jurnalistik.co.id – Arsenal membawa pulang kemenangan 2-0 saat bertandang ke markas Sunderland, dan Mikel Arteta menutup malam itu dengan nada yang jauh dari tenang.
Di Stadion of Light, tim asuhan Arteta memperlihatkan dua wajah yang sama-sama menentukan: fondasi bertahan yang rapat, lalu kilatan kualitas ketika peluang muncul. Namun, jalannya laga sempat berbelok karena momen penalti yang nyaris mengubah ritme pertandingan.
Setelah hampir satu jam permainan berjalan keras dan penuh duel, Sunderland mendapat hadiah penalti. Wasit John Brooks menunjuk titik putih menyusul insiden ketika Ezri Konsa dinilai melakukan pelanggaran terhadap Dan Ballard di situasi tendangan sudut.
Arteta menyebut momen itu sebagai faktor yang “bisa” merusak momentum tim. Ia bahkan menilai penalti tersebut diberikan tanpa dasar yang seharusnya.
“It’s a judo roll from the opponent. Ezri [Konsa] does nothing. Just watch it,” Arteta mengatakan kepada BBC Match of the Day. Menurutnya, Arsenal seharusnya dilindungi oleh mekanisme permainan dan kontrol terhadap keputusan.
Arteta juga menambahkan, “We have a lot of cameras and VAR, we have to take responsibility to protect the game. Today the game was unprotected and it could have cost us the game and the momentum which is a really, really serious thing.”
Keputusan VAR pada akhirnya tetap mengarah pada penalti. Konsa memang terlihat melakukan pelanggaran, meski Ballard dinilai sempat menahan pemain Arsenal sebelum keduanya jatuh bersamaan.
“This should never happen, it’s not fair, and I am sad, very sad, in that sense,” ujar Arteta. Pelatih asal Spanyol itu juga sempat mendapat kartu kuning pada babak pertama karena berulang kali meninggalkan area teknis.
“I’m making it very clear publicly because it’s for the game, it’s not only for Arsenal , this cannot happen at this level. “It’s not acceptable, I’ve watched it 20 times and can’t think of why it was given.”
Pada musim ini, wasit Premier League memang mendapatkan arahan untuk menindak aksi grappling di situasi tendangan sudut. Pembahasan mengenai bagaimana kontak fisik dibaca dalam aturan kembali mencuat, terutama setelah musim sebelumnya memunculkan perdebatan serupa.
Karen Carney, mantan gelandang timnas Inggris, mengatakan di TNT Sports, “With the new laws trying to get rid of the grappling, Konsa is all over Ballard. You have to be looking at the ball.” Ia menegaskan bahwa penilaian harus mengutamakan konteks bola, bukan sekadar kontak yang terlihat.
Senada, Martin Keown menambahkan, “Ballard was holding Konsa’s arm but you run the risk.” Menurutnya, pendekatan terbaru memang ditujukan untuk menekan tindakan yang sering berujung perselisihan di area sudut.
Sementara itu, Ashley Williams bahkan menyampaikan kritik yang lebih tegas lewat BBC Match of the Day. Ia mengatakan, “It’s absolutely not a penalty. He has got it completely wrong, Konsa’s shoulder is pulled down by Ballard and he lands on top,” lalu melanjutkan, “It’s like a perfect toss in judo. It’s very clever by Ballard but in no way is it a penalty.”
Penjaga gawang tetap jadi penentu
Di tengah kemarahan soal keputusan, upaya David Raya di momen penalti menjadi titik balik yang nyata di lapangan. Raya menepis sepakan Enzo le Fee, yang mengarah ke tiang, sebelum bola memantul dan mengubah arah laga.
Penjagaan itu bukan sekadar penyelamatan rutin. Itu adalah hanya kali kedua Raya menghentikan penalti di Premier League, dan datang pada saat Sunderland sedang menekan juara bertahan.
Meski arah sepakan terlihat seperti sudah ditelegrapikan, Raya tetap harus berada dalam posisi terbaik. Ia mengubah momentum yang sempat mengancam Arsenal, mengembalikan kendali pertandingan ke tangan tim tamu.
Berita Terkait
Bruno Guimaraes mengakui dampak psikologis dari momen itu. Ia mengatakan kepada TNT Sports, “He keeps us alive in the game, that unbelievable moment saving the penalty,” dan ia menambahkan, “I think after this moment we [took from it] a big confidence to play forward and score our goal.”
