jurnalistik.co.id – Jannik Sinner menutup Wimbledon 2026 dengan cara yang nyaris mustahil: setelah jatuh pada set pertama, petenis peringkat satu dunia itu bangkit dan mengamankan gelar putra keduanya di SW19.
Final berlangsung ketat melawan Alexander Zverev. Di momen krusial, Sinner sempat punya peluang mematahkan servis, namun ia terjatuh di tengah reli. Ia kembali berdiri dengan cepat, memaksa kesalahan dari Zverev, dan mencatat break pertama hampir tiga jam memasuki pertandingan.
Dari titik itu, arah pertandingan makin berat sebelah. Sinner sempat terjatuh lagi—kali ini sebagai tanda kemenangan—ketika akhirnya ia meraih comeback empat set dan mempertahankan gelar Wimbledon yang ia pegang.
Kemenangan ini membuat Sinner menjadi orang ke-10 dalam era Open yang mampu mempertahankan gelar tunggal putra Wimbledon. Pencapaian itu terasa semakin spesial karena ia merebutnya di satu-satunya turnamen tenis yang menyita perhatian sejak ia masih kecil.
Sekilas, perjalanan menuju kemenangan terlihat seperti rangkaian “pemulihan”. Namun satu peristiwa besar sebelumnya sempat membuat retakan di permukaan: sebulan lebih awal, Sinner mengalami guncangan saat French Open.
Di Paris, ia tersingkir dengan cara yang mengejutkan. Pada French Open putaran kedua, ia kalah dari Juan Manuel Cerundolo setelah sebelumnya memimpin dua set dan unggul 5-1. Hasil tersebut menjadi pukulan beruntun—karena ia juga sempat menunjukkan bahwa kondisi mental dan fisiknya tidak selalu stabil ketika pertandingan memanjang.
Sejumlah kekhawatiran pun muncul menjelang Wimbledon. Dalam sembilan pertandingan terakhir yang berjalan jauh hingga set penuh, Sinner kalah delapan kali. Artinya, daya tahan dalam laga berdurasi panjang sudah lama menjadi perhatian tersendiri.
Tetapi Wimbledon 2026 justru menjadi panggung bagi ketahanan tersebut. Dalam pertandingan awal sebagai juara bertahan, Sinner menghadapi Miomir Kecmanovic dan harus melewati pertarungan lima set agar tidak menjadi pengecualian yang menyakitkan: ia bertahan dari catatan buruk dengan menghindari kemungkinan menjadi juara bertahan Wimbledon putra yang kalah di babak pertama—sebuah pola yang hanya pernah menimpa dua nama sebelum ini.
Menariknya, setelah melewati rintangan di awal, Sinner tidak menoleh terlalu lama ke masa lalu. Ia merespons dengan rentetan kemenangan straight set pada lima pertandingan berikutnya hingga melaju ke partai puncak.
Bangkit dengan bukti di lapangan
Kemenangan final atas Zverev tidak datang secara kebetulan. Sinner masuk sebagai petenis yang sempat mendominasi ATP Tour pada awal musim. Ia membukukan streak 30 kemenangan beruntun antara Maret hingga Mei, sekaligus meraih lima gelar Masters 1000 secara beruntun.
Dengan rekor sebaik itu, tersisa satu hal yang terasa “tidak konsisten”: catatan singkat kekalahan di Grand Slam. Setelah menghadapi ancaman besar di Wimbledon pada awal turnamen, ia justru menunjukkan performa yang jauh lebih solid melalui kemenangan tanpa menyerahkan set pada setiap laga setelah itu.
Langkah paling meyakinkan datang di semifinal. Sinner menumbangkan Novak Djokovic dalam tempo dua jam dan 20 menit. Djokovic—yang saat itu berstatus juara besar terbanyak ke-24—hanya menghadapi satu peluang break point, dan Sinner menutup ancaman tersebut dengan ace.
Jika semifinal menampilkan kekuatan, final menunjukkan kualitas yang berbeda: kemampuan menyusun kembali permainan ketika situasi berubah. Di partai puncak, ia harus pulih setelah kehilangan set pertama, lalu memutar jalannya pertandingan sampai akhirnya memenangi pertandingan dalam durasi tiga jam 46 menit.
Secara statistik, Sinner mencatat 58 winner sepanjang final. Ia juga tampak mengekspresikan momen ketika menyerap tekanan yang sempat berbalik—dengan gestur memegangi kedua kepala di tengah ketegangan sebelum pertandingan berakhir.
