Peristiwa

Petrus Leko Imbau Bantuan Tambahan Gempa Nagekeo Diprioritaskan untuk Area Paling Parah

×

Petrus Leko Imbau Bantuan Tambahan Gempa Nagekeo Diprioritaskan untuk Area Paling Parah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pasca-gempa Nagekeo, Kades Ululoga Imbau Prioritas Bantuan Tambahan Ditujukan ke Wilayah Parah

jurnalistik.co.id – Pasca-gempa Nagekeo, Kepala Desa Ululoga, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Petrus Leko, mengimbau agar bantuan tambahan diprioritaskan untuk wilayah yang kondisinya lebih parah.

Petrus mengatakan logistik di desanya terus menipis, sementara kerusakan rumah warga masih terjadi akibat gempa yang mengguncang wilayah Nagekeo.

Dalam keterangannya yang disampaikan Jumat (21/8/2026), Petrus menuturkan warga Desa Ululoga masih berupaya bertahan dengan memanfaatkan sisa bahan makanan yang ada.

Ia juga menyebut warga sementara menempati tenda darurat swadaya yang didirikan di depan rumah masing-masing.

“Kami masih bisa bertahan, dan jika ada bantuan lebih, mungkin bisa diarahkan ke korban lain yang kondisinya lebih parah seperti di Mbay. Prioritas di sana,” ujar Petrus saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Jumat (21/8/2026).

Petrus menambahkan, meskipun belum ada titik pengungsian resmi yang didirikan, warga Desa Ululoga sejauh ini telah menerima penanganan awal berupa 60 paket bantuan dari Presiden yang disalurkan kepada warga terdampak.

Ia memandang, tambahan dukungan yang datang kemudian akan lebih tepat diarahkan kepada area lain yang tingkat kerusakannya lebih berat.

Warga berteduh di tenda karena takut gempa susulan

Menurut Petrus, kondisi pemukiman di Desa Ululoga juga tidak luput dari dampak gempa. Sejumlah rumah warga retak dan rusak, memicu kekhawatiran di tengah warga yang masih menunggu kepastian situasi.

Karena takut ancaman gempa susulan, warga sepakat membangun tenda seadanya sebagai tempat berteduh.

“Di desa kami banyak rumah yang rusak dan retak, sehingga warga memilih membangun tenda seadanya di depan rumah karena takut dengan gempa susulan. Walau tidak ada korban jiwa yang meninggal, banyak warga yang mengalami trauma,” tutur Petrus.

Ia menegaskan tidak ada korban jiwa yang meninggal pada fase dampak awal tersebut, namun rasa trauma tetap menjadi beban yang dirasakan warga.

Selain tinggal di tenda darurat, warga terus mengatur aktivitas harian mereka dengan menyesuaikan kondisi bangunan yang mengalami kerusakan.

Air bersih terputus akibat longsor, pipa diperbaiki secara swadaya

Selain kerusakan rumah, warga juga menghadapi terputusnya jaringan pipa air bersih akibat material longsor pascagempa yang menimbun saluran.

Jaringan air itu, kata Petrus, tidak hanya dipakai oleh warga Desa Ululoga, tetapi juga menopang kebutuhan warga di beberapa desa tetangga.

Karena itu, warga memilih tidak menunggu bantuan sepenuhnya dan bergerak melakukan perbaikan secara mandiri.

Petrus mengatakan perbaikan pipa dilakukan sejak Kamis (20/8/2026) dan menjangkau jarak ratusan meter, meski harus dikerjakan di area jurang dengan tingkat kecuraman ekstrem.

“Puji Tuhan, kemarin titik yang rusak di medan yang sulit sudah bisa diatasi dan diperbaiki sekitar 200 meter. Hari ini akan disisir kembali,” kata Petrus.

Ia menguraikan bahwa pekerjaan perbaikan dilakukan langsung di medan yang berat, sehingga kemajuan dikerjakan bertahap sesuai kondisi lokasi.

Gempa susulan menghambat proses, warga bergantian mengawasi

Upaya swadaya itu tidak berjalan tanpa hambatan. Petrus menyebut ancaman gempa susulan terus mengintai, termasuk saat warga bekerja di tepi jurang.

Untuk mencegah timbulnya korban jiwa, warga membagi alur kerja agar pekerjaan dan pengawasan dilakukan secara bergantian.

“Kendalanya saat melakukan perbaikan adalah gempa susulan sehingga kami harus waspada. Ada yang sebagian warga kerja, sebagian mengawasi jika ada gempa susulan karena memang medannya yang sangat berat lewat jurang,” ungkap Petrus.

Pola kerja bergantian ini, menurut Petrus, diperlukan karena akses menuju titik perbaikan berada di area sulit sehingga setiap perubahan situasi harus segera diantisipasi.

Dengan cara tersebut, tim perbaikan tetap dapat melanjutkan pekerjaan, sementara tim pengawas memantau tanda-tanda bahaya selama proses berlangsung.

Biaya air ditanggung warga saat mata air belum pulih

Selama akses ke mata air utama belum pulih sepenuhnya, warga terpaksa mengeluarkan biaya pribadi untuk membeli air bersih dari tangki swasta.

Petrus menjelaskan kebutuhan ini terutama untuk air minum, sementara untuk mandi dan mencuci warga memanfaatkan sungai kecil di sekitar pemukiman atau menggunakan sisa penampungan air warga yang masih tersisa.

“Selama mata air tidak bisa diakses saat gempa, warga secara swadaya membeli air bersih 1.300 liter dengan harga Rp 100.000. Selain itu ada warga yang memanfaatkan air di bak-bak tampung milik warga yang masih berisi air bersih,” pungkas Petrus.

Dengan kondisi tersebut, beban pemulihan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan infrastruktur, tetapi juga menekan kemampuan ekonomi warga untuk tetap memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.