Olahraga

Piala Dunia 2026: Kartu merah Folarin Balogun dicabut, sistem sanksi dipertanyakan

×

Piala Dunia 2026: Kartu merah Folarin Balogun dicabut, sistem sanksi dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Balogun decision leaves red card system in disarray

jurnalistik.co.id – Pembatalan kartu merah Folarin Balogun langsung memicu kegaduhan baru di Piala Dunia 2026. Keputusan yang secara efektif “mengembalikan” larangan bermainnya itu membuat banyak orang bertanya-tanya soal konsistensi aturan sanksi.

Balogun sempat dikartu merah saat Amerika Serikat menyingkirkan Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar. Dengan pencabutan tersebut, dia kini tersedia untuk tampil di 16 besar melawan Belgia pada Senin.

Peran Balogun juga krusial dalam perburuan gol bagi timnya. Ia tercatat sebagai pencetak gol terbanyak utama Amerika Serikat di turnamen ini dengan tiga gol.

“Kepastian” kartu merah yang selama ini dipegang

Dalam sejarah Piala Dunia, kartu merah memang bukan hal langka. Tercatat ada 189 kartu merah sepanjang sejarah Piala Dunia, dan hanya dua pemain yang tidak menjalani skorsing setelah mendapat kartu merah.

Kasus lain yang disebut terjadi pada 1962, saat Garrincha dari Brasil dikartu merah saat semifinal melawan Chile, tetapi tetap bisa bermain di kemenangan final kontra Czechoslovakia. Namun kala itu, mekanismenya belum memakai sanksi otomatis; keputusan diambil oleh komite setelah menilai bukti yang disampaikan oleh ofisial.

BBC menyoroti bahwa keputusan komite pada 1962 sempat diselimuti tuduhan campur tangan politik. Kedekatan hubungan Gedung Putih dan FIFA pun menjadi bahan pertanyaan, terutama karena keputusan yang tidak biasa itu justru menguntungkan tuan rumah bersama.

Media mitra BBC di AS, CBS News, menyebut pemulihan kartu merah Balogun terjadi setelah Presiden Donald Trump menelepon Gianni Infantino pada Kamis untuk membahas skorsing tersebut. Informasi itu dikatakan berasal dari sumber yang mengetahui percakapan panggilan tersebut.

Di tengah cerita itu, pertanyaan yang muncul bukan hanya “mengapa” kasus Balogun bisa dibatalkan, tetapi juga apakah keputusan seperti ini akan membentuk preseden. Publik juga menyoroti perbedaan perlakuan: Balogun mendapat keringanan, sementara 11 pemain lain yang dikartu merah di Piala Dunia 2026 harus menjalani skorsingnya sesuai aturan.

Selain soal preseden, ada kekhawatiran keputusan seperti ini bisa memicu upaya serupa untuk memangkas skorsing. Ketidakpastian itu muncul meski kartu merah pada dasarnya dinilai layak diberikan menurut aturan permainan.

FIFA tidak memberi alasan, tapi merujuk “Pasal 27”

Pertanyaan terbesar kemudian menyasar cara FIFA menjalankan proses disiplinnya. Kode disiplin FIFA menyebut Balogun seharusnya menerima larangan minimal dua pertandingan untuk “serious foul play”.

Sementara itu, aturan Piala Dunia tidak menyediakan ruang bagi tim untuk mengajukan banding atas kartu merah. Tetapi pernyataan FIFA setelah keputusan justru tidak memuat penjelasan rinci, hanya menyebut merujuk “article 27 of the Fifa disciplinary code”.

Pasal 27 memberi FIFA wewenang untuk menangguhkan sepenuhnya atau sebagian penerapan ukuran disiplin. BBC menjelaskan bahwa aturan ini tergolong luas dan memungkinkan FIFA membuat keputusan tanpa harus memenuhi kriteria tambahan apa pun.

BBC juga menegaskan Pasal 27 tidak pernah dipakai pada Piala Dunia sebelumnya. Di sisi lain, skorsing Balogun yang ditangguhkan hanya berlaku untuk satu pertandingan, padahal kode disiplin menyebut “at least two”. Tidak ada uraian publik tentang perbedaan itu.