Thomas Frank—mantan pelatih Brentford yang sempat menandatangani Raya—juga memberi pujian serupa lewat BBC Match of the Day. “This penalty save is exceptional. He gets out so quick,” tuturnya, sebelum menyebut, “For me he’s the best goalkeeper in the Premier League and one of the best in the world.”
Keown menilai Arsenal berhasil mengunci kemenangan berkat kerja bersama, terutama di fase krisis. “It is a fantastic win and the ground work was done by the defence. They have weathered the storm and the goalkeeper steps up and makes a wonderful save,” ujarnya.
Ia menekankan peran Raya dalam ritme tim, dengan menyebut, “He is very important to Arsenal and what they achieve. He was magnificent and doesn’t get the credit he deserves.”
Di sepanjang musim, fondasi itu terlihat dari catatan performa Arsenal. Mereka memulai musim ini dengan lima clean sheet dalam enam pertandingan di seluruh kompetisi, termasuk tiga laga tandang terakhir.
Arteta sendiri memilih memusatkan pembicaraan pasca-laga pada bagaimana tim melewati fase chaos. Ia mengatakan, “We knew we would have to go through some difficult and chaotic moments to have the right to win this game,” lalu menegaskan, “But we have done it.”
Guimaraes mengunci dengan gol dan karakter
Setelah penalti itu buyar, Arsenal tak membiarkan Sunderland memulihkan kendali. Justru, hanya sedikit waktu setelah momen genting, Bruno Guimaraes menjadi sosok yang mengubah jalannya laga menjadi lebih pasti.
Menurut kronologi pertandingan, sekitar just over two minutes setelah penyelamatan Raya, Guimaraes mencetak gol pembuka. Ia menuntaskan peluang dengan menabrak bola ke gawang dari bawah mistar, membuat skor berubah menjadi 1-0.
Gol itu juga dipuji sebagai kandidat terbaik musim ini. Guimaraes memamerkan eksekusi melengkung dari tepi kotak penalti, sebuah usaha yang tidak hanya menambah angka, tetapi juga menegaskan kualitas yang ingin dibawanya sejak bergabung.
Meski begitu, awal musim pemain asal Brasil itu tidak mulus sepenuhnya. Sejak pindah musim panas dari Newcastle dengan mahar £75m, ia sempat menjalani fase sulit untuk menjadi starter, bahkan belum memulai pertandingan sejak Community Shield.
Belakangan ia pulih dari cedera hamstring ringan. Saat pemulihan selesai, malam di Sunderland menjadi ruang untuk memperlihatkan nilai yang bisa ia tawarkan.
Keown menggambarkan gol tersebut sebagai pesan karakter. Ia menuturkan, “That goal is about personality and character. It was him saying: I am going to make my mark at this football club,” dan menambahkan, “He has been watching on the sidelines, but has said: ‘Take a look at me – this is what I can do.’ “
Keown juga merangkum reaksi yang ditimbulkan gol itu, “Boy did he shut the crowd up. A class player, going to the next level.”
Menariknya, Guimaraes memilih laga yang sarat simbol untuk mulai “mengumumkan” dirinya. Ia melawan rival lamanya, Newcastle, dan ia menyampaikan makna personal dari gol tersebut kepada TNT Sports.
“It was a beautiful goal. Everyone knows my past, I had an amazing history at Newcastle ,” kata Guimaraes. Ia kemudian menutup dengan orientasi baru, “But now I’m trying to create a new history here and I start with the right foot.”
Dengan kombinasi pertahanan yang bertahan kuat serta penyelesaian yang tepat di momen penting, Arsenal pada akhirnya tetap menjaga rute menuju kemenangan. Meski pertandingan sempat diwarnai kontroversi penalti, hasil tetap berpihak pada Gunners.
Kemenangan 2-0 ini membawa Arsenal meninggalkan Inggris timur laut dengan catatan sembilan kemenangan beruntun di Premier League. Tidak ada lagi pencapaian serupa sejak era Invincibles pada 2003-04—sebuah catatan yang menunjukkan konsistensi, sekaligus alasan mengapa Arteta begitu kesal saat satu momen hampir menggeser arah permainan.












