jurnalistik.co.id – Sedikitnya 21 orang tewas, termasuk delapan anak-anak, setelah sebuah bangunan di Gaza runtuh semalam. Para penyintas dan petugas medis melaporkan kejadian tersebut terjadi setelah bangunan yang rusak akibat perang lama dibiarkan dalam kondisi miring.
Bangunan enam lantai itu berada di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza. Warga menyebut struktur tersebut condong ke satu sisi secara berbahaya setelah serangan Israel lebih dari setahun lalu.
Keluarga-keluarga yang mengungsi sebelumnya memilih tinggal di dalam gedung karena kesulitan mencari tempat lain. Menurut kesaksian di lokasi, pilihan itu diambil meski kondisi bangunan tidak aman.
Proses evakuasi berlangsung dengan dukungan tim penyelamat dan layanan kesehatan. Pencarian berjalan lambat karena terbatasnya peralatan yang tersedia, sehingga upaya awal dilakukan dengan cara yang sangat sederhana.
Tim dari layanan darurat sipil yang dikelola Hamas menjadi pihak yang pertama bekerja di lokasi. Dalam tahap awal, mereka bahkan harus menggunakan tangan kosong untuk mencari korban di antara reruntuhan.
Pada Rabu sore, operasi dinyatakan berakhir setelah 45 orang yang mengalami luka dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, petugas dan relawan berfokus pada penanganan korban serta penelusuran lanjutan sesuai prosedur setempat.
Sherif, yang menyatakan bahwa saudaranya meninggal dalam peristiwa ini, mengatakan tidak ada tenda atau tempat tinggal yang bisa mereka tempati. Ia menuturkan, “Ini adalah tempat terakhir yang bisa mereka tuju, meski bahayanya nyata.”
Ia juga menambahkan bahwa mereka menyadari kejadian ini kemungkinan besar akan berakhir tragedi. Menurutnya, keterbatasan sumber daya mendorong keluarga-keluarga menuju pilihan yang pada akhirnya merenggut nyawa.
Seorang perempuan yang tinggal di tenda terdekat, Umm Mohammed Bakrun, menceritakan bahwa sebelum runtuh ia sedang berbicara dengan putranya. Ia mengatakan, “Rasanya seperti gempa. Ada suara keras dan aku tidak bisa berdiri.”
Umm Mohammed Bakrun menambahkan bahwa kerikil menghujani mereka dan saat ia menoleh ke luar ia melihat banyak debu beterbangan. Ia juga menyebut, “Dalam beberapa menit, jeritan terdengar di mana-mana.”
Kesaksian lain datang dari Mansour Abu Mohammed. Ia mengatakan bangunan itu runtuh “dalam hitungan beberapa detik”, sehingga warga di dalamnya tidak sempat menyingkir.
Menurut Mansour, setiap hari sebelumnya ada batu yang jatuh dari bangunan tersebut, namun para penghuni tetap tidak memiliki tempat lain untuk tinggal. Ia menyatakan pernah tinggal di sebelahnya dan “Anda bisa melihat bangunan itu miring ke satu sisi.”
Berdasarkan pengamatan citra satelit, area sekitar gedung telah menjadi target pada awal masa perang. Sementara itu, kerusakan yang dialami bangunan dinilai mulai terlihat pada tahun 2024.
Kepala kantor UNDP untuk Gaza, Alessandro Mrakic, menyebut situasi di lokasi sangat menyedihkan. Ia menuturkan bahwa kondisi tersebut tragis karena tidak adanya peralatan dan mesin yang dibutuhkan.
Berita Terkait
Mrakic juga memperingatkan sekitar 400 bangunan lain yang mengalami kerusakan akibat perang berada pada risiko runtuh yang segera, terutama ketika musim dingin semakin dekat. Ia menegaskan perlunya dukungan, terutama berupa mesin dan peralatan.
Ia menjelaskan bahwa rekan-rekannya tidak memiliki “oli mesin dan suku cadang” untuk terus mengoperasikan berbagai perangkat yang masih berada di Gaza. Pernyataan tersebut menunjukkan hambatan teknis yang memperlambat upaya penyelamatan maupun penanganan kerusakan.
Sementara itu, koordinator bantuan kemanusiaan PBB, Ramiz Alakbarov, menyatakan ia “hancur” setelah menerima laporan runtuhnya bangunan tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak seharusnya siapa pun mempertaruhkan nyawa hanya untuk mencari tempat berlindung yang aman.
Alakbarov juga mendesak otoritas Israel untuk menyetujui pengiriman mesin berat untuk operasi penyelamatan. Ia menyebut kebutuhan lainnya seperti tenda, terpal, dan berbagai bantuan non-makanan bagi para pengungsi menjelang datangnya hujan musim dingin.
Israel menyatakan pembatasan yang diberlakukan bertujuan mencegah peralatan jatuh ke tangan kelompok-kelompok bersenjata Palestina. Menurut pemerintah Israel, peralatan tersebut berpotensi memiliki kegunaan militer.
Dalam konteks kondisi kemanusiaan Gaza, PBB menyebut sekitar 80% seluruh bangunan di wilayah itu telah dihancurkan atau mengalami kerusakan selama perang antara Israel dan Hamas. Organisasi tersebut juga melaporkan lebih dari 1,9 juta orang atau sekitar 90% populasi wilayah telah mengalami perpindahan.
Banyak di antara mereka pernah berpindah lebih dari sekali. PBB menambahkan bahwa sekitar 1,2 juta orang saat ini tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat.
PBB memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza tetap “sangat buruk” meski gencatan senjata disepakati pada Oktober tahun lalu. Mereka menyebut serangan udara Israel dan tindakan lain masih mengenai wilayah permukiman, menimbulkan korban dan kerusakan properti, serta mendorong perpindahan tambahan.
Pada Selasa, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk dua anak-anak dan seorang komandan Hamas. Rincian tersebut disampaikan berdasarkan keterangan pejabat kesehatan dan sumber dari Hamas.
Militer Israel menyatakan pihaknya menewaskan seorang komandan Hamas di Gaza bagian selatan serta seorang petempur lain di utara. Dalam dua kasus itu, seorang anak juga dilaporkan ikut tewas.
Secara terpisah, organisasi amal asal Inggris, Medical Aid for Palestinians, mengatakan seorang pasien tewas akibat drone Israel di fasilitas kesehatan yang didukung oleh lembaga tersebut di Jabalia, Gaza utara. Juru bicara militer Israel menyatakan kepada BBC bahwa mereka tidak mengetahui insiden tersebut.
Perang di Gaza bermula dari serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel bagian selatan pada 7 Oktober 2023. Saat itu, sekitar 1.200 orang tewas dan 251 orang lainnya dibawa sebagai sandera.
Sejak awal konflik, lebih dari 73.790 orang dilaporkan tewas di Gaza menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas. Angka tersebut dinilai dapat diandalkan oleh PBB.
Kejadian runtuhnya bangunan Tal al-Hawa menggambarkan rapuhnya kondisi tempat tinggal di tengah keterbatasan bantuan dan peralatan. Dengan risiko ratusan gedung rusak lainnya yang juga dinilai segera runtuh, kebutuhan perlindungan yang aman dan dukungan penyelamatan menjadi sorotan mendesak.












