jurnalistik.co.id – Keputusan Gen Z untuk mundur dari skema pensiun tempat kerja semakin sering ditemui, terutama ketika biaya hidup menekan anggaran harian mereka. Bagi sebagian orang muda, iuran pensiun terasa tidak bisa didahulukan dibanding kebutuhan yang harus dibayar sekarang.
Kisah tersebut terlihat dari Hassan Nassar, 26 tahun, yang bekerja sebagai trainee GP di West Midlands. Hingga awal September, ia masih menyisihkan sekitar £430 setiap bulan ke pensiun kerja NHS, tetapi kemudian memilih berhenti menabung untuk rentang sekitar enam sampai 12 bulan karena kondisi keuangan yang “really cash strapped”.
Hassan mengatakan ia membutuhkan uang untuk merawat anggota keluarga yang sakit, menyiapkan dana untuk rumah pertamanya, serta menutup sewa dan cicilan student loan. Ia juga menyadari ada konsekuensi finansial dari langkah itu, termasuk potensi hilangnya pendapatan pensiun di masa depan akibat bunga berbunga yang tidak lagi ikut bekerja.
Menurut perkiraannya, ia bisa kehilangan antara “£5,000 dan £10,000” dari penghasilan pensiun masa depan karena tidak menabung sekarang. Dalam penjelasannya kepada BBC, ia menyatakan, “People will say, you’re silly, look at what you’ll be missing out in the future,” lalu menegaskan kebutuhan untuk menilai beban saat ini: “But I need to look at what I’d be losing now if I didn’t opt out.”
Di balik keputusan individu, skema pensiun tempat kerja di Inggris pada dasarnya dirancang agar karyawan otomatis ikut serta. Semua pekerja akan didaftarkan secara otomatis ke workplace pension bila berusia 22 tahun ke atas dan berpenghasilan lebih dari ÂŁ10,000, meski tetap ada pengecualian.
Dalam skema tersebut, persentase tertentu biasanya sekitar 5% dipotong langsung dari gaji pekerja, dengan bantuan tax relief. Di saat yang sama, pemberi kerja juga wajib menambahkan kontribusi minimum sebagai tambahan.
Namun, kementerian dan otoritas terkait mengingatkan bahwa semakin banyak Gen Z dan milenial yang memilih keluar dari skema karena tekanan biaya hidup. Peringatan pemerintah menekankan risiko turunnya pendapatan pensiun privat generasi yang pensiun di waktu mendatang dibanding mereka yang pensiun saat ini.
Masalahnya, pensiun negara pada umumnya hanya menyediakan tingkat pendapatan pensiun minimum. Karena itu, banyak orang tetap membutuhkan pensiun privat sebagai penopang tambahan ketika masa pensiun tiba.
Hassan menggambarkan situasinya lebih spesifik. Ia menyebut membayar 10,7% dari penghasilan kotor setiap bulan ke pensiun kerja, sementara NHS memberikan kontribusi tambahan yang cukup besar. Ia juga menyoroti perbedaan kebijakan, sebab—berbeda dari beberapa pemberi kerja—NHS tidak mengizinkan staf mengurangi kontribusi ketika keadaan sedang sulit.
Meski demikian, Hassan mengatakan ia merasa masih mungkin untuk pensiun pada akhir karier 30 sampai 40 tahun. Ia bertekad untuk kembali masuk ke pensiun tempat kerjanya secepat mungkin setelah kondisi keuangan membaik.
Menurut data Department for Work and Pensions (DWP), sekitar 22,6 juta orang atau 90% dari mereka yang memenuhi syarat untuk automatic enrolment pension sedang membayar iuran. Sementara itu, sekitar 2,5 juta orang tidak ikut membayar ke skema tersebut.
Pensions Minister Torsten Bell menyampaikan peringatan bahwa tren ini berpotensi berdampak pada generasi pensiunan berikutnya. Ia menegaskan, “a rising number of young workers aren’t saving, and overall there is a danger tomorrow’s retirees are on track for lower private pension incomes than today”.
Berita Terkait
Angka DWP juga menunjukkan kenaikan pada kelompok usia tertentu. Dalam tiga bulan hingga Desember tahun lalu, 11,5% dari mereka yang memenuhi syarat berusia 22 sampai 29 tahun dan baru memulai pekerjaan memilih keluar dari pensiun. Persentase ini naik dibanding 6,6% pada periode yang sama di 2020, sedangkan untuk usia 30 sampai 39 tahun angkanya bergerak dari 7,4% menjadi 12,7%.
Evie, 22 tahun, berasal dari Cornwall. Ia memilih keluar dari masuk workplace pension di perusahaan London tempat ia bekerja, yang bergerak di bidang acara. Evie menyebut dirinya lulusan drama school dan mengatakan, ia akan kesulitan menutup pengeluaran, termasuk kebutuhan makan, perjalanan, serta ÂŁ800 yang ia bayarkan untuk sewa.
Ia menyadari bahwa keputusan tersebut membuatnya kehilangan peluang menyiapkan pensiun. Namun, ia menilai ada kebutuhan lain yang lebih mendesak sehingga langkah itu menjadi pilihan yang “impractical right now”.
Evie merangkum pergulatannya dengan menyatakan, “How can I save for a house, how can I save for a car and afford my outgoings? I don’t want to just work day in, day out to live, I want to work to have a life.”
Ketika ditanya soal strategi yang seharusnya dilakukan, April Leeson dari The Private Office, sebuah firma chartered financial advice, mengatakan ia akan selalu menyarankan agar orang tidak menghentikan pembayaran pensiun jika masih memungkinkan. Menurutnya, bahkan bila harus mengurangi kontribusi, banyak pemberi kerja memang menyediakan opsi tersebut.
Leeson menjelaskan alasan saran itu datang dari dua sisi. Pertama, kontribusi gratis dari pemberi kerja yang akan terlewat jika seseorang keluar. Kedua, bunga berbunga yang hilang karena dana tidak lagi terus bertumbuh.
Ia juga mengingatkan soal dampak waktu. “The current minimum pension age is 57, so any money you save in your 20s will have at least 30 years to compound and grow.” Ia menambahkan contoh yang menunjukkan perbedaan nilai: “£100 saved now, compounded at 4% a year over 30 years, is going to be worth a lot more than £100 saved in 15 to 20 years’ time.”
Selain itu, Leeson mendorong generasi muda agar memikirkan kebutuhan jangka panjang. Ia berkata, “You really need to think of your future self and what that person will need to retire comfortably.”
Kekhawatiran serupa dirasakan Kharlee, 47 tahun, seorang guru dari South East London. Ia mengaku pernah menghentikan kontribusi ke workplace pension dua kali dalam lima tahun terakhir karena alasan finansial, sehingga ia menilai dirinya melewatkan tabungan sekitar ÂŁ5,000 ke pot pensiun.
Kini Kharlee merasa berada pada posisi keuangan yang lebih baik. Namun ia baru menjadi self-employed dan karena itu tidak lagi menjadi bagian dari skema pensiun privat, meski ia berharap bisa kembali masuk ke skema tersebut.
Ia menyatakan, “I would like to feel my pension is secure, and I don’t feel like that. I worry I’m not going to be able to live comfortably at the age of retirement.”
Di tengah meningkatnya keputusan untuk keluar dari pensiun tempat kerja, pertanyaan yang terus muncul adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan hari ini dengan rencana masa depan. Ketika biaya hidup mendesak, pilihan untuk menunda investasi pensiun menjadi keputusan yang terasa sama pentingnya dengan bertahan hidup pada periode yang sempit.





