Olahraga

Piala Dunia 2026: Rivalitas Inggris vs Argentina Menjelang Semifinal Rabu

×

Piala Dunia 2026: Rivalitas Inggris vs Argentina Menjelang Semifinal Rabu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: England and Argentina's football rivalry

jurnalistik.co.id – Menjelang semifinal Piala Dunia 2026 yang akan dimainkan Rabu, rivalitas sepak bola Inggris vs Argentina kembali jadi sorotan. Di Atlanta, Lionel Messi akan menghadapi Inggris untuk pertama kalinya sepanjang kariernya, saat Argentina—sebagai juara bertahan—berusaha menghentikan “Three Lions” arahan Thomas Tuchel yang ingin memutus rentang “60 tahun duka”.

Pertemuan keduanya tidak hanya melahirkan momen besar di lapangan, tetapi juga menyimpan lapisan ketegangan antarkedua negara. Hubungan Inggris dan Argentina, terutama setelah tensi politik di sekitar Perang Falklands pada era 1980-an, masih terasa dalam cara para pemain dan pendukung Argentina merujuk konflik itu lewat lagu-lagu sepak bola.

Dalam lima laga Piala Dunia yang pernah mempertemukan kedua tim, Inggris tercatat lebih unggul. Namun, kemenangan terakhir yang benar-benar “bermakna” sudah cukup lama berlalu, sehingga tidak banyak generasi muda yang masih ingat detail rivalitas itu. Karena itu, BBC Sport menengok kembali enam dekade kontroversi yang mewarnai pertemuan Inggris dan Argentina.

1962: Inggris unggul di fase grup, tetapi dengan harga kontrol selisih gol

Laga Piala Dunia 1962 menjadi awal kisah rivalitas yang terus bertahan hingga saat ini. Inggris menang 3-1 atas Argentina di fase grup (Rancagua, Chile), lewat gol Ron Flowers, Bobby Charlton, dan Jimmy Greaves, sementara Argentina hanya sempat memberi balasan hiburan di akhir laga.

Kedua tim sama-sama menutup fase grup dengan satu kemenangan, satu kekalahan, dan satu hasil lain yang kurang maksimal. Namun, Inggris lolos karena unggul selisih gol, bukan semata-mata karena satu pertandingan tertentu.

1966: Wembley, kontroversi gol, dan kartu merah yang mengubah panasnya laga

Enam tahun kemudian, kedua negara bertemu lagi di perempatfinal saat Piala Dunia 1966 berlangsung di Wembley. Inggris menang tipis 1-0 (England 1-0 Argentina), dan momen itu sering disebut sebagai titik ketika rivalitas kedua tim semakin “menggumpal” dalam ingatan publik.

Argentina hingga hari ini bersikeras bahwa gol penentu Geoff Hurst terjadi dalam posisi offside. Selain debat atas gol, laga juga diwarnai insiden kartu merah ketika kapten Argentina Antonio Rattin diusir setelah baru 33 menit, menyusul dua pelanggaran dalam selang tiga menit.

Pelanggaran pertama berupa tekel yang menyerempet Bobby Charlton, lalu Rattin kembali terlibat ketika terus berargumen dengan wasit Jerman Rudolf Kreitlein. Ketegangan makin memuncak karena pertandingan sempat tertunda hampir delapan menit, saat Rattin menolak meninggalkan lapangan.

Inggris bertahan meski suasana sangat tidak bersahabat. Pelatih Three Lions saat itu, Alf Ramsey, menyebut kubu Argentina sebagai “animals” dan menegaskan bahwa para pemainnya tidak bertukar kostum.

George Cohen—bek yang ikut meraih gelar Piala Dunia 1966—kemudian menceritakan kembali nuansa laga dalam wawancara bersama The Guardian pada 2009. Ia menuturkan, “Tackling is fine,” lalu melanjutkan, “But it was some of the spidey things, the spitting and pulling the short hairs on your neck, pulling your ear.” Menurutnya, upaya intimidasi itu berubah menjadi kekacauan saat kubu yang ia hadapi merasa tidak akan mendapatkan jalannya sendiri.

Cohen juga mengatakan, “I just consider it the greatest shame that they didn’t play the game they were capable of.” Ia menambahkan bahwa setelah laga, terjadi keributan di terowongan dan tidak ada yang diperbolehkan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Pertandingan ini juga dipercaya berperan pada munculnya penggunaan kartu merah dan kuning, yang pertama kali diterapkan di Piala Dunia 1970 di Meksiko, saat sebelumnya wasit lebih banyak mengandalkan peringatan verbal.

Antonio Rattin sendiri, yang mewakili Argentina dari 1959 hingga 1969 serta tampil di Piala Dunia 1962 dan 1966, meninggal pada usia 89 tahun pada Sabtu.

1986: Falklands War masih menggantung di sudut Stadion Azteca

Ketika Piala Dunia 1986 bergulir, perempatfinal Argentina melawan Inggris dimainkan empat tahun setelah kedua negara terlibat Perang Falklands. Karena jarak yang begitu dekat itu, pertandingan tidak dipandang sebagai rivalitas semata, melainkan sarat muatan politik.

Media dan publik Argentina membingkai laga sebagai cara mengekspresikan kekesalan terhadap konflik, sementara kubu Inggris turut menguatkan sentimen lewat bahasa yang bernuansa nasionalistik. BBC World Service Lourdes Heredia, yang hadir langsung di Stadion Azteca, mengingat kekhawatiran keluarga di tengah suasana yang mudah tersulut.

Heredia berkata, “My father wasn’t sure about his ‘princesses going’. He was worried that tensions between Argentina and England fans would spill over. My mother didn’t hesitate. A once in a lifetime opportunity.”

