Peristiwa

Keluarga Jason Arday: “masih berusaha menerima” kematiannya, saat doa bersama digelar di Trafalgar Square

×

Keluarga Jason Arday: “masih berusaha menerima” kematiannya, saat doa bersama digelar di Trafalgar Square

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jason Arday's family 'still coming to terms' with his death as supporters attend vigil

jurnalistik.co.id – Ribuan pendukung berkumpul di Trafalgar Square pada Senin untuk menggelar doa bersama bagi Jason Arday, saat keluarga dan sejumlah tokoh menyampaikan duka sekaligus kritik terhadap pemberitaan yang menyertainya sebelum ia meninggal.

Dalam pernyataan yang dibacakan pada acara tersebut, keluarga Arday mengatakan mereka masih “coming to terms” dengan kematiannya, dan menyoroti dampak yang ditinggikan oleh perhatian publik dalam beberapa hari terakhir sebelum upacara digelar.

Arday, profesor termuda kulit hitam di Universitas Cambridge yang diangkat pada 2023, menjadi sorotan media selama berminggu-minggu karena tuduhan plagiarisme serta pertanyaan mengenai capaian akademiknya. Ia membantah tuduhan tersebut.

“the public cruelty Jason was subjected to was too much for any man to bear,” bunyi kutipan pernyataan keluarga Arday yang dibacakan oleh Labour MP Bell Ribeiro-Addy mewakili keluarga.

Acara doa bersama di pusat London ini diprakarsai oleh kelompok Stand Up to Racism. Sejumlah pembicara kemudian menyampaikan penghormatan, sambil mengaitkan perlakuan yang diterima Arday dengan cara media mengangkat isu-isu seputar dirinya.

Keluarga Arday menuliskan, “What has become clear over the past 72 hours is the profound impact he had on people”.

Mereka juga menyatakan berharap Arday dikenang “for the wonderful person he was and all that he achieved”.

“A selfless and gentle soul, he tirelessly uplifted others through his words and actions. His achievements were great and we do not want misrepresentations about his character to overshadow them,” demikian tambahan pernyataan tersebut.

Panitia acara sebelumnya meminta para peserta mengenakan pakaian hitam bila memungkinkan dan membawa bunga. Di tengah kerumunan yang mencapai 2.000 orang atau lebih, banyak peserta tetap memenuhi permintaan itu meski waktu persiapan acara terbilang singkat.

Suasana di Trafalgar Square terasa muram, dengan kemarahan yang mengendap di bawah doa bersama. Fokus kekecewaan, sebagaimana disampaikan pembicara, diarahkan pada media.

Labour MP Diane Abbott menyebut Arday mengalami “vicious and bitter media campaign”. Ia mengaitkan kampanye tersebut dengan dugaan “people who didn’t believe a black man should be a Cambridge professor”.

Abbott mengatakan, “He must have felt that if he resigned, the attacks on him would stop. But in fact, they got even worse. “This was a campaign against all of us,” she added.”

Sementara itu, Lord Simon Woolley, principal Homerton College di Universitas Cambridge, menceritakan bahwa ketika bertemu Arday pekan lalu, Arday menyampaikan ia merasa para pengkritik “hounding me to death”.

Aktivis dan pembuat film Misan Harriman juga mengangkat soal cara liputan media terhadap Arday. Ia berkata, “The legacy media crossed every line in the treatment of Jason.”

Harriman menambahkan, “Imagine being so lost in the business of cruelty that you relish hurting another human for sport, with your own poison pen.”

Ia lalu menegaskan, “Jason should still be here today.”

Arday berusia 41 tahun dan ditemukan meninggal di sebuah alamat di London selatan pada 14 Agustus, dua hari setelah Cambridge menyatakan akan menyelidiki keadaan seputar penunjukannya.

Ia sempat mengundurkan diri sebagai profesor Cambridge di bidang sosiologi pendidikan pada 5 Agustus. Dalam pengunduran dirinya, ia menyatakan bahwa langkah itu tidak seharusnya dipahami sebagai penerimaan terhadap narasi yang mengitari dirinya.