BBC Sport mengajukan pertanyaan mengenai alasan tersebut, tetapi tidak mendapatkan penjelasan. Laporan itu menyebut FIFA hanya mengarahkan publik ke kasus skorsing Cristiano Ronaldo yang sempat ditangguhkan sebelum turnamen.

Menurut kode disiplin FIFA, Ronaldo seharusnya menerima skorsing tiga pertandingan karena tindakan melukai Dara O’Shea dengan siku saat Portugal kalah 0-2 pada pertandingan kualifikasi melawan Republik Irlandia di bulan November. Ia menjalani satu pertandingan dalam kualifikasi terakhir melawan Armenia, lalu dua pertandingan sisanya ditangguhkan.

Perbedaan yang ditekankan BBC adalah kartu merah Ronaldo terjadi dalam kualifikasi, bukan saat pertandingan Piala Dunia. BBC juga menulis bahwa ada banyak contoh pemain mendapat pelonggaran sebelum turnamen, termasuk Laurent Koscielny pada 2014, serta Moises Caicedo dan Nicolas Otamendi sebelum Piala Dunia ini.

Dalam kasus Ronaldo, setidaknya ada penjelasan. FIFA menyebut mempertimbangkan bahwa “he had no red cards in his other 225 international appearances”. Namun, untuk Balogun, informasi serupa tidak diberikan sehingga muncul “kekosongan” yang hanya membuka ruang spekulasi.

Karena itu publik bertanya faktor apa yang benar-benar dinilai, siapa yang mengambil keputusan, dan mengapa ini dianggap kasus khusus. BBC menyebut tidak ada indikasi bahwa wasit meminta skorsing dicabut atau bahwa protokol VAR tidak dihormati.

BBC juga mencatat di Inggris, Football Association akan mempublikasikan alasan tertulis lengkap. Amerika Serikat disebut punya hak untuk meminta FIFA memublikasikan alasan, sementara Belgia tidak.

Mantan pemain Inggris Micah Richards, yang juga pundit BBC, menilai keputusan itu sebagai “farce”. Ia mengatakan, “To have it suspended for a year makes a mockery of the whole tournament,” dan “It is to keep the big stars in the competition. How can that happen? Fifa needs to do better.” Richards menambahkan, “It has left a bad taste in a lot of people’s mouths.”

Belgia bereaksi keras: mereka menyebut ada pertentangan aturan

Belgia sendiri menyatakan kemarahannya. Asosiasi sepak bola Belgia mengeluarkan pernyataan pada Minggu yang menyebut mereka “astonished” karena Balogun dibolehkan kembali untuk bermain.

Dalam penjelasannya, federasi Belgia merujuk berbagai peraturan, paparan lokakarya, dan pertemuan koordinasi jelang turnamen. Mereka menilai keputusan itu bertentangan dengan regulasi turnamen yang menyatakan pemain “will automatically be suspended from their team’s subsequent match”.

Dengan kata lain, Belgia menilai FIFA menggunakan kode disiplin untuk mengesampingkan aturan kompetisi. Pelatih kepala Belgia, Rudi Garcia, lalu berbicara lebih jauh dengan sindiran yang menekankan perubahan yang terasa mendadak.

Garcia berkata, “I didn’t know that [at] the Fifa World Cup 5 July is now 1 April, and that is April Fool’s.” Ia menambahkan, “We are not defending the national team or the federation, we’re defending football.”

Dari sudut pandang kompetisi, muncul pula pertanyaan tentang apa yang sedang dipikirkan pemain lain yang juga dikartu merah sepanjang turnamen ini. Salah satu contoh yang disebut BBC datang dari Qatar melalui Assim Madibo.

Madibo terlibat dalam insiden yang berujung patah tulang bagi gelandang Kanada Ismael Kone. BBC menulis ada kasus cedera yang terjadi bukan karena duel yang “direncanakan”, melainkan sebagai kejadian yang kebetulan.

Meski demikian, FIFA memberikan Madibo skorsing lima pertandingan, termasuk tambahan tiga laga dari hukuman standar untuk “serious foul play”. Perbandingan itu membuat banyak pihak mempertanyakan konsistensi penerapan hukuman.

