Peristiwa

Cambridge Luncurkan Ulasan “decision-making and actions” untuk Dukungan bagi Jason Arday sebelum Kematian

×

Cambridge Luncurkan Ulasan “decision-making and actions” untuk Dukungan bagi Jason Arday sebelum Kematian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cambridge launches review into support for Jason Arday before death

jurnalistik.co.id – Universitas Cambridge mengumumkan adanya peninjauan independen terkait dukungan dan langkah-langkah yang tersedia bagi mantan profesor Jason Arday pada periode menjelang kematiannya. Pengumuman ini sekaligus memuat rencana evaluasi atas situasi yang lebih luas selama masa Arday di kampus.

Menurut keterangan universitas, peninjauan tersebut akan menilai “decision-making and actions”, dengan fokus pada apa yang bisa dilakukan untuk mendukung Arday sebelum ia meninggal. Cambridge juga menyatakan akan melihat konteks lebih luas dari waktu Arday di universitas.

Arday, 41 tahun, ditemukan meninggal di rumahnya di London pada 14 Agustus. Ia telah mengundurkan diri dari posisi profesor sosiologi pendidikan sekitar sepekan sebelumnya, setelah menghadapi sorotan intens terkait tuduhan plagiarisme. Ia membantah tuduhan tersebut, tetapi mengakui adanya kesalahan dalam pekerjaannya.

Wakil rektor (Vice-Chancellor) Prof Deborah Prentice menyampaikan bahwa waktu setelah kematian Arday menjadi “periode kesedihan dan refleksi mendalam” bagi universitas. Dalam pernyataannya, Prentice juga menuturkan bahwa Cambridge bekerja keras untuk mendukung Arday pada masa kritik eksternal yang “mengguncang” dan penuh perhatian publik.

Prentice menambahkan, kendati dukungan telah diberikan, universitas tetap mempertanyakan apakah mereka “dapat dan seharusnya” melakukan lebih banyak. Ia menegaskan, peninjauan ini diharapkan membantu menjawab pertanyaan tersebut secara terbuka dan terukur.

Cambridge mengatakan lewat unggahan media sosial bahwa University Council telah mengambil langkah yang dianggap perlu untuk meluncurkan peninjauan independen. Peninjauan itu diarahkan untuk mengidentifikasi kekurangan serta area perbaikan, baik pada aspek keputusan maupun tindakan yang diambil di internal universitas.

Bagian pertama: dukungan sebelum kematian

Berdasarkan rencana yang diumumkan, tahap awal peninjauan akan menelaah “support, interventions and protections” yang tersedia bagi Arday pada periode sebelum ia meninggal. Temuan tahap ini ditargetkan dilaporkan dalam waktu tiga bulan, sehingga rekomendasi untuk “tindakan mendesak” dapat dipertimbangkan dan diterapkan “tanpa penundaan”.

Tahap pertama akan dipimpin oleh Nazir Afzal, yang menjabat sebagai rektor Universitas Manchester serta mantan chief crown prosecutor untuk wilayah North West of England. Afzal menyatakan pentingnya menjalankan pekerjaan ini dengan “ketelitian dan kemanusiaan”. Ia juga menekankan perlunya keberanian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit.

Bagian kedua: konteks lebih luas masa Arday

Tahap berikutnya akan mengkaji keadaan yang lebih luas selama masa Arday di Cambridge. Peninjauan mencakup proses perekrutan staf akademik senior, serta pengaturan mentoring dan dukungan yang diterapkan. Universitas juga menyebut akan menilai bagaimana Cambridge merespons tuduhan adanya pelanggaran riset, termasuk dukungan yang disediakan bagi akademisi yang menghadapi “extraordinary public and media scrutiny”.

Cambridge menyatakan akan menunjuk ketua eksternal independen untuk memimpin tahap kedua. Peninjauan itu akan dibantu panel ahli, yang menurut pengumuman mencakup individu dengan pengalaman hidup (lived experience) agar sudut pandang yang dibutuhkan dapat hadir dalam proses evaluasi.

Universitas memperkirakan peninjauan tahap kedua akan selesai dalam waktu enam bulan setelah panel dibentuk. Dengan demikian, keseluruhan proses diharapkan menghasilkan rangkaian rekomendasi yang dapat diterapkan baik dalam waktu dekat maupun secara lebih menyeluruh.

Dalam pesan video, Prentice juga menyampaikan keprihatinannya terhadap dampak kematian Arday. Ia mengatakan kematian tersebut telah memengaruhi staf dan mahasiswa kulit hitam, serta komunitas dengan kondisi neurodiverse. Prentice menambahkan adanya kenaikan yang tidak dapat diterima atas serangan bernuansa rasis, kebencian, dan pelecehan terhadap staf dan mahasiswa, baik di forum daring maupun media sosial.

Prentice mengingatkan bahwa pada tahun 2023, Arday—yang saat itu berusia 37 tahun—menjadi profesor kulit hitam termuda yang pernah menjabat di Cambridge. Selama masa jabatannya, ia menghadapi tuduhan plagiarisme serta pertanyaan mengenai beberapa pencapaiannya. Arday membantah tuduhan tersebut, namun mengakui bahwa terdapat kesalahan dalam karya-karyanya.

Arday sebelumnya mengatakan sebagian kesalahan muncul karena kondisi autisme yang ia miliki. Ia menjelaskan bahwa ia mengandalkan penggunaan “mimicry” untuk memahami informasi. Ia juga menyatakan bahwa pemeriksaan serupa terhadap akademisi lain kemungkinan akan menemukan kesalahan yang sebanding dalam pekerjaan mereka.

Dalam laporan yang memuat konteks tuduhan, BBC menyebut bahwa tuduhan plagiarisme tersebut muncul setelah seorang akademisi—Nathan Cofnas—yang menyebut dirinya sebagai “race realist”. Cofnas, yang kemudian diberhentikan dari perannya di Cambridge pada 2024, mengatakan ia menemukan banyak contoh plagiarisme dalam karya profesor tersebut.

Setelah mengundurkan diri pada Agustus, Arday menulis bahwa serangkaian tuduhan tanpa henti, spekulasi, dan komentar publik telah menimbulkan beban yang mendalam baginya serta orang-orang yang ia cintai. Pernyataan itu juga menggambarkan dampak psikologis yang ia rasakan dari sorotan publik yang terus berlangsung.

Usai kematian Arday, keluarganya menyampaikan bahwa mereka “sangat terkejut” kehilangan sosok yang mereka sebut ayah, pasangan, saudara, paman, dan anak yang luar biasa. Keluarga juga menyebut kampanye disinformasi dinilai terlalu berat bagi Jason, menggambarkannya sebagai sosok yang lembut dan selalu ingin melihat yang terbaik pada setiap orang.

Beberapa waktu setelah kematian Arday, sebuah vigil yang digelar di Trafalgar Square dihadiri ribuan orang. Menurut penyelenggara, acara itu menarik perhatian besar dari publik. Di saat yang sama, muncul pula seruan agar dilakukan penyelidikan publik terkait pemberitaan media mengenai Arday sebelum ia meninggal.