jurnalistik.co.id – Rumah lelang âOn The Square Emporiumâ di Bangor, County Down, dikritik sejumlah akademisi setelah menjual sisa-sisa manusia, termasuk kepala mumi Mesir berusia sekitar 3.000 tahun.
Kritik itu muncul karena antropolog mempertanyakan apakah penjualan barang tersebut memang tepat dari sudut pandang etika, meski dinilai legal oleh pihak penyelenggara.
Salah satu ahli menyatakan, âjust because something is legal doesnât mean itâs ethicalâ. Kalimat itu mencerminkan kekhawatiran bahwa legalitas tidak otomatis berarti pembenaran moral.
Kontroversi penjualan dan pembelaan pemilik
Dalam daftar lelang yang berjalan, rumah lelang tersebut mencantumkan dua objek kepala manusia: kepala mumi Mesir berumur 3.000 tahun dan tengkorak piala suku Dayak dari Borneo, Indonesia.
Pemilik On The Square Emporium, Justin Lowry, membela praktik penjualan itu. Ia mengatakan, âI appreciate there are people that see human remains as something thatâs religious, but to a lot of people once you die and your soul, or whatever is you, has left the bodyâ.
Lowry juga menekankan pandangannya bahwa objek yang tersisa bukan lagi tubuh manusia dalam bentuk fungsional. Ia menyebut, âWhat is left is an inanimate object. Like all other objects, some people have no interest in this, some people think itâs repulsive, but other people like them and they collect them.â
Ia menuturkan kepala mumi Mesir akan tetap dipajang di emporeumnya hingga akhir September agar publik dapat melihatnya. Setelah itu, objek tersebut akan masuk ke koleksi pribadi.
Lowry mengaku ada pembeli lokal yang telah diamankan untuk kepala mumi tersebut dan menambahkan bahwa ia memahami argumen mengenai âdisposed of or buriedâ. Namun, ia menilai seruan agar pihak tertentu tidak diperbolehkan mengakses atau menilai objek itu berpotensi tidak konsisten, dengan menyatakan, âSo only people who have doctorate degrees or work in museums should be allowed to look at and appreciate these things?â
Ia juga menegaskan nilai kepemilikan yang menurutnya melekat pada objek sejarah tersebut. Lowry mengatakan, âThe Egyptian mummy head is something from 3,000 years ago. It has an intrinsic value and an ownership,â sebelum menambahkan, âWhy should someone hand over ÂŁ20,000 of stuff that they have bought, that they have appreciated?â
Dorongan regulasi dan posisi politisi
Di sisi lain, seorang anggota parlemen dari Partai Buruh yang mensponsori rancangan undang-undang untuk melarang penjualan sisa manusia di Inggris, Bell Ribeiro-Addy, mengangkat kasus penjualan tersebut dalam unggahan di X.
Dalam unggahannya, Ribeiro-Addy menyatakan, âThe government must legislate to end this macabre tradeâ. Pernyataan itu menegaskan dorongan agar pemerintah mengambil langkah hukum untuk menghentikan perdagangan yang dianggap menjijikkan.
Surat bersama akademisi dan penilaian etis
Surat bersama yang dikirim pada bulan April oleh para antropolog dari British Association of Biological Anthropology and Osteoarcheology (BABAO) menyoroti persoalan asal-usul item yang diperdagangkan oleh On The Square.
Surat itu menyatakan bahwa sangat sedikit sisa manusia impor yang diperoleh dengan cara yang benar-benar etis atau legal. Poin tersebut menjadi dasar kekhawatiran bahwa kebutuhan koleksi dan pasar dapat mengaburkan proses pengambilan objek di masa lalu.
Dr Trish Biers, ahli sisa manusia yang duduk di dewan perwalian BABAO, menyampaikan bahwa ia memahami rasa ingin tahu publik terhadap yang telah wafat, namun objek yang dijual tetap melekat pada kemanusiaan. Ia mengatakan, âThey havenât stopped being human beings, theyâve simply stopped breathing,â seraya menambahkan, âI think selling human beings is whatâs really ethically problematic.â
Usia, asal-usul, dan klaim umur radiokarbon
Menurut keterangan dalam daftar lelang, kepala mumi Mesir diberi penanggalan radiokarbon antara 750 hingga 800 SM. Objek itu disebut berasal dari sebuah koleksi pribadi.
Lebih lanjut, listing menyebut bahwa kepala tersebut dibawa ke Inggris oleh seorang tentara Inggris selama Perang Dunia Pertama, lalu tetap berada dalam kepemilikan keluarga selama satu abad.
Untuk kepala dari Indonesia, objek Dayak dalam daftar disebut telah diberi penanggalan karbon antara 800 SM hingga 750 SM.
Lowry juga menambahkan keyakinannya bahwa masih ada ribuan jenis sisa semacam itu âin atticsâ di Inggris, dan sebagian orang, menurutnya, memilih memajangnya di rumah. Ia mengatakan publik mengambil âgreat pleasureâ dari aspek estetika serta âwondering who was that personâ.
Dr Biers, yang mengoordinasikan satuan tugas untuk melacak bagaimana sisa manusia dijual secara daring, menyebut penjualan mengalami lonjakan âsince social media beganâ, terutama dalam lima tahun terakhir.
Ia menilai masalah etis berawal dari bagaimana sisa-sisa tersebut diperoleh secara historis. Ia menggambarkan, âMurder, kidnap, people selling because theyâre poor and they have no other way to feed their family so somebody wealthy comes along and says: âWell, Iâll buy that head or that body from you and take it back to London and then sell it at auction,ââ.
Penggunaan kolektor dan contoh dampak
Menurut Biers, para kolektor memiliki berbagai cara pemanfaatan, mulai dari tujuan ritual hingga mengubah sisa manusia menjadi benda seperti lampu dan perhiasan.
Ia juga merujuk adanya bukti situasi mengerikan dalam perdagangan tersebut, termasuk contoh âa childâs spine as the handle of a handbag being sold for over âŹ6,000 (ÂŁ5,174)â.
Di tengah tarik-menarik antara legalitas penjualan dan keberatan etis, rumah lelang mempertahankan posisi bahwa objek yang dijual memiliki nilai sejarah dan dinilai pantas dipajang hingga akhir September, sementara kritik akademisi menuntut agar diskursus publik tidak berhenti pada âboleh atau tidakâ, melainkan juga menilai dampak moral dari perdagangan sisa manusia.