Apakah keputusan Balogun berarti “preseden untuk kecelakaan”?

Balogun sendiri, menurut BBC, dinilai membuat kartu merah itu beralasan. Penyerang tersebut menantang Tarik Muharemovic, dan secara tidak sengaja menurunkan kakinya ke pergelangan kaki pemain Bosnia itu.

BBC menegaskan, “Harsh does not mean it was an incorrect decision,” dan tindakan keras tidak otomatis berarti keputusan keliru. Laporan itu juga menekankan bahwa kerasnya tindakan tidak berarti FIFA “wajib” melangkah karena dianggap “terlalu egregious”.

Debat lalu mengarah pada konsekuensi aturan: apakah FIFA perlu mencabut skorsing ketika kartu merah muncul dari tindakan yang tidak disengaja. Pelatih-pelatih, menurut BBC, akan mengajukan argumen bahwa preseden sudah terbentuk sehingga seharusnya ada konsistensi.

BBC mengingatkan bahwa niat sempat dikeluarkan dari hukum bertahun-tahun lalu. Yang seharusnya dipertimbangkan, menurut rujukan laporan itu, adalah hasil dari tantangan.

Contoh yang diangkat adalah kartu merah Xavi Simons saat melawan Liverpool pada Desember lalu. BBC menulis Simons tidak bermaksud menginjak bagian belakang kaki Virgil van Dijk, tetapi keputusan menilai tindakannya membahayakan keselamatan lawan.

Thomas Frank saat itu menyesalkan skorsing otomatis tiga pertandingan, tetapi klub memutuskan tidak mengajukan banding karena menilai peluang keberhasilan kecil. Dengan demikian, perbandingan kasus Balogun memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai konsistensi keputusan.

Keputusan Balogun juga menambah kegelisahan di liga domestik. BBC menyebut bahwa ketiadaan banyak kartu kuning, sebagian implementasi VAR, serta interpretasi aturan baru membuat penerapan di level liga sulit disamai, sehingga publik akan menunggu perlakuan yang sama.

Namun, laporan itu menilai pembatalan skorsing Balogun justru membuat standar terasa lebih sulit dipahami dan diikuti oleh banyak pihak.

Kaitannya dengan Trump: dari panggilan telepon hingga keputusan komite

Salah satu pertanyaan yang paling sensitif adalah keterlibatan Donald Trump dalam proses tersebut. BBC menuliskan bahwa larangan banding merupakan pilar salah satu proses disiplin FIFA, sehingga tidak ada mekanisme banding yang dapat diajukan setelah keputusan dibuat.

Karena itu, publik bertanya mengapa FIFA menciptakan ruang khusus untuk bintang tuan rumah bersama setelah kartu merah dan skorsing memicu kegemparan di Amerika Serikat. BBC juga menyebut sejumlah klaim di AS bahwa Balogun menerima “double punishment”.

Yang dimaksud adalah harus absen pada satu pertandingan dan hampir sepertiga pertandingan lain. Rinciannya adalah kehilangan 27 menit terakhir saat melawan Bosnia, serta pertandingan melawan Belgia.

Media dan komentator di AS menyebut itu tidak adil. Secretary of State Marco Rubio bahkan mengungkapkan AS “got screwed with that red card” dan bahwa “there needs to be an appeal process” pada hari Jumat.

BBC menulis bahwa tidak ada ekspektasi FIFA tiba-tiba memberi dispensi khusus agar Balogun bisa bermain. Secara praktis, laporan itu menggambarkan Balogun seperti menjalani “sin-bin” saat menghadapi Bosnia, lalu kini bebas bermain lagi.

Menurut sumber CBS News, Trump berbicara langsung dengan Infantino dalam percakapan singkat. Infantino kemudian menyampaikan bahwa komite disiplin FIFA akan menelaahnya, menurut salah satu sumber tersebut.

Andrew Giuliani, eksekutif direktur dari White House World Cup task force, disebut juga ikut menghubungi Infantino. BBC menambahkan bahwa Secretary of Commerce Howard Lutnick turut berkomunikasi dengan FIFA terkait situasi ini.