Reaksi Sinner dan tim
Berita Terkait
Setelah pertandingan, Sinner menekankan bahwa gelar ini datang dengan beban yang tidak ringan karena “cerita Paris” masih terasa dekat.
“This one means a lot because it was a tough one after Paris, again. Last year was also tough. But coming here, I tried to put myself in the best position to be as competitive as possible. We put in a lot of long days, sacrificing a lot to be in this position.”
Pelatihnya, Darren Cahill, turut mengomentari pola yang berulang: bagaimana Sinner merespons kemunduran tanpa terlalu lama terhantam.
“There have been a few kicks in the stomach along the way. Tough losses. What makes us most proud is the way he comes back. It doesn’t put him down for long. That’s his attitude in tennis and in life. We spoke about his resilience, and being able to come back and be bigger, stronger and faster whenever he has a bad moment. If you don’t have those tough moments, maybe you never grow like he has been able to.”
Komentar Cahill menggambarkan bagian penting dari perjalanan Sinner: bukan hanya soal menang, tetapi juga cara memulihkan diri ketika momen buruk datang lagi.
Catatan sejarah yang mengikuti kemenangan
Kemenangan Sinner juga melahirkan catatan sejarah lain. Ia menjadi pemain pertama dalam 48 tahun yang mampu memenangkan gelar tunggal putra Wimbledon setelah laga awalnya dipaksa sampai lima set. Pencapaian serupa juga terakhir kali terjadi di level grand slam sejak Rafael Nadal di French Open 2011.
Di layar BBC TV, Tim Henman menilai pertahanan gelar Sinner berjalan dengan kualitas para petenis besar. Ia menyebut performa Sinner sebagai bukti keunggulan yang konsisten pada momen-momen sulit.
“A worthy champion, an incredible defence of his title. As the great players do, they find the way to win,” Tim Henman mengatakan di BBC TV. “Sinner’s performances against Djokovic and Zverev have been truly world class.”
Henman memusatkan perhatian pada dua lawan besar yang dilewati Sinner: Djokovic di semifinal dan Zverev di final. Keduanya menuntut Sinner bermain pada tingkat tinggi, bukan sekadar unggul karena momentum.
Di sisi lain, Zverev menyelesaikan final dengan reputasi sebagai salah satu petenis paling “sedang panas” di musim ini. Ia juga menjadi salah satu nama yang akan menggeser posisi Carlos Alcaraz sebagai peringkat dua dunia pada Senin mendatang, setelah Alcaraz mengalami cedera.
Bagi Zverev, perjalanan ke grand title juga sudah terjadi bulan lalu. Namun setelah itu, catatan berhadapan dengan Sinner justru tidak berpihak: ia kalah dalam 10 pertandingan terakhir melawan petenis asal Italia tersebut.
Sementara itu, statistik konsistensi Sinner terus mendukung narasi tentang dominasi jangka panjang. Ia memenangi 44 dari 47 pertandingan pada tahun ini. Jika ditarik lebih jauh sejak rangkaian kemenangan gelar Wimbledon dimulai 12 bulan silam, Sinner mengumpulkan 77 kemenangan dari 83 pertandingan.
Dominasi itu kemungkinan besar akan memengaruhi banyak percakapan menjelang turnamen-turnamen berikutnya. Banyak yang berharap rival utamanya—termasuk Alcaraz—dapat kembali ke kondisi penuh setelah dinamika persaingan yang terus berkembang.
Di BBC Radio 5 Live, Marion Bartoli menyoroti perubahan besar yang terlihat pada salah satu petenis top—ia menyebut aura ketahanan yang membuat lawan-lawan sulit menekan pada fase paling menentukan.
“I think we have seen the new Novak Djokovic for the next 10-15 years,” ujar Bartoli. “The way he was able to weather the storm when he had to, come up with an extraordinary shot when he had to, it reminds me so much of Djokovic.”
Dengan gelar kedua di SW19 yang sudah digenggam, Wimbledon 2026 menjadi penegasan ulang bahwa Sinner mampu melewati fase terburuk sekaligus mengubahnya menjadi bahan bakar. Ia datang dengan bayangan kekalahan di Paris, lalu menjawabnya dengan performa yang semakin matang sampai akhir laga puncak.












