Olahraga

Piala Dunia 2026: Lamine Yamal jadi bukti mengapa ini bisa jadi Piala Dunia bagi dirinya

×

Piala Dunia 2026: Lamine Yamal jadi bukti mengapa ini bisa jadi Piala Dunia bagi dirinya

Sebarkan artikel ini
Yamal shows why this could be his World Cup
Ilustrasi: World Cup 2026: Spain's Lamine Yamal shows why this could be his World Cup

jurnalistik.co.id – Lamine Yamal langsung menjadi pusat perhatian ketika Spanyol kembali menjalani pertandingan Piala Dunia, dan pengaruhnya terasa bahkan sebelum bola benar-benar menyentuh permainannya.

Pada laga di Atlanta Stadium, ia kembali dalam posisi yang sempat dibayangi pemulihan cedera hamstring yang ia alami pada April. Luis de la Fuente sebelumnya menegaskan bahwa menit-menit singkat yang ia mainkan saat Spanyol mengalami hasil imbang tanpa gol melawan Cape Verde—hanya 19 menit—merupakan bagian dari rencana yang lebih panjang.

Kali ini, Yamal cukup bugar untuk memulai pertandingan melawan Arab Saudi. Dampaknya muncul seketika: bahkan sebelum sentuhan pertamanya, stadion sudah seperti “berubah nada” karena ribuan pendukung datang dengan nama Yamal di punggung mereka.

Spanyol yang semula menjanjikan permainan dengan keberanian, kecepatan, dan rasa tanpa takut, justru tampil paling agresif sejak awal. Yamal menjadi titik paling hidup dalam serangan, membuat permainan bergerak lebih langsung dan penuh keyakinan. Hasilnya jelas: Spanyol menghancurkan Arab Saudi dengan skor 4-0.

“You can give a bit of advice but when you see a player like this with the confidence and freedom, he can create a lot of things that I couldn’t teach,” kata Cesar Azpilicueta, rekan setim Yamal di Spanyol, seperti yang ia sampaikan di Match of the Day. Ia menambahkan, “When he is on the pitch he knows how to create chances, take on defenders and where to get the ball. From there, he is growing every single game.”

Ketika gol pembuka datang, momen itu terasa sepenuhnya “miliknya”. Umpan silang rendah melintas ke area gawang, dan Yamal tiba di tiang belakang untuk mengonversi bola dengan slide dan mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Stadion Atlanta pun meledak—penonton bersorak, menari, dan meneriakkan namanya.

Guillem Balague, yang berbicara di 5 Live, menggambarkan cara Yamal melangkah keluar sebelum pertandingan: “Is it arrogance? Or confidence? A mixture of both. He is the chosen one, he wants to be the chosen one. He is so happy in the role he is taking on as leader of the team. He told me once that his joy when he plays football is seeing the same reaction when he used to play five-a-side.”

Gol itu juga mengukuhkan catatan statistik yang jarang terjadi. Yamal menjadi pemain ketujuh dalam sejarah yang mampu mencetak gol di Piala Dunia sebelum usianya genap 19 tahun. Ia juga menjadi pemain kedua yang berusia 18 tahun atau lebih muda untuk membuka skor dalam sebuah pertandingan—dan catatan sebelumnya milik Pelé, yang saat berusia 17 tahun mencetak pembuka gol Brasil melawan Wales pada 1958.

Wayne Rooney memberi pujian yang menempatkan Yamal dalam garis tradisi kerja keras para bintang besar. “For Messi and Cristiano Ronaldo, the application and dedication they’ve had is the reason they are both playing in this World Cup,” kata Rooney di Match of the Day. “They have done everything right. Hopefully Yamal can do that. What is really impressive to me is when Messi came in to that Barcelona team, there was some top players and a crossover with Ronaldinho. [Yamal] has come in to the Barcelona and Spain team and it is his team, he is the main man. Everyone is looking to him to win. [He was] a big part of winning the Euros and will be a big part of this World Cup. That is what really impresses me, he is taking the pressure on at such a young age. You hope he can do that for the next 15, 20 years.”

Setelah nada permainan diatur oleh Yamal, Spanyol terus menambah daya ledak. Mikel Oyarzabal mencetak dua gol dalam jeda waktu yang cepat, menutup fase awal yang sangat mencolok. Dengan dua gol dan satu assist, ia menjadi pemain kedua sejak 1966 yang terlibat langsung dalam tiga gol dalam 25 menit pembukaan sebuah pertandingan Piala Dunia.

Perbandingan dengan pertandingan melawan Cape Verde sebelumnya tidak bisa lebih tajam. Saat itu, Yamal sempat melalui 30 menit pertama tanpa satu pun sentuhan—dan ia menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mengalami pola tersebut. Namun, pada laga melawan Arab Saudi, dominasi Spanyol tercermin di papan skor, seolah mereka sedang menampilkan wujud tim juara Eropa.

Yamal sendiri menyelesaikan perannya sebelum waktu istirahat. Ia ditarik pada jeda babak karena langkah kehati-hatian, mengingat masih ada satu laga fase grup tersisa melawan Uruguay. Thomas Frank juga menyoroti aspek mental dan gaya bertahan Yamal dalam tempo tinggi, sekaligus persoalan kerendahan hati yang akan terus diuji. “Lamine Yamal always wants the ball. The determination and application to keep playing at the highest level, but also how can he stay humble enough when he knows everyone is saying he is the new coming superstar. How can you stay humble enough? That is going to be the big thing.”

Spanyol akan terus mengatur kebugaran Yamal dengan teliti. Sebab, bila ia sepenuhnya fit, pengaruhnya bisa menjadi faktor penentu. Dan saat usianya menuju 19 tahun, final Piala Dunia sudah tidak sampai seminggu lagi—pertanyaan yang kini menggantung adalah apakah Yamal akan menjadi alasan Spanyol benar-benar sampai ke sana.