jurnalistik.co.id – Keluarga Jason Arday menyatakan bahwa mereka masih “still coming to terms” dengan kematiannya, seraya menggambarkan perlakuan yang ia terima sebagai sesuatu yang “terlalu berat” untuk dipikul. Dalam pernyataan yang dibacakan di sebuah vigil untuk profesor tersebut di Trafalgar Square, mereka menilai “public cruelty” yang disasar kepada Arday berada di level yang tidak seharusnya dialami siapa pun.
Vigil yang berlangsung di pusat London itu menjadi tempat berkumpulnya para penyintas duka dan simpatisan, dengan atmosfer yang muram namun diwarnai kemarahan yang terpendam. Banyak peserta memakai pakaian hitam dan membawa bunga, sesuai permintaan penyelenggara agar suasana tetap khidmat dan simbolis.
Sejumlah pembicara menyampaikan penghormatan kepada Arday sekaligus mengkritik cara pemberitaan media terhadap dirinya. Mereka menilai, fokus utama kemarahan bukan pada perdebatan akademik semata, melainkan pada intensitas liputan yang mereka anggap telah melampaui batas.
Kematian yang menyusul proses penyelidikan
Arday, 41, meninggal dunia di sebuah alamat di London bagian selatan pada 14 Agustus. Kepergiannya terjadi dua hari setelah Cambridge menyatakan akan menelusuri keadaan di balik penunjukannya, menyusul riuh soal tuduhan plagiarisme dan penilaian terhadap pencapaiannya.
Dalam rangkaian dinamika tersebut, Arday mengundurkan diri dari jabatan profesor Cambridge bidang sosiologi pendidikan pada 5 Agustus. Pengunduran diri dilakukan setelah universitas menyatakan akan menelaah klaim yang berkaitan dengan perjalanan kariernya.
Arday juga menyampaikan bahwa pengunduran dirinya tidak boleh dipandang sebagai penerimaan terhadap “narratives” yang selama periode itu mengelilinginya. Pernyataan itu muncul ketika tuduhan-tuduhan terhadapnya menjadi topik luas dan mendorong intensitas sorotan publik.
Pernyataan keluarga dan harapan untuk dikenang sebagai dirinya
Keluarga Arday menyebut bahwa “What has become clear over the past 72 hours is the profound impact he had on people”. Mereka juga berharap Arday dikenang “for the wonderful person he was and all that he achieved”.
Lebih lanjut, mereka menggambarkan Arday sebagai sosok “A selfless and gentle soul” yang “tirelessly uplifted others through his words and actions”. Pernyataan itu menegaskan bahwa pencapaiannya besar, dan pihak keluarga “do not want misrepresentations about his character to overshadow them”.
Dalam pernyataan yang disampaikan atas nama keluarga, Labour MP Bell Ribeiro-Addy membacakan kalimat yang menempatkan penderitaan Arday sebagai inti perhatian. Mereka menegaskan “the public cruelty Jason was subjected to was too much for any man to bear”.
Penghormatan dan kritik terhadap kampanye media
Vigil di Trafalgar Square diselenggarakan oleh Stand Up to Racism. Para pembicara yang hadir menyoroti perlakuan media terhadap Arday, termasuk cara narasi dibangun dan dampak berkelanjutannya pada kondisi yang ia hadapi.
Labour MP Diane Abbott mengatakan Arday menjadi sasaran “a vicious and bitter media campaign”. Ia mengaitkannya dengan “people who didn’t believe a black man should be a Cambridge professor”.
Diane Abbott juga mengungkap penilaian bahwa ada harapan keliru yang berkembang dalam arus serangan itu. Menurutnya, “He must have felt that if he resigned, the attacks on him would stop. But in fact, they got even worse,” dan ia menambahkan, “This was a campaign against all of us”.
Lord Simon Woolley, principal Homerton College di University of Cambridge, menyampaikan bahwa saat bertemu Arday minggu lalu, sang akademik mengaku merasa dikejar oleh para pengkritik. Ia mengatakan Arday merasa para penentangnya “hounding me to death”.
Berita Terkait
Filmmaker dan aktivis Misan Harriman menilai liputan yang diterima Arday melewati batas kemanusiaan. Ia menyatakan: “The legacy media crossed every line in the treatment of Jason,” lalu mengajak hadirin membayangkan situasinya: “Imagine being so lost in the business of cruelty that you relish hurting another human for sport, with your own poison pen.” Harriman menutup dengan kalimat yang tegas, “Jason should still be here today.”
