jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan tidak terpikir untuk menyerukan pemilu umum lebih cepat. Ia menilai dorongan memajukan pemungutan suara tidak akan membantu arah kerja pemerintahan saat ini.
Dalam perbincangan dengan BBC, Burnham menegaskan bahwa tidak ada pemilu “anytime soon”. Ia juga mengaitkan fokus pemerintah pada urusan harian masyarakat, terutama soal biaya hidup, serta dukungan bagi dunia usaha.
Burnham menyebut rencana pemilu yang digelar lebih awal berisiko menyeret negara masuk ke proses yang “backward-looking process”. Menurutnya, alih-alih bergerak maju, negara justru akan kembali terjebak pada perdebatan yang membuat energi tersedot untuk menilai ulang hal-hal dari masa lalu.
Beberapa jajak pendapat belakangan menunjukkan posisi Partai Buruh membaik sejak Burnham menggantikan Sir Keir Starmer di Downing Street pada Juli. Namun, Reform UK dan Konservatif disebut masih berada tidak jauh di belakang dalam persaingan elektoral.
Ia juga menyinggung bahwa pemilu umum lebih cepat dapat memberi Burnham mandat politik yang lebih “mandiri”. Dalam konteks itu, pemilu lebih awal dinilai berpotensi membebaskannya dari berbagai komitmen yang termuat dalam manifesto Buruh tahun 2024.
Meski demikian, jadwal pemilu umum berikutnya tetap memiliki batas paling lambat: Agustus 2029. Burnham menegaskan bahwa pembahasan tentang percepatan pemungutan suara hanya menjadi bayang-bayang yang terus berlari mendahului pekerjaan utama.
Burnham dijadwalkan menghadiri konferensi tahunan Partai Buruh pertamanya sebagai perdana menteri akhir pekan ini. Konferensi tersebut berlangsung di Liverpool, dan spekulasi mengenai kemungkinan pemilu dadakan diprediksi menjadi salah satu topik yang banyak dibahas di sela-sela agenda partai.
Berita Terkait
Sejumlah proyeksi jajak pendapat menunjukkan Buruh berpotensi kehilangan mayoritas, tetapi tetap menjadi partai terbesar di House of Commons bila pemilu dilakukan sebagai pemungutan suara dadakan. Laporan media juga menyebut sebagian penasihat di sekitar PM mempertimbangkan kemungkinan pemilu seawal tahun depan.
Namun, Burnham berusaha menutup ruang spekulasi itu saat diwawancarai editor politik BBC tingkat regional sebelum konferensi dibuka pada hari Minggu. Ketika ditanya apakah ia tergoda memanggil pemungutan suara lebih awal, jawaban Burnham tegas dan singkat: “No, not particularly. No, I’m not.”
Ia menambahkan, “I see all the speculation and it just races ahead,” sebelum menegaskan kembali arah utamanya, “No election anytime soon. I’m focused on the job as prime minister, doing what I said I would do.”
Pada kesempatan lain, Burnham juga ditanyai apakah akan ada pemilu umum pada Mei berikutnya, berbarengan dengan pemilihan dewan lokal di kawasan tersebut. Ia menjawab “no” lalu melanjutkan, “Not having a general election.”
Burnham mengatakan konferensi itu akan ia manfaatkan untuk menjelaskan lebih jauh “the direction I want to take the country in”. Fokus yang ia tekankan bukan pada kampanye politik, melainkan pada pekerjaan pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan publik dan langkah dukungan bagi aktivitas bisnis.
Ia menjabarkan bahwa prioritas sekarang adalah membantu masyarakat menghadapi biaya hidup serta membantu bisnis agar mampu menjalankan usaha. Dalam kerangka itu, Burnham menyatakan, “These have got to be the priorities right now, rather than throwing the country into a backward-looking process where we’re arguing again amongst ourselves.”
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan masyarakat kembali merasakan harapan dalam kehidupan sehari-hari. Burnham menuturkan bahwa ia berupaya membawa suasana itu bergerak lebih jauh dalam periode mendatang, bukan menempatkan publik kembali dalam siklus politik pemilu.
Ia juga menegaskan bahwa pemilih tidak seharusnya kembali “put back” ke rutinitas kampanye yang mengunci perhatian publik pada agenda elektoral. Dengan cara pandang tersebut, Burnham menempatkan konferensi partai sebagai ruang penegasan kebijakan dan arah kerja, bukan sebagai pintu pembuka pembahasan pemilu dadakan.












