jurnalistik.co.id – Di Trafalgar Square, keluarga Jason Arday menyampaikan bahwa mereka masih “still coming to terms” dengan kematiannya. Pernyataan itu dibacakan pada sebuah vigil yang berlangsung untuk menghormati profesor tersebut.
Arday, 41 tahun, telah berhadapan dengan pemberitaan media selama beberapa pekan terakhir yang berkaitan dengan tuduhan plagiarisme dan sejumlah pertanyaan mengenai pencapaiannya. Ia membantah klaim-klaim tersebut, sebelum akhirnya meninggal pada 14 Agustus.
Dalam pernyataan yang disampaikan atas nama keluarga oleh anggota parlemen Partai Buruh, Bell Ribeiro-Addy, pihak keluarga mengatakan “the public cruelty Jason was subjected to was too much for any man to bear”. Kalimat itu menjadi penanda utama bahwa mereka memandang perlakuan yang diterimanya terlalu berat.
Keluarga Arday juga menegaskan dampak yang ia tinggalkan pada orang-orang di sekitarnya. Mereka menyebut “What has become clear over the past 72 hours is the profound impact he had on people”.
Mereka berharap Arday dikenang bukan lewat kontroversi, melainkan melalui pribadi dan kontribusinya. Keluarga menambahkan agar ia diingat “for the wonderful person he was and all that he achieved”.
Pernyataan itu juga menekankan karakter Arday. “A selfless and gentle soul, he tirelessly uplifted others through his words and actions. His achievements were great and we do not want misrepresentations about his character to overshadow them,” ujar mereka.
Vigil, suasana, dan fokus protes
Vigil di pusat London ini diorganisasi oleh kelompok Stand Up to Racism. Sejumlah pembicara yang hadir menyampaikan penghormatan sekaligus mengeluhkan cara media memperlakukan Arday.
Panitia meminta peserta mengenakan warna hitam jika memungkinkan dan membawa bunga. Di tengah kerumunan yang diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 orang, banyak yang mematuhi permintaan tersebut meski acara diatur dalam waktu singkat.
Suasana di Trafalgar Square berjalan muram, namun juga menyimpan kemarahan yang mengendap. Fokus kemarahan diarahkan kepada media.
Anggota parlemen Partai Buruh Diane Abbott menyatakan bahwa Arday menjadi sasaran “a vicious and bitter media campaign”. Ia mengaitkan serangan itu dengan “people who didn’t believe a black man should be a Cambridge professor”.
Abbott juga menggambarkan bagaimana serangan tersebut, menurutnya, justru makin memburuk. “He must have felt that if he resigned, the attacks on him would stop. But in fact, they got even worse. “This was a campaign against all of us,” she added.
Lord Simon Woolley, kepala Homerton College di Universitas Cambridge, menuturkan bahwa saat bertemu Arday minggu lalu, Arday mengatakan ia merasa para kritikus “hounding me to death”.
Sementara itu, sineas dan aktivis Misan Harriman menilai pemberitaan telah melampaui batas. “The legacy media crossed every line in the treatment of Jason,” ujarnya, lalu menambahkan: “Imagine being so lost in the business of cruelty that you relish hurting another human for sport, with your own poison pen.” Harriman menutup dengan: “Jason should still be here today.”
Latar waktu kematian dan respons institusi
Berita Terkait
Arday ditemukan meninggal di sebuah alamat di London selatan pada 14 Agustus. Kejadiannya terjadi dua hari setelah Cambridge menyatakan akan menyelidiki situasi seputar penunjukannya.
Pada 5 Agustus, Cambridge menyebut akan menelaah klaim mengenai karier Arday, dan ia kemudian mengundurkan diri sebagai profesor sosiologi pendidikan di universitas tersebut. Arday juga menyatakan pengunduran diri itu tidak boleh dianggap sebagai penerimaan terhadap narasi yang menyelimutinya: “should not “be mistaken for an acceptance of the narratives that have surrounded me”.
Vigil pada Senin itu muncul bersamaan dengan respons publik yang berkembang. Lebih dari 90.000 orang menandatangani petisi Good Law Project yang meminta adanya penyelidikan menyangkut pemberitaan media tentang Arday.
Di sisi lain, seorang penasihat senior di Cambridge mengkritik “racist feeding frenzy” yang, menurutnya, terjadi di minggu-minggu sebelum kematian Arday.
Untuk pertama kalinya secara publik menanggapi polemik tersebut, Lord Chris Smith menyampaikan bahwa integritas akademik dapat ditegakkan sekaligus menguji perlakuan yang diterima Arday. Dalam pernyataannya, ia menyatakan: “I do believe it is possible to hold to two principles at the same time: to believe in the importance of academic integrity, and where criticisms of plagiarism arise, about any academic, whoever they are, ensure that they are rigorously investigated. “And also to refuse to join in a racist feeding frenzy over a particular academic.”
Pemerintah juga menahan diri dalam soal penyelidikan baru. Downing Street menolak menyatakan “at this stage” apakah Perdana Menteri Andy Burnham mempertimbangkan penyelidikan, sembari menekankan “a moment for reflection” dan bahwa keputusan mengikuti “the usual processes” seperti persidangan inquest.
Pengadilan London Inner South Coroner’s Court menyebut akan ada penyelidikan untuk menentukan penyebab kematian. Proses itu dapat memakan waktu beberapa pekan, dan setelah selesai, koroner akan memastikan apakah inquest akan digelar.
Politisi, tuduhan plagiarisme, dan konteks akademik
Sir James Cleverly, sekretaris bayangan urusan perumahan, mengatakan ia marah atas kejadian tersebut. Ia menilai pihak universitas—bukan hanya Cambridge—harus melakukan langkah pemeriksaan yang memadai, “done the robust due diligence and checking that should happen with any senior academic appointment”.
Dalam wawancara dengan BBC’s Today programme, Cleverly menilai Arday “used as “bragging rights by some universities”, dan bahwa publik kerap membicarakan “his “age and his ethnicity rather than his talent”.
Cleverly juga menyebut bahwa banyak pemberitaan mungkin didorong “quite possibly” oleh rasisme, namun menurutnya pertanyaan mengenai plagiarisme tetap perlu diuji secara serius, tanpa bergantung pada motifnya.
Polemik plagiarisme bermula setelah akademisi lain, Nathan Cofnas—yang menyebut dirinya “race realist”—mengatakan ia menemukan banyak contoh plagiarisme dalam karya profesor tersebut. Cofnas diberhentikan dari posnya di Cambridge pada 2024.
Ia menulis bahwa dalam meritokrasi sejati, orang kulit hitam akan “disappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainment”. Namun, unggahan Cofnas kemudian dihentikan di tengah reaksi balik.
Universitas Cambridge sendiri sebelumnya merayakan penunjukan Arday sebagai profesor kulit hitam termuda, saat ia diangkat pada 2023. Dalam konteks lebih luas, hanya 1% profesor di universitas-universitas Inggris yang berkulit hitam, sehingga setiap penunjukan dipandang signifikan.
Selain vigil di Trafalgar Square, pada Minggu lebih dari 200 orang juga menghadiri vigil di Cambridge. Acara tersebut diorganisasi oleh sebagian mahasiswa Arday.












