Politik & Parlemen

Jingle “Mas Bahlil Ganteng” Viral, Golkar Anggap Sebagai Apresiasi Publik

0
×

Jingle “Mas Bahlil Ganteng” Viral, Golkar Anggap Sebagai Apresiasi Publik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jingle “Mas Bahlil Ganteng” Mengepung Netizen, Golkar Untung?

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Meme “Mas Bahlil Ganteng” mengepung warganet di pelbagai platform media sosial. Jingle yang oleh netizen juga dikenal dengan judul “My Little Bolu Ketan” itu ikut meramaikan linimasa, dari TikTok hingga Instagram dan YouTube.

Potongan liriknya yang beredar berbunyi, “MBG, Mas Bahlil ganteng. Buah apa yang paling manis? Buahlil. Tambah ganteng aja My little bolu ketan.” Lagu ini bisa disematkan oleh akun-akun yang membuat video di akun masing-masing, sehingga penyebarannya kian luas dan terus memancing reaksi warganet.

Akun TikTok VOKALIZ_NETIZEN (@vokaliz_netizen) dengan 1112,2 juta follower mengunggah lagu soal Ketua Umum Partai Golkar itu pada 29 April 2026 dan kini disukai 1,1 juta akun. Akun tersebut dikenal rajin mengunggah lagu-lagu olahan artificial intelligence (AI) dengan jenaka.

Di TikTok, akun Sania Leonardo (@panggilakubambang) dengan 3,1 juta followers juga ikut membuat reaksi mengomentari lagu itu tiga hari lalu. Hingga kini, unggahan tersebut sudah disukai 3,8 juta akun. Dari dua unggahan itu saja, terlihat bagaimana jingle tersebut menyebar melalui format video yang mudah diulang dan dipakai ulang oleh pengguna lain.

Di Instagram, lagu itu juga bertebaran. Belum lagi konten di YouTube. Di berbagai platform itu, jingle tersebut terus dipakai dan dibagikan, membuat nama Bahlil Lahadalia ikut menempel dalam percakapan yang ramai di media sosial. Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan soal bagaimana Partai Golkar membaca ramainya lagu tersebut.

Golkar merasa diapresiasi

Sekjen DPP Partai Golkar yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, M. Sarmuji, menilai viralnya lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” merupakan bagian dari kreativitas warganet di media sosial. Menurut dia, lagu itu dapat dibaca sebagai bentuk apresiasi publik terhadap kerja keras Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

Karena itu, partai tak mempersoalkan apabila sejumlah akun yang berafiliasi dengan Golkar ikut menggunakan lagu tersebut dalam unggahan media sosial mereka. Sarmuji menilai hal itu wajar karena para pengelola akun juga bagian dari pengguna media sosial atau netizen.

“Itu, kan, justru berasal dari kreativitas netizen sebagai salah satu bentuk penghargaan netizen atas kerja keras Pak Bahlil. Kalau ada akun Golkar yang ikut meramaikan, ya wajar saja, mereka bagian dari netizen juga,” kata Sarmuji kepada Kompas.com, Senin (25/5/2026).

Sarmuji juga menegaskan, Partai Golkar tidak ambil pusing terhadap viralnya lagu tersebut. Bagi partai, riuh yang muncul di media sosial itu dipandang sebagai sesuatu yang lahir dari kreativitas pengguna internet, bukan sebagai persoalan yang perlu dibesar-besarkan.

Dengan demikian, jingle “Mas Bahlil Ganteng” tetap menjadi salah satu contoh bagaimana konten jenaka yang lahir dari ruang digital bisa cepat menyebar dan menyeret nama tokoh politik ke pusat perhatian publik. Di sisi lain, Golkar memilih membaca fenomena itu sebagai apresiasi, bukan gangguan.

Jika dilihat dari cara penyebarannya, jingle ini menunjukkan bahwa konten yang ringan dan mudah diingat sering kali lebih cepat menempel di kepala warganet dibanding pesan yang serius. Formatnya yang singkat, jenaka, dan mudah dipakai ulang membuat lagu itu tidak berhenti di satu unggahan saja, melainkan terus berpindah dari satu akun ke akun lain. Dari situ, percakapan pun berkembang dengan sendirinya dan memperbesar jangkauan nama yang disebut di dalamnya.

Pola seperti ini juga memperlihatkan bahwa media sosial punya logika sendiri dalam mengangkat sebuah isu. Begitu sebuah konten dianggap lucu atau menarik untuk direspons, pengguna lain cenderung ikut menambahkan versi mereka, baik melalui unggahan ulang, komentar, maupun reaksi video. Dalam kasus “Mas Bahlil Ganteng”, dinamika itu membuat lagu tersebut tidak sekadar menjadi bahan hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan publik yang lebih luas tentang sosok Bahlil Lahadalia di ruang digital.