Olahraga

Newcastle Rekrut Matthias Jaissle, 38 Tahun—Apa yang Akan Dibawa Usai Eddie Howe?

×

Newcastle Rekrut Matthias Jaissle, 38 Tahun—Apa yang Akan Dibawa Usai Eddie Howe?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Newcastle appoint Matthias Jaissle: What will new manager bring to club?

jurnalistik.co.id – Newcastle United resmi menunjuk Matthias Jaissle sebagai pelatih kepala pengganti Eddie Howe. Pria berusia 38 tahun itu menandatangani kontrak empat tahun, hingga 2030, dan harus segera membuktikan diri di panggung Premier League yang kompetisinya tidak memberi ruang untuk belajar terlalu lama.

Persiapan Jaissle bergerak cepat sejak ia tiba di kamp pramusim Newcastle di Spanyol pada akhir pekan. Pengumuman penunjukan kemudian disampaikan secara resmi pada hari Rabu, setelah proses yang berjalan tanpa banyak jeda untuk transisi menuju musim baru.

Salah satu sumber menyebut tantangan yang menanti tidaklah ringan. “It won’t be easy to succeed Eddie [Howe],” begitu pernyataan itu, yang sekaligus menggambarkan besarnya standar yang diwariskan Howe kepada tim.

Dengan gaya rekrutmen Newcastle yang sebelumnya juga melibatkan pemain muda dari benua lain, ada pula unsur risiko dalam memilih pelatih yang belum pernah merasakan kompetisi Premier League. Itu sebabnya, Jaissle datang dengan sorotan sekaligus harapan, karena ia akan diuji pada liga top Eropa yang karakter permainannya berbeda.

Debut kompetitif Jaissle bersama Newcastle dijadwalkan menghadapi Liverpool pada Minggu, 23 Agustus. Jadwal itu menjadi tonggak pertama yang menentukan apakah visi serta pendekatan latihan yang ia bawa bisa diterjemahkan dalam waktu singkat ke performa di lapangan.

Proses adaptasi awal juga ditekankan dari aspek budaya klub. Sumber yang sama menambahkan bahwa Jaissle diharapkan memahami apa arti Newcastle bagi komunitasnya secepat mungkin, dan “That’s what he will live by.”

Warisan Howe dan perubahan komposisi skuad

Howe sendiri membangun standar dengan cara yang langsung terasa bagi Newcastle. Ia mengambil alih ketika tim sedang berada dalam situasi genting terkait degradasi, lalu berhasil memastikan bertahan di kompetisi tertinggi, sebelum kemudian mengakhiri penantian panjang gelar dengan menjuarai Piala EFL pada 2025.

Selain itu, Howe juga membawa Newcastle tampil di Liga Champions pada beberapa kesempatan. Namun, musim domestik terakhir justru menjadi periode yang berat, karena Newcastle finis di posisi ke-12.

Keputusan Howe untuk mundur juga datang di tengah dinamika perpindahan pemain yang signifikan. Ia menyaksikan Alexander Isak, Sandro Tonali, dan Anthony Gordon meninggalkan klub dalam satu tahun, dan kini Newcastle juga bersiap kehilangan pemain penting keempat, yakni kapten Bruno Guimaraes yang akan bergabung dengan Arsenal.

Dalam konteks itu, Jaissle disebut memikul mandat untuk memulai siklus baru—mengembangkan pemain sekaligus menghadirkan performa yang mampu mengungguli klub-klub dengan biaya gaji lebih besar. Harapannya, prinsip kerja yang ia terapkan bisa menjadi kerangka yang mempersatukan skuad di fase transisi ini.

Jaissle juga akan berhadapan dengan tuntutan tinggi dalam sesi latihan. Mantan gelandang Salzburg, Zlatko Junuzovic, mengungkapkan bahwa Jaissle tidak ragu menegur secara langsung jika ada pemain yang tidak memberikan usaha maksimal. “We did lots of small-sided games to keep the intensity high and if someone had not been giving their all, he called them out on it,” demikian penuturannya.

Pelatihan, komunikasi, dan tantangan mengubah generasi

Periode awal Jaissle di Newcastle berarti ia harus cepat mengenal kelompok pemain baru dan pemain lama yang punya kebiasaan kerja serupa dari era Howe. Di saat bersamaan, ada pula rekrutan muda yang ingin menyerap prinsip-prinsip pelatih kepala terbaru.

Selain Jaissle sendiri, ia juga membawa staf pelatih dan analis yang bertugas mempercepat penyampaian pesan serta detail metode kerjanya. Salah satu contoh yang relevan datang dari Merih Demiral, yang mengenal pendekatan itu dari masa-masa di Al-Ahli.

Demiral menilai rutinitas latihan harian menjadi hal penting. Ia menambahkan, “Looking forward to going to training every day was so important. They paid great attention to every detail and always made sure we were fully prepared.”

Ia juga menyebut keberhasilan tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh tim kerja yang dibangun di sekitar pelatih. “Matthias has built a really strong team around him and they played a huge role in our success,” kata Demiral.

Sementara rata-rata usia skuad dinilai turun secara cukup signifikan musim panas ini, Jaissle tetap diharapkan bergantung pada figur berpengalaman di ruang ganti. Di antaranya, Dan Burn dan Fabian Schar disebut akan menjadi kepala-kepala penting yang bisa membantu menjaga stabilitas dan memastikan transisi berjalan terarah.

