jurnalistik.co.id – Tanda-tanda bahwa Sir Keir Starmer akan mengundurkan diri semakin menguat, seiring suasana di pemerintahan yang disebut telah berubah dalam 48 jam terakhir. Sejumlah pihak di lingkungan pemerintah kini memperkirakan pengunduran diri bisa diumumkan Senin.
Menurut laporan BBC, Henry Zeffman dan Nick Eardley menilai Senin berpeluang menjadi hari ketika perdana menteri menyampaikan rencana untuk mundur. Selama ini Starmer menegaskan ia tidak berniat pergi begitu saja dan akan menghadapi setiap tantangan kepemimpinan.
Namun, “mood” di pemerintahan disebut bergeser secara nyata dalam waktu singkat. Beberapa orang yang menjadi sumber di dalam pemerintahan kini berpikir Starmer bisa mengumumkan jadwal untuk keluar, bahkan “as soon as Monday”.
Perubahan arah itu juga dikaitkan dengan pernyataan Peter Kyle. Business Secretary tersebut mengatakan kepada BBC bahwa tanda-tandanya menunjukkan langkah akan bergerak cepat.
Kyle menyebut Starmer akan melakukan “what is in the best interests of the country”. Ia menambahkan bahwa Sir Keir sedang menimbang tantangan yang dihadapi serta realitas politik.
Tantangan yang disebut terus meningkat tidak muncul dalam semalam. Dalam pemberitaan ini, masalah bagi Starmer digambarkan telah bertumbuh selama beberapa waktu, termasuk di tengah dinamika internal Partai Buruh.
Bagi para anggota parlemen dari Partai Buruh, faktor yang dianggap kian menekan adalah hasil pemilihan sela Makerfield. Kemenangan Andy Burnham disebut tidak hanya signifikan, tetapi juga “not even close”, karena ia mengalahkan kubu Reform dengan nyaman.
Hasil tersebut dipaparkan sebagai “straw that breaks the camel’s back” bagi sejumlah anggota parlemen yang mulai frustrasi. Di sisi lain, terdapat argumen bahwa Burnham kini memiliki landasan untuk memimpin karena rekam jejaknya dalam berhadapan dengan Nigel Farage dan partainya.
Daftar anggota parlemen yang menyatakan Starmer seharusnya mundur juga dilaporkan terus bertambah. Sejak Kamis, suara para menteri senior disebut ikut menguat, meski mereka menyampaikannya secara privat.
Bertambahnya tekanan itu juga ditautkan pada fakta bahwa diketahui beberapa menteri termasuk Foreign Secretary Yvette Cooper, Home Secretary Shabana Mahmood, dan Transport Secretary Heidi Alexander telah menyampaikan agar Starmer pergi, namun mereka tetap menjalankan jabatan. Situasi ini dalam laporan tersebut dipandang “speaks volumes about how Starmer’s authority has collapsed”.
Dalam gambaran politik yang disajikan, Burnham kini menjadi favorit kuat untuk menjadi perdana menteri berikutnya. Jika Starmer benar-benar mengundurkan diri dalam beberapa hari mendatang, pertanyaan berikutnya adalah apakah akan ada kontestasi sama sekali.
Wes Streeting, mantan health secretary, sebelumnya mengatakan ia akan maju. Namun, kini sekutunya disebut mengisyaratkan perlu ada percakapan di antara kandidat untuk posisi No 10 mengenai seperti apa wajah masa depan.
Masih ada sinyal bahwa kemungkinan kesepakatan dapat dicapai. Meski begitu, kubu Team Streeting pada saat ini menyatakan posisinya belum berubah.
Meski demikian, laporan juga mengingatkan bahwa peluang kandidat lain untuk maju bersifat terbatas waktu. Kandidat baru disebut harus mengumpulkan dukungan 81 anggota parlemen agar bisa masuk ke pemungutan suara kepemimpinan.
Setelah persoalan siapa yang akan memimpin, waktu transisi juga menjadi titik perbedaan. Di dalam Partai Buruh sendiri, terdapat perbedaan pandangan tentang seperti apa transisi yang “orderly”, termasuk berapa lama prosesnya.
Beberapa figur berpengaruh di kubu Burnham ingin agar ia mengambil alih sekitar waktu Konferensi Tahunan Partai Buruh pada akhir September. Mereka meyakini itu memberi ruang lebih untuk persiapan, sekaligus memastikan Burnham dapat langsung menjalankan pemerintahan bila menjadi perdana menteri.
Sementara itu, pendukung lain dari mantan wali kota Greater Manchester menilai jadwal tersebut terlalu lambat. Mereka berargumen bahwa jeda selama tiga bulan akan membuat pemerintah tersendat, sementara spekulasi mengenai rencana pemerintahan Burnham justru makin memanas.
Seorang menteri dalam laporan tersebut mengutip kekhawatiran bahwa “His opportunity to define himself would be thrown off by endless speculation”. Pernyataan itu menekankan dampak spekulasi berkepanjangan terhadap ruang Burnham untuk membentuk identitas dan arahan.
Pertanyaan penting lain yang sejak awal disebut menjadi bahan spekulasi adalah siapa yang akan diangkat Burnham sebagai chancellor. Dalam hari-hari terakhir, sebagian anggota parlemen melihatnya sebagai pertarungan langsung antara Ed Miliband dan Shabana Mahmood.
Tetapi, kini Mahmood disebut diperkirakan akan tetap bertahan pada perannya saat ini jika Burnham menjadi perdana menteri. Dengan demikian, dinamika penunjukan chancellor dipandang bergerak menuju skenario yang membuat Miliband menjadi sorotan khusus.
Prospek Miliband sebagai chancellor disebut menimbulkan kegelisahan serius di kalangan anggota Partai Buruh dari sayap kanan. Mereka menilai penunjukan Miliband akan menjadi pergeseran yang jelas ke kiri.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa “If he picks Miliband, about 100 Labour MPs will be furious from the outset”. Pernyataan ini menunjukkan reaksi yang diperkirakan muncul sejak awal jika Miliband dipilih.
Selain itu, Sharon Graham—sekretaris jenderal serikat buruh Unite—telah secara terbuka mendesak agar Burnham tidak menunjuk Miliband. Tekanan semacam ini memperlihatkan bahwa keputusan chancellor bukan sekadar jabatan, melainkan juga menyentuh batas-batas dukungan di internal partai.
Di akhir pekan, Burnham dan sekutunya digambarkan “gone to ground”. Mereka dikatakan ingin memberi waktu kepada Starmer untuk merenungkan hasil Makerfield dan mengambil kesimpulan sendiri mengenai masa depannya.
Sejauh ini, laporan menyatakan tanda-tanda yang muncul justru sejalan dengan langkah refleksi tersebut. Beberapa hari mendatang disebut bisa menjadi sangat menentukan, tidak hanya bagi Partai Buruh, tetapi juga bagi negara secara lebih luas.
Dalam pemberitaan ini, pembicaraan bahwa Starmer akan bertahan untuk “fight” disebut meredup dengan cepat. Ketika suasana terus berubah, arah langkah selanjutnya—termasuk jadwal, kontestasi, dan susunan tim pemerintahan—diperkirakan akan segera mendapat jawaban.












