Politik & Parlemen

Berapa lama euforia Partai Buruh bisa bertahan di bawah Andy Burnham?

×

Berapa lama euforia Partai Buruh bisa bertahan di bawah Andy Burnham?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How long can Labour's feel-good factor last?

jurnalistik.co.id – Di tengah suasana awal kepemimpinan, Partai Buruh tampak sedang menikmati periode “lebih ringan” setelah Andy Burnham naik menjadi perdana menteri. Namun, bisakah euforia itu bertahan ketika kenyataan fiskal dan tekanan biaya hidup mulai mengambil alih ruang diskusi?

Seorang pengamat di lingkaran pemerintahan menggambarkan ketertarikan Burnham pada perannya dengan kalimat, “He just loves being prime minister”. Foto politiknya mungkin belum benar-benar selesai dipahat lewat pidato konferensi, tetapi menurut mereka, persiapan menuju momen ini sudah dibangun bertahun-tahun.

Di internal partai, yang paling terasa bukan hanya sorak, melainkan keselarasan gaya kepemimpinan dengan “rank and file”. Burnham dinilai nyaman menampilkan sejumlah tema yang selama ini dekat dengan mesin politik Labour, termasuk serangan-serangan yang mengingatkan pada babak “greatest hits” seperti mengkritik Mrs Thatcher, kritik pada privatisasi, serta penekanan pada jarak antara utara dan selatan.

Seorang menteri kabinet menyimpulkan perubahan mood dengan kalimat yang terdengar sederhana namun menentukan: “people like the new prime minister more than they liked the old one – that’s the truth of it”. Di tempat lain, seorang menteri lain menambahkan tidak ada hasrat untuk menghancurkan garis yang baru dirapikan: “There is no appetite for destruction – very little naysaying.”

Menurut cerita di antara anggota dan pejabat, tidak ada tanda-tanda desas-desus untuk mengganti pemimpin. Bahkan ketika sebagian tidak sepenuhnya sepakat dengan arah yang diambil, sikap mereka cenderung membingkai kritik sebagai bantuan, bukan upaya menantang figur penguasa.

Sebuah pesan yang beredar di kalangan anggota parlemen menyebut konferensi kali ini terasa lebih “terbuka”. “The mood’s good – everyone is going into conference with their ears open,” kata seorang MP, yang ingin mendengar rincian lebih lanjut dari perdana menteri.

Euforia itu juga dikaitkan dengan pergerakan yang mulai terasa di survei. Salah satu tokoh senior menyebutnya sebagai momen yang bisa dikenali oleh banyak pihak dalam ruang-ruang rapat: “We’re all witnessing the Burnham bounce – whether that’s how you feel when you see the polls, or how we all feel when we have meetings together.”

Di sisi pemerintahan, sejumlah orang menyampaikan bahwa pekerjaan politik di sekitar perdana menteri berjalan lebih efektif. Seorang menteri menuturkan, “The system’s better, you get clearer decisions, better steers when you need them.” Namun ia juga menambahkan catatan sinis soal perbandingan rezim: “it’s unfair to compare the end of a regime which is always pretty nasty, with the arrival of a new one which is always more hopeful… these things can change”.

Dalam beberapa hari ke depan, ada kabar perencanaan pengumuman di bidang perumahan dan pertahanan. Sejumlah MP juga menantikan perluasan gagasan yang selama ini sering terdengar, tetapi belum sepenuhnya didefinisikan secara spesifik: “public control” dan “re-industrialisation”.

Bagi Burnham, tema-tema yang menjadi langganan itu kemungkinan justru akan membuatnya nyaman berbicara lebih lama. Akan tetapi, ada kenyataan lain yang lebih tidak menyenangkan dan—menurut mereka—tidak bisa dihindari.

Seorang menteri menempatkan ini dalam metafora musik politik: “It’s a new front man,” tetapi “the song hasn’t changed.” Musim gugur, kata mereka, berpotensi diiringi “soundtrack” yang jauh lebih muram daripada yang sedang dinikmati sekarang.

Untuk beberapa hari ke depan, Burnham akan hadir menebar perhatian di banyak acara partai. Sementara itu, kanselir John Healey dikatakan menghabiskan banyak waktu di kamar hotel, mengambil keputusan terkait Budget yang hanya tinggal sebulan lagi.

Tekanan terhadap uang publik dinilai sangat intens menjelang saat pengambilan keputusan. Pilihan yang beredar dalam percakapan internal diringkas dengan satu dikotomi, “10 billion of cuts or 10 billion of tax rises,” menurut seorang figur yang “well-connected”.

Namun sumber-sumber dari Treasury disebut tidak mengakui angka sesederhana itu. Bagaimanapun bentuk angka itu akhirnya disusun, beban biaya pembayaran bunga utang negara kian berat, sementara pos pengeluaran lain juga bergerak naik.

Mereka juga mengingatkan pada tagihan kesejahteraan yang makin meningkat, serta tuntutan tambahan untuk belanja pertahanan. Dalam konteks konferensi, situasi ini terasa tidak biasa: acara partai berlangsung ketika Budget berada hanya beberapa pekan lagi, dan bayangannya justru mengganggu euforia yang sedang tumbuh.