Di sinilah momen bersejarah yang tak akan pernah dilupakan penggemar sepak bola Inggris pada era itu terjadi lewat Diego Maradona. Gol yang disebut “Hand of God” membuat Argentina memimpin saat Maradona—melompat mengejar bola bersama kiper Inggris Peter Shilton—secara mengejutkan memukul bola ke gawang kosong.

Keajaiban berikutnya datang saat Maradona mencetak gol kedua yang bahkan Heredia sebut sebagai yang paling “tak masuk akal” untuk ukuran sebuah gol. Ia mendribel melewati separuh tim Inggris, melewati Shilton, lalu memasukkan bola untuk menggandakan keunggulan Argentina. “When I lived and worked in Argentina, people regularly brought up the Hand of God,” ujar Heredia, “But this is to forget that the second goal was just spectacular – almost unbelievable.”

Gary Lineker sempat memperkecil ketertinggalan menjelang akhir, tetapi tetap tidak mengubah nasib laga. Inggris tersingkir dalam keadaan yang paling kontroversial, dan baru pada 2005 Maradona menyampaikan permintaan maaf. Namun, Shilton menolak memaafkan.

Untuk memperpanas sejarah rivalitas, Argentina kemudian melangkah dan mengalahkan Jerman Barat di final untuk meraih trofi.

1998: Beckham, Simeone, penalti—dan keputusan yang memicu silang pendapat

Di Piala Dunia 1998, Argentina dan Inggris kembali menuntaskan duel dengan skor 2-2. Argentina akhirnya menang lewat adu penalti 4-3 pada babak 16 besar di St Etienne.

Di laga ini, David Beckham dikenang karena insiden terhadap Diego Simeone yang berujung kartu merah. Sebelum itu, Gabriel Batistuta dan Alan Shearer saling tukar penalti, sebelum Michael Owen menorehkan salah satu gol Piala Dunia terbesar bagi Inggris.

Owen menggempur pertahanan Argentina dan mencetak gol solo spektakuler, kemudian sebuah tendangan bebas yang cerdas membuat Javier Zanetti menyamakan kedudukan sebelum jeda. Setelah Beckham diusir, Inggris bertahan dan sempat berpikir laga telah dimenangi ketika Sol Campbell menanduk masuk pada menit ke-81.

Namun, gol tersebut dianulir karena dinilai ada dorongan. Pertandingan berlanjut ke adu penalti, dan setelah David Batty serta Paul Ince gagal mengeksekusi, Argentina unggul.

Argentina kemudian tersingkir pada ronde berikutnya oleh Belanda. Sementara itu, Simeone setahun setelah kejadian mengakui: “Let’s just say the referee fell into the trap.” Ia menambahkan, “It was like that there’s a lot of tension.” Lalu, ia menyimpulkan, “You could say that my falling transformed a yellow card into a red card. But in fact, the most appropriate punishment was a yellow one.”

2002: Sapporo, “penebusan” Beckham, dan Argentina tersingkir lebih cepat dari sejak 1962

Pertemuan terakhir keduanya di Piala Dunia terjadi pada 2002, ketika Argentina kalah 0-1 dari Inggris pada fase grup (Sapporo, Jepang). Gol tunggal laga itu diciptakan Beckham dari titik penalti, setelah Owen dijatuhkan oleh Mauricio Pochettino—yang disebut sebagai insiden yang menentukan jalannya pertandingan.

Untuk Inggris, kemenangan itu krusial karena di laga pembuka fase grup mereka hanya bermain imbang melawan Swedia. Di pertandingan terakhir fase grup, Inggris menahan Nigeria tanpa gol, yang cukup untuk membawa mereka lolos, sedangkan Argentina justru tersingkir sebelum babak gugur untuk pertama kalinya sejak 1962.

Di laga penentunya, Argentina hanya bermain 1-1 melawan Swedia. Setelah itu, Inggris menyingkirkan Denmark di babak 16 besar, tetapi kemudian dihentikan Brasil di perempatfinal melalui tendangan bebas Ronaldinho.

Phil McNulty, jurnalis utama BBC untuk sepak bola, menggambarkan laga itu sebagai momen “penebusan” bagi Beckham di Piala Dunia Jepang. Ia menulis, “The futuristic Sapporo Dome was the scene of redemption for Beckham and England at the 2002 World Cup in Japan.”

McNulty menambahkan bahwa ketegangan yang masih tersisa dari kartu merah Beckham di Prancis empat tahun sebelumnya, plus kekalahan yang pahit lewat adu penalti di babak 16 besar, membuat laga ini terasa sangat sarat emosi. Ia juga menegaskan bahwa Inggris—dengan Sven-Goran Eriksson sebagai pelatih, dan Marcelo Bielsa di kubu seberang—akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 1-0.

“And it was England – led by Sven-Goran Eriksson with Marcelo Bielsa his opposite number – who came out on top with a 1-0 win, fittingly scored from the spot by Beckham a minute before half-time,” lanjut McNulty, “contentiously awarded after future Spurs manager Pochettino was adjudged to have fouled Owen.”

Kini, menjelang semifinal Rabu di Atlanta, sejarah panjang itu kembali bertemu dalam format yang lebih menentukan: tempat di partai final. Rivalitas yang dimulai sejak 1962, diisi gol-gol ikonik, kontroversi, hingga kartu merah, sekali lagi menjadi latar bagi pertemuan yang sulit dilupakan—bukan hanya karena siapa menang, tetapi karena bagaimana sebuah pertandingan dapat menyimpan ingatan lintas generasi.