Entertainment

Pokémon Go Genap 10 Tahun, Jutaan Pemain Masih Kejar Semua Monster

×

Pokémon Go Genap 10 Tahun, Jutaan Pemain Masih Kejar Semua Monster

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pokémon Go at 10 and the millions still trying to catch 'em all

jurnalistik.co.id – Genap satu dekade setelah perilisannya, Pokémon Go tetap menarik perhatian jutaan pemain yang masih mengejar “semua monster”—bukan hanya demi koleksi, tetapi juga karena permainan ini membawa mereka keluar dan bertemu orang lain.

Michael Steranka, vice president of product di penerbit gim tersebut, Scopely, menegaskan bahwa pengalaman Pokémon Go selalu dimulai dari komunitas. Menurutnya, hubungan yang terbentuk di dalam gim bisa berlanjut ke kehidupan nyata.

“Pokémon Go will always start with community – we think we’re only scratching the surface here,” katanya. “We often receive wedding invites from players who met through Pokémon Go… because it’s been such an integral part of their relationship.”

Di balik pesona itu, Pokémon Go juga menawarkan cara bermain yang berbeda dari era gim konsol. Sebelumnya, waralaba ini berawal di perangkat portabel Nintendo Game Boy pada 1996, lalu menemukan momentum baru di ponsel.

Gim mobile ini, yang kini merayakan ulang tahun ke-10, memanfaatkan GPS dan augmented reality untuk membantu pemain menemukan serta menangkap makhluk virtual di lokasi dunia nyata. Pokémon Go juga telah diunduh lebih dari satu miliar kali di perangkat iOS dan Android, dengan jutaan orang masih masuk setiap hari.

Bagi banyak pemain, dorongan untuk “berburu” tidak terjadi di ruang tertutup. Ketika Pokémon Go diluncurkan pada 2016, teknologi tersebut menumpangkan makhluk digital ke tampilan dunia nyata melalui kamera ponsel sehingga seolah-olah monster berada tepat di depan pemain.

Craze ini membuat orang berdatangan ke berbagai tempat seperti taman, area tepi perairan, hingga pusat perbelanjaan, berharap bisa menangkap Pokémon. Matthew Reynolds, editor situs berita Pokémon One More Catch, mengatakan, “By allowing you to take your mobile phone out into the world to discover virtual creatures, Pokémon Go helped realise the millennial dream of becoming a Pokémon Trainer.”

Popularitas Pokémon Go tidak meredup seiring waktu. Gim ini telah menggelar acara live besar di lebih dari 60 negara, dengan rata-rata lebih dari 400.000 peserta per tahun sejak Go Fest pertama pada 2017.

Scopely juga memperkirakan pemain menjelajahi lebih dari 100 miliar kilometer selama bermain—setara kira-kira 334 perjalanan pulang-pergi dari Bumi ke Matahari. Di sisi komunitas digital, kreator konten UK bernama j0beats menjalankan salah satu kanal Twitch terbesar yang khusus membahas gim ini, dan secara rutin bepergian untuk bertemu sesama pemain.

“People always think it’s crazy that you travel all over just to catch some pixels,” ujarnya. Namun baginya, perjalanan tersebut bukan semata soal menangkap “piksel”, melainkan tentang manusia dan energi yang hadir saat berkumpul.

“But it’s not just about that. When you go to these big events, you’re there for the people and for the energy of it. “It’s like a music festival – you could just stay at home and just listen to the music, or you could go out there and you could listen live and appreciate it with other people. It’s the same sort of concept.”

Meski demikian, j0beats juga menyebut memori paling hangatnya justru lebih dekat ke rumah. Pada 2025, salah satu event Pokémon Go bernama Wild Area datang ke South Yorkshire, dan ia menyoroti bahwa acara Eropa tersebut digelar di Doncaster—tempat yang jaraknya dekat dengan lokasi dirinya.

“It was the only European event and it was hosted in Doncaster, which is just around the corner from me,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa ia merasa antusias karena bisa berkolaborasi dengan community ambassadors setempat dan membantu penyelenggaraan event.

Untuk sebagian pemain, Pokémon Go juga berdampak tak terduga pada kondisi mental. Austin, yang tinggal di Maine, Amerika Serikat, bermain sejak 2017. Ia menceritakan bahwa sebelum mencoba Pokémon Go, ia merasa “nearly impossible” untuk memotivasi diri melakukan apa pun, karena sedang menghadapi kecemasan dan depresi.

“When I went to my first raid meetup it was like a warm blanket,” katanya. Ia menjelaskan momen ketika dirinya membawa ponsel berjalan ke taman bersama rombongan orang yang sebelumnya adalah orang asing—hingga ia untuk pertama kalinya tidak merasa cemas saat bertemu kelompok baru, dan justru merasa senang serta bersemangat.

“As I held my phone and walked to the group of strangers in the park, I saw them look at me, and for the first time I wasn’t nervous meeting this new group of people, I was actually excited and happy.” “From that day on that little voice telling me to stay in bed was put on mute.”

Namun, popularitas yang meledak juga membawa tantangan. Seiring antusiasme pemain untuk mengejar Psyduck berikutnya, pernah ada peringatan dari polisi dan kelompok keselamatan agar orang tidak terlalu larut hingga tersesat atau membahayakan diri sendiri.

Reynolds menambahkan bahwa besarnya minat kadang membuat “servers buckled under the strain,” sehingga masalah koneksi menjadi “rife for some time”. Sementara itu, masa pandemi yang sempat menjadi berkah bagi sebagian industri gim, justru dinilai Steranka lebih berdampak pada Pokémon Go dibanding gim lain.

Steranka menyebut lockdown yang ketat pada awalnya “impacted Pokémon Go probably more than any other game out there”. Setelah pembatasan mereda, pemain kembali mencari alasan untuk keluar, dan gim kembali mendapatkan momentum yang sejalan dengan kebiasaan baru.

Tahun 2025 juga memunculkan pertanyaan dari sebagian penggemar mengenai arah masa depan Pokémon Go setelah Scopely—yang dimiliki Public Investment Fund Arab Saudi—membeli pengembang Niantic seharga $3.5bn (kemudian £2.7bn). Steranka menanggapi dengan harapan agar perubahan tersebut justru memperkuat gim dan komunitas.

“My hope is that we prove to players over time that this is definitively a good thing for the game and the community,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa ke depan fokus utama tetap pada komunitas, kenangan, dan menciptakan pengalaman yang bisa dibagikan keluarga.

“No matter where I was and what phase of my life, Pokémon Go has been there for me,” kata Steranka. “It meets people where they are, at whatever phase of life they’re in.”

Di tengah perayaan ulang tahun, momen nyata juga menegaskan hubungan gim dengan dunia sekitar. Pada hari Kamis, ratusan pemain berkumpul di Times Square, New York, untuk berhadapan dengan Mewtwo raksasa—mengacu pada trailer awal gim yang dirilis lebih dari satu dekade lalu.

Bagi banyak orang, perjalanan Pokémon Go selama 10 tahun tidak berhenti pada pencarian monster. Yang paling bertahan adalah jembatan yang dibangun antara tempat-tempat nyata, orang-orang yang saling menemukan, dan pengalaman bersama yang terasa seperti bagian dari hidup mereka.