Pengalaman Jaissle juga mengajarkan bahwa kedewasaan perlu dipahami dalam konteks tim muda. Saat ia memimpin Salzburg, ia merupakan beberapa bulan lebih muda daripada Junuzovic ketika mengambil alih pada 2021, tetapi tetap menantang sang gelandang untuk membuktikan diri.

Junuzovic menuturkan bahwa Jaissle “challenged” dirinya untuk meningkatkan permainan agar mendapatkan tempat di starting line-up, dan ia “kept his word” saat kepercayaan itu berubah menjadi peluang yang nyata. Junuzovic juga menyebut, “He understands the players’ language,” yang memperkuat gambaran bahwa Jaissle mampu mengikat hubungan komunikasi dengan pemain.

Gaya permainan: benang merah tekanan dan ancangan yang adaptif

Untuk memahami apa yang mungkin terjadi di Newcastle, menarik melihat prinsip yang dipakai Jaissle dalam karier kepelatihannya. Ia disebut menggunakan formasi 4-4-2 dengan tekanan tinggi ketika lawan membangun serangan dari belakang.

Walau tim kemudian terpaksa berada pada mid-block, Jaissle masih memperlihatkan kemampuan membaca waktu yang tepat untuk maju lagi, lalu beralih menjadi pressing tinggi secara kolektif. Intinya, transisi menjadi high press terjadi bukan sekadar reaksi, melainkan koordinasi yang dipahami bersama.

Howe, sebagai pendahulunya, memiliki benang merah prinsip yang mirip. Analisis menyebut Howe juga berangkat dari pembangunan tim berbasis intensitas fisik, pressing, serta serangan yang langsung. Karena itu, taktik defensif ala Howe dinilai berpotensi selaras dengan gaya Red Bull dalam menekan.

Keselarasan itu dianggap dapat memudahkan pemain untuk “membeli” metode Jaissle, setidaknya dari sisi struktur kerja saat tim kehilangan bola. Namun, ada catatan yang muncul di akhir masa jabatan Howe: ia dikritik karena kurang adaptif ketika kebutuhan perubahan taktik semakin mendesak.

Di sinilah ujian Jaissle menjadi lebih besar. Premier League adalah liga yang terus bergerak, sementara pelatih lain merancang counter-measure terhadap taktik yang dianggap bekerja di pekan tertentu. Jika Jaissle ingin berhasil, ketangkasan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika itu akan menjadi aset penting.

Kerangka adaptasi itu juga pernah terlihat saat Jaissle menangani Al-Ahli. Ia mewarisi komposisi pemain yang berbeda—campuran superstar dan pemain Saudi yang karakternya jauh dari tantangan yang ia hadapi di klub Red Bull yang cenderung konsisten dari level muda hingga tim utama.

Meskipun mempertahankan prinsip kepelatihan, ia menilai perlu memberikan panggung sesuai kekuatan masing-masing pemain dalam batas kerangka tersebut. Di Al-Ahli, Jaissle sukses meraih dua gelar berturut-turut di Asian Champions League.

Ciri menonjolnya adalah sisi agresif: pressing tinggi dan upaya membawa bola ke depan dengan cepat. Namun, ia juga membangun fondasi defensif yang kokoh; catatan musim lalu menunjukkan tidak ada tim lain di Saudi Pro League yang kebobolan lebih sedikit.

Jejak masa lalu Jaissle dan mental bertahan di momen sulit

Red Bull Salzburg juga menjadi penanda bagaimana performa bisa berubah setelah kepergian seorang pelatih. Klub Austria itu tidak lagi memenangkan liga sejak Jaissle meninggalkan tim setelah meraih kemenangan liga secara beruntun tiga tahun lalu. Salzburg juga belum mencapai babak gugur Liga Champions sejak pertama kali melakukannya pada 2022, meski pada fase tersebut mereka akhirnya dihantam Bayern Munich dengan agregat 8-1.

Meski begitu, pengalaman sukses Jaissle di Al-Ahli memberi sinyal bahwa ia mampu menyesuaikan gaya pada liga dengan profil pemain yang berbeda. Dan di Newcastle, tim akan berharap adaptasi itu berujung pada hasil yang lebih konsisten di lingkungan Premier League.

Keyakinan yang ia tanam juga digambarkan lewat kesaksian Demiral. Menurutnya, mental Jaissle adalah sesuatu yang paling mudah dikenali: sekalipun tim tertinggal 2-0 atau 3-0, ia disebut tak pernah kehilangan kepercayaan.

Demiral menambahkan bahwa Jaissle terus mempercayai pemain dan menyiapkan latihan dengan mindset yang sama, sehingga tim bisa bangkit untuk kembali memenangkan pertandingan-pertandingan penting. “This is one of the main reasons why we managed to come back and win so many matches,” ujarnya.

Untuk Newcastle, tugas awal Jaissle jelas: memadukan prinsip tekanan dan intensitas yang sudah dikenali dari era Howe, lalu mengubahnya menjadi identitas baru yang tetap bekerja ketika kompetisi menuntut adaptasi setiap minggu. Debut melawan Liverpool pada 23 Agustus akan menjadi ukuran pertama apakah langkah ini menjadi awal yang tepat.