jurnalistik.co.id – Seorang akademisi yang sempat menuding profesor Cambridge almarhum, Jason Arday, melakukan plagiarisme, kini tidak lagi aktif menjalankan tugasnya di sebuah universitas di Belgia. Nathan Cofnas dilaporkan diskors dari jabatannya.
Skorsing ini muncul di tengah rangkaian polemik terkait tuduhan plagiarisme yang sebelumnya sudah berlangsung selama berminggu-minggu sebelum Arday meninggal pada 14 Agustus. Cofnas, yang menggambarkan dirinya sebagai “race realist”, termasuk pihak yang mempertanyakan karya dan capaian Arday.
Cofnas menyatakan dirinya tengah berada dalam penyelidikan Ghent University. Dalam keterangannya, ia mengatakan proses itu berkaitan dengan dugaan diskriminasi terhadap Arday.
Pihak universitas kemudian memberikan penjelasan atas tindakan yang diambil. Ghent University menyatakan seorang staf telah diberi tahu mengenai “preliminary disciplinary investigation” dan Cofnas disuspensikan sebagai langkah kehati-hatian.
Dalam pernyataan terkait kematian Arday, rektor Ghent University, Petra De Sutter, bersama wakil rektor Herwig Reynaert, menyampaikan bahwa mereka memandang pernyataan publik yang baru-baru ini disampaikan seorang peneliti pascadoktoral di Ghent University terkait perkara ini dengan sangat serius. Mereka juga menyebut telah mengambil “appropriate action”.
Universitas menegaskan komitmennya terhadap prinsip yang, menurut mereka, menjadi landasan ruang akademik. Mereka menyatakan Ghent University menjunjung tinggi “respect for human dignity” dan menolak “discrimination, hatred and racism”.
Selain itu, manajemen kampus menggarisbawahi pentingnya kebebasan akademik sekaligus batas-batasnya. Mereka mengatakan bahwa kebebasan akademik dan debat akademik yang terbuka tetap dinilai penting, termasuk ketika pandangan yang muncul bersifat kontroversial.
Namun, kebebasan itu tidak bersifat tanpa batas, menurut pernyataan kampus. “It goes hand in hand with responsibility and may be restricted in order to protect the rights of others,” demikian bunyi penegasan mereka.
Ghent University juga menyatakan bahwa kematian Arday hendaknya menjadi pemicu untuk “prompt reflection”. Mereka menambahkan perlunya pelajaran dipetik mengenai cara manusia saling memperlakukan satu sama lain, baik di dalam maupun di luar dunia akademik—terutama ketika seseorang menjadi pusat kontroversi publik.
Cofnas bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di departemen filsafat dan ilmu moral di Ghent University. Informasi itu ia tulis melalui situs pribadinya.
Riwayat keterlibatannya dalam perdebatan publik juga pernah memunculkan konsekuensi di Cambridge. Perannya di sebuah college di Cambridge dilaporkan berakhir pada 2024, menyusul reaksi publik terhadap pandangan Cofnas bahwa, dalam “true meritocracy”, orang kulit hitam akan “disappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainment”.
Berita Terkait
Dalam konteks sengketa Arday, Cofnas mengaku telah menelusuri tuduhan plagiarisme menggunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme. Ia menyatakan temuan program itu menunjukkan “many passages are lifted with minimal editing, sometimes retaining copy-editing mistakes from the original source”.
Menurut uraian yang beredar, kekhawatiran tambahan tidak hanya datang dari Cofnas. Ada seorang profesor yang sudah pensiun yang sebelumnya disebut pernah mengangkat persoalan terkait artikel ilmiah Arday setelah periode kontroversi tersebut.
Akibat dari kekhawatiran itu, dua jurnal dilaporkan mengeluarkan catatan koreksi. Dari situ, perdebatan seputar ketelitian dan keaslian karya Arday kembali mendapat sorotan.
Aturan diskusi yang memicu pertanyaan lain
Selain tuduhan plagiarisme, Arday juga menghadapi pertanyaan menyangkut klaim pencapaian olahraga. Sejumlah pihak mempertanyakan pernyataan Arday bahwa ia berlari 30 maraton dalam 35 hari.
Arday juga disebut mengklaim menempuh 300 mil dalam tiga hari untuk kegiatan amal, serta menyatakan bahwa aktivitas tersebut telah menghimpun lebih dari ÂŁ5 juta untuk donasi. Di waktu lain, ia juga ditanya mengenai klaim berlari 600 mil di treadmill selama enam hari.
Arday, yang menjadi profesor kulit hitam termuda di Cambridge pada 2023, kemudian menjalani sorotan luas selama berminggu-minggu setelah tuduhan dan pertanyaan itu muncul di media. Ia membantah klaim-klaim yang ditujukan kepadanya.
Jason Arday dilaporkan ditemukan meninggal di Battersea, wilayah selatan London. Dalam laporan yang sama, disebutkan ia telah mengundurkan diri sebagai profesor sosiologi pendidikan pada pekan sebelumnya.
Dengan adanya skorsing terhadap Cofnas, fokus kini bergeser pada bagaimana institusi pendidikan menangani sengketa yang melibatkan kebebasan akademik, tuduhan pelanggaran etika, serta dampak pernyataan publik yang berkembang di ranah kampus.
Bagi Ghent University, langkah terhadap Cofnas diposisikan sebagai bagian dari proses disipliner awal. Sementara itu, pihak kampus menekankan bahwa debat akademik harus berjalan terbuka, tetapi tanggung jawab tetap melekat, termasuk ketika sebuah isu menjadi konsumsi publik.
Dalam framing pernyataan resminya, kematian Arday juga disebut harus mendorong refleksi dan pembelajaran mengenai cara relasi dan perlakuan antarmanusia—termasuk dalam suasana yang memanas akibat kontroversi.












