Peristiwa

Menjelang Muktamar NU ke-35, Gus Yahya Tekankan Perbedaan Pendapat Dihormati

×

Menjelang Muktamar NU ke-35, Gus Yahya Tekankan Perbedaan Pendapat Dihormati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jelang Muktamar NU, Gus Yahya Ingatkan Agar Setiap Perbedaan Dihargai

jurnalistik.co.id – Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, hadir dalam Haul ke-45 KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, Jawa Timur, pada Sabtu (22/8/2026). Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pesan tentang cara menjaga suasana berorganisasi agar tetap rukun.

Menurut Gus Yahya, NU tidak hanya dipahami sebagai wadah yang mengikat aktivitas lahiriah, tetapi juga sebagai ruang batiniah yang menyatukan roh para anggotanya. Ia mengaitkan pengingat tersebut dengan agenda Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026.

Dalam pidatonya, Gus Yahya mengutip dawuh Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari. Ia menyampaikan, “Fadkhuluuhaa bil mahabbati wal widaad, wal ulfati wal ittihaad, wal itfishaali bil arwaahi wal ajsaad. Masuklah kalian semua ke dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini dengan rasa kasih sayang, cinta, rukun, bersatu, serta menyambungkan roh dan jasad,” ujar Gus Yahya saat berada di acara haul.

Perbedaan pendapat harus tetap dihormati

Menjelang Muktamar NU ke-35, Gus Yahya menegaskan bahwa perbedaan pandangan atau gagasan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar dan lumrah. Ia juga menggarisbawahi bahwa perbedaan itu tidak boleh berkembang menjadi tindakan yang merusak tali persaudaraan.

Gus Yahya menyatakan, “Beda pendapat itu biasa. Saya dengan pengurus lain setiap hari bisa berdebat keras, tetapi tidak pernah tidak rukun. Jangan sampai bertindak apa pun yang berpotensi menimbulkan risiko perpecahan di dalam jam’iyyah ini,” tegasnya.

Ia kemudian mengimbau seluruh kader serta warga NU agar menahan diri dari langkah-langkah yang berpotensi mengoyak keutuhan organisasi. Baginya, prinsip ulfah (rukun) dan ittihad (bersatu) harus dipegang sebagai norma utama warga Nahdliyin.

Permusyawaratan jasad, kepemimpinan rohani

Gus Yahya menjelaskan bahwa Muktamar struktur organisasi menjadi sarana permusyawaratan jasad. Namun, ia menekankan bahwa hal yang paling penting adalah menjaga kepemimpinan rohani (raisul arwah) yang terus menuntun perjalanan NU dari masa ke masa.

“Jabatan Ketua Umum atau Rais Aam itu jabatan lahiriah. Namun spirit para ulama dan kiai sepuh seperti Mbah Hamid Pasuruan adalah Raisul Arwah, kepemimpinan rohani yang tidak terbatas oleh masa jabatan. Kerukunan batin inilah yang menjaga NU tetap kokoh,” ujar Gus Yahya dalam kesempatan tersebut.

Pelaksanaan Muktamar NU ke-35 sendiri akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Lokasi dan penyelenggaraannya dipimpin oleh KH Hasib Abdul Wahab.

Di sisi lain, Gus Yahya turut menyinggung keadaan yang sedang dialami masyarakat. Ia menyampaikan keprihatinan kepada saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur yang “tengah dirundung duka karena gempa M 7,7” serta menyerukan agar bantuan disalurkan untuk meringankan beban yang sedang dihadapi.

Acara haul tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh dan ulama. Di antaranya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat TGB Muhammad Zainul Majdi, Azwar Anas, dan Emil Elestianto Dardak.

Selain itu, lebih dari 10 ribu jemaah memenuhi kawasan di sekitar Alun-alun Kota Pasuruan. Gus Yahya menyampaikan pesan-pesan agar momentum pertemuan umat itu sekaligus menjadi pengingat bagi warga NU untuk menjaga persaudaraan dan persatuan, terutama ketika agenda besar organisasi semakin dekat.

Lebih lanjut, Gus Yahya mengarahkan agar suasana organisasi tidak dipenuhi cara pandang yang saling menjatuhkan. Ia menilai, sikap menjaga adab dalam berpendapat akan membuat perdebatan tetap berada pada koridor ukhuwwah, sehingga tujuan pembinaan jamaah tidak terganggu.

Dalam konteks itu, ia juga menekankan bahwa kerukunan yang dimaksud bukan hanya soal kesepakatan di permukaan, melainkan berangkat dari kesediaan untuk saling menerima sebagai sesama warga NU. Semangat ittihad dan ulfah, menurutnya, menjadi kompas yang menuntun kader agar tetap kompak menjelang tahapan penting organisasi.

Menjelang Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan 27–31 Agustus 2026, perhatian pada persatuan juga diarahkan agar seluruh pihak mempersiapkan diri dengan menjaga suasana batin. Dengan begitu, agenda permusyawaratan dapat berjalan dengan landasan rohani yang kuat dan tetap menghadirkan rasa damai di tengah perbedaan.