jurnalistik.co.id – Awal kiprah Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026 disebut menjadi sorotan, terutama terkait kontribusi Pedri yang dinilai belum tampil pada level terbaiknya. Kritik itu datang dari mantan pelatih Barcelona, Quique Setien.
Dalam penilaiannya, Setien menilai ada masalah pada cara permainan Spanyol diramu ketika Pedri menjalankan tugasnya. Menurut dia, peran yang diminta dari Pedri di skuad saat ini tidak selaras dengan karakter yang biasanya membuat sang gelandang menonjol di klub.
Setien menyampaikan pandangannya lewat program Carrusel dan kemudian dikutip oleh Barca Universal pada Senin (29/6/2026). Ia menekankan bahwa perbedaan tuntutan permainan antara level klub dan tim nasional membuat Pedri tidak bisa keluar dengan potensi yang sama.
“Pedri berkomunikasi jauh lebih baik dengan rekan setimnya di Barcelona daripada dengan para pemain ini,” ujar Setien.
Ia menjelaskan, pada Barcelona, alur pergerakan rekan-rekannya dipahami dengan lebih dekat, sehingga komunikasi dan ritme kerja Pedri berjalan lebih alami. Namun, ketika berada di tim nasional, ia melihat ada penyesuaian yang justru membuat koordinasi menjadi kurang efektif di area yang semestinya menjadi ruang untuk Pedri bergerak dan menghubungkan lini.
Menurut Setien, salah satu gambaran yang ia soroti adalah Pedri sempat dipasang sebagai pemain nomor 10. Dalam pandangannya, penempatan itu menghambat pergerakan Pedri, khususnya saat menghadapi pertahanan rapat yang membuat ruang gerak semakin terbatas. Setien juga menyoroti akurasi operan di sekitar gelandang tersebut saat pertandingan berlangsung dalam ruang yang sempit.
“Rodri, Fabian, atau pemain yang bisa bermain di posisi itu kurang tepat dalam mengoper bola di ruang yang sempit ketika lawan bermain bertahan,” imbuh Quique Setien.
Setien menilai kegagalan membangun ritme yang serupa dengan di klub terlihat dari hasil awal Spanyol di turnamen. Ia menyebut Spanyol sempat ditahan imbang Cape Verde dan menang dengan susah payah atas Uruguay, sehingga menunjukkan bahwa struktur permainan mereka tidak berjalan dengan lancar.
“Pedri berkomunikasi jauh lebih baik dengan rekan setimnya di Barcelona daripada dengan para pemain ini,” kata Setien sekali lagi, sebagai penegasan bahwa masalah yang ia maksud bukan semata soal kualitas pemain, melainkan konteks taktik dan cara tim mengeksekusi peran.
Struktur tim nasional membuat opsi Pedri tidak menemukan ruang
Setien juga mengaitkan kritiknya pada pola pergerakan pemain sayap Spanyol. Ia menilai peran bek sayap belum padu dengan kebutuhan taktik yang mendukung posisi Pedri, sehingga hubungan antarposisi tidak terbentuk sebagaimana mestinya.
Dalam penilaiannya, “Llorente dan Cucurella juga tidak begitu memahami posisi tersebut,” tambah Setien. Ia menilai keduanya sebenarnya datang sesuai konteks permainan, tetapi kesulitan menemukan umpan dan ruang yang diperlukan agar pergerakan tersebut bisa memberi dampak.
“Mereka datang, tetapi kesulitan menemukan umpan dan ruang, karena mereka bermain berbeda di klub mereka. Ini adalah mekanisme yang tidak bisa diubah dalam semalam,” lanjut Setien.
Dengan kata lain, Setien memandang bahwa adaptasi permainan membutuhkan keselarasan yang tidak bisa dipaksakan cepat. Ia menilai perbedaan pembiasaan di lingkungan klub membuat koordinasi di tim nasional butuh waktu lebih panjang, sementara perubahan mendadak pada mekanisme permainan justru membuat jalur kontribusi Pedri menjadi terputus.
Kritik bukan untuk menyerang Pedri, melainkan peran yang dibebankan
Meski menyoroti masalah taktik, Setien menegaskan bahwa kritiknya bukan ditujukan kepada Pedri sebagai pemain. Menurutnya, yang perlu dipersoalkan adalah peran yang dibebankan kepada Pedri dalam skema yang sedang dipakai, karena hal itu menentukan seberapa besar dampak yang bisa dihasilkan.
Ia berpendapat Pedri akan tampil paling berbahaya ketika berada dekat pusat permainan. Dalam kondisi itu, Pedri dinilai sering menyentuh bola, lalu menghubungkan lini dengan cara yang membuat permainan tim lebih hidup. Setien menilai, masalah muncul ketika Pedri tidak ditempatkan pada situasi yang memungkinkan karakter tersebut bekerja secara optimal.
Dengan pendekatan itu, Setien juga menilai Spanyol belum menemukan format yang benar-benar memaksimalkan bagaimana Pedri seharusnya menjadi penggerak hubungan antar-lini. Akibatnya, Pedri tidak dapat memberi pengaruh yang signifikan seperti yang biasa ia tunjukkan dalam kesehariannya di Barcelona.
Setien, yang merupakan pelatih kelahiran Santander (27 September 1958), menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa perubahan peran dan mekanisme yang tidak sesuai dapat membuat pemain dengan karakter spesifik—seperti Pedri—kehilangan ruang untuk menjalankan fungsi terbaiknya di lapangan.