Masalah ekonomi, menurut pandangan tersebut, tidak berdiri sendiri dari kebingungan fiskal. “The UK can’t force the US and Iran to find peace, to get traffic flowing freely through the Strait of Hormuz, to bring the oil price down.”

Di saat yang sama, pemerintah juga tidak bisa mengendalikan jalannya konflik yang sedang berlangsung. “Nor can the prime minister make Putin bring his war on Ukraine to an end, with pressure on European gas supply as we enter another winter.”

Di tingkat domestik, prediksi juga muncul soal biaya energi tahunan yang akan naik. Dikatakan, “There are already predictions of our annual energy bills going up by £500 early next year.”

Seorang insider menyebut kenyataan itu dengan nada langsung: “We’re really suffering at the hands of energy prices”. Bahkan satu figur berpengaruh memproyeksikan rangkaian konsekuensi ekonomi yang berat, namun ia ragu rencana tim Burnham sudah benar-benar mengantisipasinya: “I just don’t see what the game plan is.”

Dalam penilaiannya, tantangan yang datang mencakup “rising housing costs, rising inflation, downward pressure on public spending because of the cost of borrowing, 500 quid on energy from January”. Ia menempatkan kebijakan di titik yang bisa berujung pada perubahan suasana, bukan hanya perdebatan ruang rapat.

Di dalam partai, muncul juga pertanyaan apakah pemerintahan baru benar-benar menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas utama. Banyak prioritas awal, menurut kritik yang terdengar, lebih berkutat pada pengeluaran ketimbang membantu orang agar bisa menghasilkan pendapatan.

Salah satu penasihat internal yang berbicara secara terbuka bahkan menyebut pemerintahan itu dengan istilah yang cukup tajam: “traditional tax and spend socialist government with better TikTok”.

Kemudian, mantan sekretaris bisnis Peter Kyle dikabarkan menyampaikan perhatian secara sopan namun tegas. Kyle mengatakan: “We must act with more urgency, and we must feel the need for economic growth as acutely as we do about tackling things like rough sleeping and about social care, and some of the social reforms that we want because they are inextricably linked.”

Ia bukan satu-satunya yang mengkhawatirkan arah diskusi tersebut. Ada juga pembicaraan mengenai spekulasi anggaran yang menyinggung kenaikan pajak atas properti maupun aset lain seperti saham dan kepemilikan saham.

Di sisi lain, kelompok di kiri partai menekan agar pemerintah meredakan beban pada pekerja bergaji lebih rendah. Seorang figur menegaskan, “Labour has a second hearing. One shot to get this right. It is beyond doubt that if they do not keep to the promises made to everyday people – workers and communities will turn their back.”

Dari kubu serikat pekerja, ekspektasinya adalah tuntutan pembaruan pemotongan pajak bagi pekerja dan dorongan investasi. Dalam gambaran internal, ini seperti tarik-menarik yang belum tentu berakhir rapi pada satu sisi.

Dalam beberapa hari ke depan, kata mereka, Partai Buruh mungkin memang akan terlihat seperti “happy political tribe”. Pemimpin baru “delighted to be in charge”, sementara anggota biasa “relieved to have a leader they can cheer”.

Namun, ada peringatan dari seorang tokoh senior yang menyebut kemungkinan perubahan rasa pada bulan-bulan mendatang. “The budget looks like a disaster – by Halloween we’ll be looking at something else,” katanya, memprediksi suasana yang bisa berbalik.

Amat mungkin ramalan itu tidak langsung cocok dengan atmosfer saat ini. Tetapi ada kekhawatiran yang pelan-pelan merayap: apakah retorika tentang harapan dan perubahan bisa sejalan dengan pengalaman yang dirasakan masyarakat.

Sumber senior menekankan kebutuhan keberanian politik yang lebih dari sekadar slogan: “His political will needs to be more bold than the machine around him – don’t write cheques you can’t cash.”

Seorang menteri lain mengeluhkan kenyamanan politik untuk berbicara pada skala besar jangka panjang, dibanding menggulatkan persoalan yang sedang terjadi hari ini: “there is comfort in dealing with some of the largest possible questions because it’s a way off delivering them. But the cost of getting to work, or getting across town is expensive, going out or staying in – that’s right now”.

Untuk memperjelas jarak antara panggung dan realitas, ia mencontohkan cara orang merasakan perubahan harga dalam kehidupan sehari-hari. “If you go into Tesco and the cereal you buy is noticeably more expensive, that has more cut through than any political clip you see on telly or Facebook.”

Bagi mereka, perbedaan yang dirasakan Labour sekarang bukan semata-mata “antara saat ini dan masa-masa sulit”. Seorang menteri menyebutnya sebagai kontras rezim baru dan rezim lama: “The contrast is not between now and hard times, but between the new regime and the old regime.”

Konferensi mungkin menjadi ruang bagi partai untuk menunjukkan kebersamaan sekaligus menampilkan diri di hadapan publik. Tetapi pertanyaan yang menunggu di luar aula konferensi tetap sama: apakah euforia yang sedang dibangun itu bisa bertahan jika kesulitan nyata benar-benar menekan?