Peristiwa

Jelang Muktamar NU ke-35, Eks Ketum PMII Gus Hery Haryanto Azumi Sowan ke Sahabat Gus Dur Kiai Manarul Hidayat

×

Jelang Muktamar NU ke-35, Eks Ketum PMII Gus Hery Haryanto Azumi Sowan ke Sahabat Gus Dur Kiai Manarul Hidayat

Sebarkan artikel ini
Jelang Muktamar ke-35, Eks Ketum PMII Gus Hery Sowan ke Sahabat Gus Dur Kiai Manarul
Ilustrasi: Jelang Muktamar ke-35, Eks Ketum PMII Gus Hery Sowan ke Sahabat Gus Dur Kiai Manarul

jurnalistik.co.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sejumlah tokoh mulai menegaskan kesiapannya maju dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Salah satu yang disorot adalah Gus Hery Haryanto Azumi, yang mendapat restu serta dukungan moral dari Kiai Manarul Hidayat.

KH. Manarul Hidayat menyampaikan dukungan tersebut saat menerima kunjungan silaturahim Gus Hery Haryanto Azumi di Pondok Pesantren Almanar Azhari, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (6/6/2026). Kunjungan itu menjadi momentum nasihat sekaligus penguatan arah pengabdian Gus Hery terhadap organisasi.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Manarul Hidayat menyatakan, “Saya sangat senang menerima para kader Nahdlatul Ulama yang memiliki kualitas keilmuan, integritas, dan kepedulian terhadap organisasi,’’ ujar Kiai Manarul saat menerima kunjungan silaturahim Gus Hery Haryanto Azumi. Ia menegaskan bahwa kualitas keilmuan dan integritas dinilai sejalan dengan kebutuhan NU.

Ia melanjutkan, “Mereka sesungguhnya adalah para kiai dalam makna substantif, yakni memiliki ilmu, akhlak, dan pengabdian. NU membutuhkan kader-kader seperti ini untuk menjaga dan membesarkan organisasi,” lanjutnya. Pernyataan itu menempatkan pengabdian organisasi sebagai ukuran penting yang harus terus dijaga oleh kader NU.

Kiai Manarul juga menggarisbawahi perlunya kesinambungan kaderisasi dalam tubuh organisasi sebesar NU. Menurutnya, organisasi tidak boleh kehilangan arah regenerasi dan kapasitas pengurus yang memahami jam’iyah secara berkelanjutan.

“Para kader intelektual NU yang memiliki kapasitas, kapabilitas, rekam jejak organisasi, dan rasa takdzim kepada para ulama tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk ikut mengurus dan memimpin NU,” tegasnya. Penegasan ini menunjukkan agar peran kader intelektual tidak berhenti pada pengamatan, melainkan hadir dalam kepemimpinan.

Lebih jauh, Kiai Manarul mengingatkan agar NU senantiasa dipelihara sebagai rumah besar yang terbuka bagi seluruh warga nahdliyin. Ia menekankan pentingnya menjaga ruang kebersamaan itu tanpa membedakan latar belakang kelompok, generasi, maupun afiliasi organisasi.

Dalam penuturannya, Kiai Manarul mengaitkan pesan tersebut dengan pengalaman pengabdian yang pernah ia jalani. Ia menyinggung keterlibatannya membantu proses pembangunan Gedung PBNU pada masa kepemimpinan Gus Dur, yang menurutnya berangkat dari semangat melayani jam’iyah dan umat.

Ia menjelaskan, “Ketika Gus Dur memberikan amanah kepada saya untuk ikut membantu mewujudkan pembangunan Gedung NU, spirit yang kami pegang sangat jelas: gedung itu dibangun dari semangat pengabdian kepada jam’iyah dan umat. Karena itu, Gedung NU sejatinya adalah milik seluruh warga nahdliyin,” pungkasnya. Pesan ini sekaligus menegaskan makna kolektif dari fasilitas dan bangunan organisasi.

Sementara itu, Gus Hery Haryanto Azumi menyampaikan rasa syukur atas sambutan, nasihat, dan doa yang diberikan KH. Manarul Hidayat. Ungkapan syukur tersebut menjadi bagian dari respons atas arahan yang ia terima dalam kunjungan silaturahim di Pondok Pesantren Almanar Azhari.

Dengan adanya restu dan penguatan moral dari Kiai Manarul Hidayat, dukungan yang disampaikan kepada Gus Hery tidak hanya berbentuk pernyataan, tetapi juga menyentuh tema besar tentang kaderisasi, tanggung jawab kepemimpinan, serta keberlanjutan NU sebagai rumah bersama. Dalam rangka mendekati Muktamar ke-35, nilai-nilai tersebut menjadi bahan refleksi bagi siapa pun yang hendak berkhidmat dalam kepengurusan PBNU.

Kunjungan silaturahim itu juga memperlihatkan adanya proses saling tukar pandang antara figur yang berniat berkhidmat dan pihak ulama yang memberi arahan. Dalam dialog tersebut, Gus Hery Haryanto Azumi mendapatkan penguatan agar langkah pengabdian selalu ditempatkan dalam kerangka menjaga jam’iyah dan merawat keberlanjutan organisasi.

Penekanan Kiai Manarul mengenai kaderisasi lantas mengarah pada pentingnya kesiapan kapasitas pengurus, termasuk kemampuan memahami kebutuhan organisasi secara berkesinambungan. Dengan cara pandang seperti itu, partisipasi kader diharapkan tidak berhenti pada dukungan dari luar, melainkan diwujudkan lewat keterlibatan nyata dalam pengelolaan dan kepemimpinan.

Pesan tentang pembangunan Gedung PBNU pada masa kepemimpinan Gus Dur kembali menjadi pengingat bahwa sarana organisasi semestinya dimaknai sebagai amanah bersama. Karena itu, menjelang Muktamar ke-35, ajakan untuk memelihara rumah besar warga nahdliyin dapat dipahami sebagai dorongan agar seluruh unsur menjaga kebersamaan dan merawat semangat pengabdian kepada jam’iyah serta umat.