jurnalistik.co.id – Penggiat kampanye pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak mengkritik mantan pembawa berita BBC, Huw Edwards, setelah ia meluncurkan blog di platform Substack. Kritik itu muncul menyusul pengakuannya pada kasus akses “gambar anak” pada 2024.
Sejumlah kampanye menilai pilihan Edwards tidak pantas dan tidak menghormati korban. Salah satu penggiat bahkan menyebut blog tersebut menunjukkan “staggering lack of awareness”.
Edwards, yang sedang menjadi sorotan karena perkara yang pernah menjeratnya, meluncurkan blog pada Rabu menggunakan Substack. Di blog itu, ia menawarkan “commentary and analysis” mengenai isu-isu seperti urusan terkini dan kesehatan mental.
Langkah tersebut mendapat reaksi dari berbagai pihak yang sebelumnya mengikuti proses hukum. Ada pula yang menuding Edwards “lacking remorse”.
Menanggapi kritik, Edwards menyampaikan bahwa “those exercised by the piece might have missed the intent expressed” di blognya. Ia juga mengemukakan penyesalan dan rasa bersalahnya telah disampaikan di persidangan dan melalui pernyataan publik.
Pengakuan akses 41 gambar anak dan vonis
Dalam sidang pada 2024, Edwards mengaku telah mengakses 41 gambar anak. Dari jumlah tersebut, ia menyebut ada tujuh gambar yang termasuk kategori paling serius.
Atas pengakuan itu, Edwards dijatuhi hukuman enam bulan penjara yang ditangguhkan untuk masa dua tahun. Ia juga ditempatkan dalam daftar pelaku kejahatan seksual selama tujuh tahun.
Pada proses pengadilan 2024, Edwards mengatakan ia menyatakan “sincere regret and remorse”. Ia juga menyampaikan hal serupa melalui pernyataan publik yang diterbitkan pada Maret.
Menurut laporan BBC, kritik kembali menguat setelah blog Edwards dibuka untuk komentar. Platform Substack yang ia gunakan untuk blog pertamanya disebut tidak mengaktifkan fungsi komentar.
Kata-kata Emma Jane Taylor: “staggering lack of awareness”
Emma Jane Taylor, kampanyeer dan pendiri charity akar rumput Project 90-10, menyatakan bahwa keputusan Edwards untuk kembali ke ruang publik memperlihatkan kurangnya kesadaran. Ia menyebut, “To think he can simply return to a public platform and be received as though nothing has happened shows a staggering lack of awareness.”
Taylor, yang merupakan penyintas kekerasan seksual terhadap anak, bekerja penuh waktu di sektor kebugaran dan kesejahteraan. Ia juga menjalankan organisasi secara sukarela karena yakin ada kebutuhan akan “better awareness, better safeguarding, and better training”.
Ketika menanggapi blog Edwards, Taylor mengaku sangat frustrasi. Ia mengatakan, “I am deeply frustrated by this. Because of my personal trauma, I decided to speak out in my 40s. So many people are so afraid to have this conversation, so we don’t.”
Ia kemudian menambahkan bahwa bila kasus serupa terjadi pada orang di lingkungan dekat, publik kemungkinan akan bereaksi lebih keras. Taylor berkata, “If it was the bloke next door, everyone would be up in arms about it.”
Meski ia memperkirakan ada kelompok yang menganggap Edwards layak diberi kesempatan kedua, Taylor menegaskan bahwa status pelaku seharusnya tidak memberi hak untuk kembali mempublikasikan diri. Ia menuturkan, “He is on the sex offenders’ register – that should not entitle him to a blog. We don’t want to hear from you, Huw.”
Taylor juga mengaitkan keberatannya dengan dampak lanjutan bagi korban. Ia menyatakan ia sangat marah dan sangat terluka bagi para korban setelah blog diterbitkan, karena proses penegakan hukum membutuhkan waktu dan upaya besar. Ia menegaskan, “They had to dig so deep to bring this man to justice. They are trying to rebuild their life.”
