Peristiwa

3.759 Titik Panas Mengancam Kalbar, Kabut Asap Karhutla Turunkan Kualitas Udara

×

3.759 Titik Panas Mengancam Kalbar, Kabut Asap Karhutla Turunkan Kualitas Udara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 3.759 Titik Panas Mengepung Kalbar, Kabut Asap Karhutla Bikin Kualitas Udara Tidak Sehat

jurnalistik.co.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 3.759 titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat (Kalbar). Kondisi ini menjadi sinyal kuat meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Dalam rilis yang disampaikan melalui Satuan Tugas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel menuturkan penanganan karhutla terus diperkuat dengan menggabungkan operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara. Penetapan prioritas dilakukan berdasarkan tingkat kepercayaan data hotspot.

Daniel menyebut, “Dari ribuan hotspot tersebut, 224 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi, 3.389 titik tingkat kepercayaan menengah, sedangkan 146 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah,” katanya kepada wartawan pada Jumat (21/8/2026).

Ketapang tercatat sebagai daerah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi. Sebanyak 1.795 titik terdeteksi di wilayah itu, termasuk 81 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Selain Ketapang, hotspot juga terpantau di berbagai kabupaten/kota lain di Kalbar. Sanggau memiliki 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik.

Pemantauan kabut asap memengaruhi jarak pandang

Dampak karhutla mulai terasa di lapangan. Kabut asap bahkan sempat membuat jarak pandang berkurang hingga di bawah satu kilometer pada pagi hari di Ketapang dan Kubu Raya.

Daniel mengungkapkan bahwa penurunan jarak pandang terjadi akibat kabut asap tebal. “Jarak pandang sempat turun di bawah satu kilometer akibat kabut asap tebal di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya pada pagi hari,” ucap Daniel.

Kualitas udara tidak sehat terukur dari konsentrasi PM2.5

Selain mengganggu pandangan, kabut asap juga berdampak pada kualitas udara yang dinilai dari konsentrasi partikulat halus PM2.5. Di Jongkat, Kabupaten Mempawah, konsentrasi PM2.5 mencapai 148,8 mikrogram per meter kubik dan kualitas udara masuk kategori tidak sehat.

Pengukuran serupa juga tercatat di sejumlah titik lainnya. Di Sungai Tebelian, Sintang, PM2.5 tercatat 309,1 mikrogram per meter kubik, sementara di Sungai Raya, Kubu Raya, konsentrasinya mencapai 254,1 mikrogram per meter kubik.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa paparan asap tidak bersifat terpusat. Kenaikan konsentrasi PM2.5 di beberapa wilayah mempertegas perlunya respons cepat untuk menekan sumber titik api.

Operasi pemadaman dipusatkan hingga wilayah sulit dijangkau

Untuk mengantisipasi situasi yang berpotensi memburuk, BPBD Kalbar bersama BNPB, TNI, Polri, dan Manggala Agni memperkuat operasi pemadaman di sejumlah wilayah. Langkah yang ditempuh mencakup penjangkauan titik api yang sulit ditangani melalui jalur darat.

Helikopter water bombing dikerahkan ke lokasi karhutla di Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang hingga Sambas. Operasi dari udara diharapkan mampu mempercepat penanganan pada area yang memerlukan jangkauan lebih luas.

Selain pemadaman, pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan. Upaya ini menjadi salah satu strategi untuk membantu pemulihan kondisi lingkungan ketika kabut asap sudah mulai memengaruhi aktivitas harian.

Dengan jumlah hotspot yang masih tinggi serta distribusinya di beberapa kabupaten, penguatan koordinasi dan pelaksanaan operasi lintas instansi menjadi bagian penting dari upaya menahan laju kebakaran. Pemantauan data hotspot dan evaluasi dampak kualitas udara terus menjadi acuan agar penanganan dapat diarahkan lebih tepat sasaran.

Dengan rincian tingkat kepercayaan data yang terbagi menjadi kategori tinggi, menengah, dan rendah, BPBD Kalbar menata respons secara berjenjang. Penentuan prioritas tersebut dimaksudkan agar penanganan tidak menyebar, melainkan fokus pada lokasi yang datanya paling kuat mengindikasikan potensi titik api.

Sejumlah kabupaten yang tercatat memiliki konsentrasi hotspot juga menunjukkan bahwa sebaran gangguan tidak hanya berada pada satu area. Selain Ketapang, peringatan serupa turut muncul di Sanggau, Landak, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Melawi, sehingga upaya pemadaman perlu mengikuti pola sebaran data.

Pada saat yang sama, indikator kualitas udara yang diambil dari pengukuran PM2.5 memperlihatkan dampak asap pada banyak titik. Di Jongkat, hingga konsentrasi 148,8 mikrogram per meter kubik tercatat tidak sehat, sedangkan angka di Sungai Tebelian dan Sungai Raya juga berada pada tingkat yang tinggi, menguatkan kebutuhan tindakan cepat.