Acara doa bersama Senin berlangsung di tengah dukungan publik yang meluas. Lebih dari 90.000 orang menandatangani petisi Good Law Project yang menyerukan penyelidikan atas liputan media terkait Arday.

Dalam beberapa minggu sebelum kematiannya, chancellor Universitas Cambridge mengkritik apa yang disebutnya sebagai “racist feeding frenzy” di seputar Arday.

Pada kesempatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, Lord Chris Smith berbicara mengenai persoalan tersebut. Ia mengatakan akademik integritas dapat ditegakkan sambil tetap mempertanyakan perlakuan terhadap Arday.

Smith menuturkan, “I do believe it is possible to hold to two principles at the same time: to believe in the importance of academic integrity, and where criticisms of plagiarism arise, about any academic, whoever they are, ensure that they are rigorously investigated. “And also to refuse to join in a racist feeding frenzy over a particular academic.”

Ia juga disebut sebagai mantan anggota parlemen Labour dan pernah menjabat sebagai sekretaris negara urusan budaya, media, dan olahraga, sekaligus mantan ketua Environment Agency.

Sementara itu, Downing Street menolak memberikan jawaban apakah Perdana Menteri Andy Burnham tengah mempertimbangkan penyelidikan pada tahap ini. Juru bicara menyatakan ini adalah “a moment for reflection”, dan proses yang tepat adalah “the usual processes” seperti pemeriksaan dalam persidangan inquest.

Pengadilan London Inner South Coroner’s Court menyampaikan bahwa akan dilakukan penyelidikan untuk menentukan penyebab kematian, yang bisa memerlukan waktu beberapa pekan, dan setelah selesai, koroner akan memastikan apakah inquest akan digelar.

Dari kubu oposisi, shadow housing secretary Sir James Cleverly menyatakan kemarahannya atas peristiwa yang menimpa Arday, dan menyebut bahwa lingkungan universitas—bukan hanya Cambridge—seharusnya telah melakukan “done the robust due diligence and checking that should happen with any senior academic appointment”.

Dalam wawancara yang disiarkan BBC’s Today programme, Cleverly mengatakan Arday merasa dimanfaatkan sebagai “bragging rights by some universities”. Ia juga menyinggung bahwa yang dipersoalkan banyak orang berkisar pada “age and his ethnicity rather than his talent”.

Sir James, yang pernah menjadi orang kulit hitam pertama yang menjabat sebagai menteri dalam negeri dan menteri luar negeri Inggris, menyatakan bahwa sebagian besar liputan mengenai Arday “quite possibly” didorong oleh rasisme.

Namun, ia menegaskan pertanyaan tentang plagiarisme tetap sah, terlepas dari motivasi di baliknya.

Polemik plagiarisme bermula setelah akademisi lain yang menyebut dirinya “race realist”, Nathan Cofnas—yang diberhentikan dari perannya di Cambridge pada 2024—mengatakan ia menemukan berbagai contoh plagiarisme dalam karya Arday.

Menurut laporan, unggahan Cofnas kemudian berakhir dengan pemecatan di tengah reaksi publik atas pandangannya bahwa di bawah meritokrasi yang sesungguhnya, orang kulit hitam akan “disappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainment”.

Cambridge sendiri merayakan pengangkatan Arday sebagai profesor muda kulit hitam, sosok dari kelompok yang sangat kecil dan terlihat dalam dunia akademik.

Disebutkan bahwa hanya 1% profesor di universitas-universitas Inggris yang berkulit hitam, sehingga setiap pengangkatan menjadi peristiwa yang menonjol.

Selain doa bersama di Trafalgar Square, pada Minggu juga digelar vigil di Cambridge. Lebih dari 200 orang menghadirinya, dan acara itu diorganisasi oleh mahasiswa pascasarjana (postdoctoral students) di lingkungan tempat Arday bekerja.

Pada acara itu, pesan yang dibawa para pembicara beririsan: doa untuk Arday disertai upaya memastikan dampak yang ditinggalkannya tidak tenggelam oleh perdebatan yang mengitarinya.