gempa susulan dan potensi tsunami

Dari pengamatan di lapangan, kecemasan tampak memengaruhi cara warga menjalani malam. Sejumlah keluarga tetap memilih tidur beralaskan terpal, meski suasananya sudah berlangsung beberapa hari setelah gempa awal.

Ardianus mengatakan bahwa lokasi pengungsian memberi rasa relatif terlindungi karena berada di ketinggian. Namun, ia tetap menegaskan bahwa keputusan tersebut lahir dari ketakutan yang tidak kunjung surut setelah peristiwa Sabtu.

Ia juga menggambarkan suasana di lingkungan setelah kabar mengenai kemungkinan gempa kembali mencuat. “Tadi kami dengar juga informasi itu, katanya ini malam ada gempa. Makanya banyak warga panik,” ulangnya, menekankan bahwa kabar tersebut mempercepat kepanikan.

Di sisi lain, pengungsian tidak hanya terjadi di Desa Wodamude. Beberapa warga dari Desa Mageloo juga dilaporkan mengungsi, dengan mendirikan tenda darurat di area lapangan terbuka.

“Ini malam banyak warga mengungsi, mereka masih cemas terjadi gempa susulan,” ujar Kepala Desa Reroroja, Yosefina Ndena. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meski waktu terus berjalan, kekhawatiran warga terhadap kemungkinan gelombang susulan masih dominan.

Yosefina menilai, kecemasan tersebut tampak dari bagaimana warga mempertahankan kesiapsiagaan. Di tenda darurat, aktivitas sehari-hari berlangsung lebih sederhana, sementara keluarga terus memantau perkembangan situasi.

Kapolres Sikka imbau warga tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu

Dalam situasi kebencanaan seperti ini, aparat setempat mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan. Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang beredar.

Bambang menegaskan bahwa ketenangan masyarakat merupakan bagian penting dalam menghadapi kondisi darurat. Ia meminta warga tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya rujukan informasi, terutama ketika kabar beredar tanpa kejelasan sumber.

“Informasi resmi mengenai penanganan gempa hanya akan disampaikan melalui sumber-sumber resmi pemerintah,” pungkas Bambang. Pernyataan ini menjadi penekanan agar warga menyelaraskan langkah dengan informasi yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan pengungsian yang berlangsung sejak 15 Agustus 2026 dan berlanjut hingga Senin malam, warga Pantura Sikka tampak berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan rasa aman dan kewaspadaan terhadap gempa susulan. Di tengah ketakutan yang masih terasa, imbauan untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi terus menjadi pegangan utama.

Hingga berita ini disampaikan, para pengungsi tetap bertahan di tenda darurat dengan perlengkapan seadanya, berharap situasi segera kembali terkendali tanpa memunculkan gelombang kekhawatiran baru. Sementara itu, aparat setempat terus mengarahkan agar warga tidak terpancing isu dan tetap mengikuti arahan terkait penanganan kebencanaan.