Olahraga

Piala Dunia 2026: Thomas Tuchel Tak Suka Jeda Hidrasi Kontroversial

×

Piala Dunia 2026: Thomas Tuchel Tak Suka Jeda Hidrasi Kontroversial

Sebarkan artikel ini
England boss Tuchel not a fan of hydration breaks
Ilustrasi: World Cup 2026: England boss Thomas Tuchel not a fan of hydration breaks

jurnalistik.co.id – Thomas Tuchel menyampaikan bahwa ia tidak menyukai jeda hidrasi yang menjadi bagian dari rangkaian pertandingan Piala Dunia. Menurut pelatih kepala timnas Inggris itu, jeda tersebut mengganggu ritme permainan dan mengubah karakter pertandingan lebih jauh dari yang ia bayangkan sebelumnya.

Tuchel berbicara menjelang laga grup kedua Inggris melawan Ghana. Pertandingan tersebut digelar di Boston pada hari Rabu, dengan jadwal mulai pukul 21:00 BST, sementara prakiraan cuaca menyebut ada hujan dan suhu yang relatif lebih sejuk.

Di laga pembuka Inggris melawan Kroasia di Dallas, jeda hidrasi langsung mendapat respons dari para suporter. Saat permainan dihentikan pada paruh pertama, penonton mulai meneriakkan ejekan, meski pertandingan dimainkan di dalam stadion yang beratap dan ber-AC.

Dalam konteks itu, Tuchel menegaskan jeda hidrasi tetap akan digunakan di Boston tanpa memandang kondisi cuaca. Ia mengatakan ia memiliki keraguan terhadap dampaknya, terutama terhadap identitas serta alur yang biasanya membentuk jalannya sebuah pertandingan.

“Saya pikir jeda ini menginterupsi dan mengubah identitas pertandingan sepak bola jauh lebih besar daripada yang saya kira,” kata Tuchel. Ia juga menilai perubahan itu berbeda dengan jeda hidrasi yang pernah ia lihat atau alami sebelumnya.

“Saya pernah punya jeda hidrasi sebelumnya, ketika cuacanya benar-benar, benar-benar panas dan memang dibutuhkan, tapi jedanya lebih pendek,” lanjut Tuchel. Ia menyebut jeda saat itu hanya diberlakukan pada beberapa pertandingan, sedangkan saat ini menurutnya formatnya sudah ditetapkan untuk setiap pertandingan dan setiap tim.

“Demi kepentingan fair play, sekarang dilakukan di setiap pertandingan untuk setiap tim,” ujar Tuchel. Ia kemudian menggambarkan jeda itu memecah jalannya laga menjadi beberapa fase, bukan hanya sebagai jeda singkat yang bersifat situasional.

Menurut Tuchel, jeda tersebut “memecah pertandingan hampir menjadi empat kuarter”. Ia menilai perubahan semacam itu turut mengubah karakter pertandingan dengan cara yang, pada akhirnya, tidak sesuai harapannya.

Tuchel juga menyinggung keputusan otoritas terkait jeda hidrasi saat situasi cuaca tidak mendukung. Ia mengingat bahwa FIFA memutuskan untuk menghapus jeda hidrasi di babak kedua pada kemenangan Prancis 3-0 atas Irak, setelah pertandingan sempat dihentikan lebih dari dua jam karena cuaca buruk.

Meski demikian, Tuchel tidak menolak jeda hidrasi sepenuhnya dalam kapasitasnya sebagai pelatih. Ia mengatakan, “Saya menyukainya sebagai pelatih, tentu saja, karena bagus untuk memberi pengaruh dan menyatukan tim saya.”

Namun, pandangannya berubah ketika berbicara tentang kualitas permainan secara keseluruhan. Secara keseluruhan, ia mengaku lebih menyukai sepak bola yang dimainkan “dalam satu putaran” pada satu babak, karena menurutnya hal itu membantu membangun momentum sejak awal.

“Ini bagian dari permainan,” tutur Tuchel. Ia menambahkan bahwa ketika pertandingan dibagi oleh jeda-jeda, momentum menjadi sulit untuk dibangun dan sulit untuk dipertahankan.

Menurutnya, jeda membuat pertandingan tidak mengalir sebagaimana mestinya, sehingga dinamika yang biasanya terbentuk dari duel berkelanjutan antarpemain dan tim menjadi terputus. “Kalau tidak ada jeda, maka itu seperti pertempuran di lapangan antara para pemain dan tim,” katanya.

Ia kemudian menekankan bahwa jika pertandingan berjalan terus-menerus dalam periode yang lebih panjang, ritme dan alur tempo akan membentuk cerita yang lebih menyatu. “Itu berlangsung dalam periode yang lebih panjang, dan itu menambah karakter pada ‘beautiful game’,” pungkas Tuchel.

Dengan demikian, menjelang laga Inggris melawan Ghana di Boston, Tuchel tetap membawa pesan yang sama: jeda hidrasi memang memberi ruang bagi pelatih untuk mengatur tim, tetapi bagi dirinya, dampak pada momentum dan karakter permainan merupakan alasan utama ketidaksukaannya. Di sisi lain, jeda tersebut tetap menjadi bagian dari format turnamen, sehingga respons suporter dan penyesuaian pemain kemungkinan akan kembali mewarnai jalannya pertandingan di kota tersebut.