Tuntutan penyelidikan dan sikap otoritas
Di tengah peristiwa tersebut, lebih dari 90.000 orang menandatangani petisi Good Law Project yang menyerukan penyelidikan atas liputan media terkait Arday. Di sisi lain, chancellor University of Cambridge sebelumnya mengkritik “racist feeding frenzy” yang muncul pada minggu-minggu sebelum kematian Arday.
Lord Chris Smith, yang berujar untuk pertama kali secara publik menanggapi pusaran kontroversi, menyampaikan bahwa integritas akademik tetap bisa dijaga sambil mempertanyakan perlakuan terhadap Arday. Ia mengatakan, “I do believe it is possible to hold to two principles at the same time: to believe in the importance of academic integrity, and where criticisms of plagiarism arise, about any academic, whoever they are, ensure that they are rigorously investigated.”
Ia menambahkan prinsip kedua yang juga ia angkat, “And also to refuse to join in a racist feeding frenzy over a particular academic.” Lord Chris Smith adalah mantan anggota parlemen dari Labour serta pernah menjadi menteri sekretaris negara untuk culture, media and sport, dan juga mantan ketua Environment Agency.
Downing Street menolak menjawab apakah Perdana Menteri Andy Burnham sedang mempertimbangkan penyelidikan pada tahap ini. Pernyataan mereka kembali menekankan bahwa ini adalah “a moment for reflection” dan bahwa proses yang “usual processes” seperti inquest adalah langkah yang tepat.
London Inner South Coroner’s Court menyatakan bahwa penyelidikan akan dilakukan untuk menentukan penyebab kematian, yang dapat memakan waktu beberapa minggu. Setelah selesai, koroner akan memastikan apakah akan ada inquest.
Kritik politik dan konteks awal kontroversi plagiarisme
Shadow housing secretary Sir James Cleverly menyampaikan kemarahannya atas apa yang terjadi kepada Arday. Ia menegaskan bahwa institusi universitas—bukan hanya Cambridge—seharusnya menjalankan “robust due diligence and checking that should happen with any senior academic appointment”.
Dalam wawancara untuk program BBC Today, Cleverly mengatakan ia merasa Arday dijadikan “bragging rights by some universities”. Ia juga menyebut orang-orang lebih banyak membicarakan “age and his ethnicity rather than his talent”.
Meski demikian, Cleverly menilai sebagian besar liputan tersebut “quite possibly” didorong oleh rasisme, namun pertanyaan soal plagiarisme tetap “legitimate” terlepas dari motivasinya. Ia menempatkan dua hal ini dalam kerangka yang berbeda: isu kemanusiaan dan isu integritas akademik sama-sama menjadi perhatian.
Kontroversi plagiarisme bermula setelah akademik lain bernama Nathan Cofnas, yang menyebut dirinya “race realist”, dipecat dari perannya di Cambridge pada 2024. Cofnas mengatakan ia menemukan “numerous instances of plagiarism” dalam karya Arday.
Postingan Cofnas kemudian dihentikan menyusul reaksi balik terhadap pandangannya. Dalam narasi Cofnas, ia menyebut bahwa di bawah “true meritocracy”, orang kulit hitam akan “disappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainment”.
Cambridge sendiri pernah merayakan penunjukan Arday sebagai profesor kulit hitam termuda—sebuah posisi yang disebut menjadi bagian dari minoritas akademik yang kecil namun terlihat. Dengan proporsi hanya 1% profesor di universitas Inggris yang berkulit hitam, penunjukan seperti itu disebut sangat signifikan.
Vigil lain di Cambridge dan dampak yang terus dirasakan
Pada hari Minggu, lebih dari 200 orang menghadiri vigil di Cambridge yang diorganisasi oleh sebagian mahasiswa Arday. Peristiwa-peristiwa itu memperlihatkan bahwa, di tengah proses penyelidikan, dampak dari kematian Arday terus bergema pada komunitas akademik dan publik.
Di Trafalgar Square, kerabat serta para pendukung memilih kata-kata yang menekankan keterkejutan dan kehilangan yang mendalam. Mereka ingin fokus pada diri Arday sebagai manusia—dan pada pengaruhnya yang disebut telah nyata pada banyak orang—tanpa membiarkan narasi yang mereka anggap keliru menutupi pencapaiannya.