Menurut Taylor, publikasi itu dikhawatirkan mengembalikan penyintas pada posisi yang seharusnya tidak lagi terjadi. Ia menyampaikan, “It will put survivors back in their box. We need to get to a point where victims can be heard, believed and seen without having the pressure of celebrated perpetrators… where survivors have a voice and paedophiles don’t.”
Balasan Edwards soal “rebuild” dan kritik Taylor atas “second chance”
Dalam postingan blog Substack pertamanya, Edwards menyatakan bahwa ia “attempting to rebuild some kind of worthwhile life”. Taylor menilai seharusnya proses itu dilakukan secara privat dan tidak dibawa ke platform publik.
Taylor menekankan bahwa langkah pertama yang ia harapkan adalah menunjukkan penyesalan. Ia berkata, “showing some remorse”.
Ia menambahkan bahwa Edwards sudah memiliki kesempatan. Taylor menuturkan, “He had his chance. If you really feel that strongly about your journey, go and invest that in helping other sex offenders stop offending. Maybe go into prisons,” serta menambahkan, “Putting yourself on a pedestal is not going to help this conversation. Public trust is not something you’re entitled to, you earn it. Actions have consequences.”
Menurut laporan, Taylor juga mengkritik konsep kepercayaan publik yang dipandangnya seharusnya dibangun lewat tindakan. Ia menilai tindakan berpotensi mempengaruhi cara masyarakat memandang korban dan penyintas.
Karier Edwards dan kritiknya pada drama Channel 5
Edwards, yang kelahirannya dari Bridgend, memulai kariernya di Wales sebelum menjadi salah satu pembaca berita televisi publik dengan bayaran tertinggi. Ia menyajikan “BBC News at Ten” selama puluhan tahun.
Selama bertahun-tahun, ia membawakan sejumlah kisah besar dalam sejarah terkini Inggris, termasuk kematian Ratu Elizabeth II.
Laporan menyebut Edwards pernah mengkritik drama Channel 5 tentang kasusnya. Dalam pernyataan, ia menyebut tayangan itu sebagai “one-sided account” dengan “misleading and fabricated claims”.
Dukungan RASASC North Wales: pelanggaran tidak tanpa korban
Fflur Emlyn, deputy chief executive di RASASC North Wales yang mendukung penyintas kekerasan dan pelecehan seksual, menyatakan perhatian utama organisasi adalah dampak bagi mereka yang terdampak. Ia menekankan, “offences involving indecent images of children are not victimless”.
Emlyn menambahkan bahwa gambar-gambar itu merekam kekerasan pada anak sungguhan dan banyak penyintas harus hidup dengan efek jangka panjang. Ia berkata, “These images document the abuse of real children, and many survivors live with the long-term effects of that exploitation.”
Menurutnya, penting agar perhatian tidak kehilangan korban secara langsung maupun tidak langsung. Emlyn menuturkan, “In all of this, it is important that we do not lose sight of the impact on victims — both directly and indirectly. The reality is that sexual abuse can have devastating and long-lasting consequences.”
Emlyn juga mengakui bahwa perkembangan terbaru dalam kasus ini, termasuk “a return to public platforms”, dapat berdampak pada penyintas. Ia menegaskan, “If anyone has been affected, support is available.”
Pernyataan Maret: “deep regret and remorse” serta “sincere and profound apologies”
Menanggapi kritik, Edwards merujuk pada pernyataan yang ia keluarkan pada Maret. Pernyataan itu, menurut laporan, “conveys ‘deep regret and remorse’” dan memuat “sincere and profound apologies”.
Pernyataan itu juga menyebut Edwards “took full responsibility for my reprehensible actions” sebagai respons terhadap drama Channel 5 yang disebutnya tidak seimbang.
Dengan kemunculan Edwards di ruang publik melalui blog, perdebatan kembali menguat di tengah kekhawatiran soal dampak pada penyintas. Berbagai pihak menilai diskusi publik harus memberi ruang pada korban tanpa menormalisasi pelaku.







