jurnalistik.co.id – Protes menentang pemerintah India yang melibatkan gerakan Cockroach Janta Party (CJP) ternyata meninggalkan dampak berlapis, terutama bagi perempuan muda yang aktif memposting konten saat demonstrasi berlangsung. Sejumlah dari mereka mengatakan pelecehan dan ancaman ikut “mengikuti” setelah hari-hari aksi berakhir, berawal dari ruang digital hingga merembet ke keluarga.
Selama protes, banyak anak muda mengisi media sosial dengan video pendek, meme, dan unggahan bernada sindiran tentang Perdana Menteri Narendra Modi. Mereka merekam lip-sync, “reels” yang penuh humor, hingga potongan lelucon dalam perjalanan menuju lokasi aksi, sebelum kemudian menghadapi konsekuensi yang tak mereka duga.
CJP sendiri dikenal sebagai gerakan yang digerakkan anak muda dan memanfaatkan Instagram setara dengan arus unjuk rasa di jalanan. Mereka juga dikaitkan dengan rangkaian tekanan yang berujung pada pengunduran diri menteri pendidikan India, sementara dokumentasi aksi—termasuk respons aparat—beredar luas di kanal-kanal viral.
Pada 20 Juli, polisi menggunakan gas air mata dan melakukan tuduhan dengan pentungan untuk menghentikan demonstran yang berupaya bergerak menuju parlemen. Pada hari itu, polisi Delhi menyebut 60 pengunjuk rasa dan 118 personel polisi mengalami cedera, sementara pihak CJP menyatakan angka korban pengunjuk rasa jauh lebih tinggi dari hitungan resmi.
Dalam periode setelah protes, polisi membuka sejumlah perkara pidana terhadap sebagian demonstran. Namun, menurut banyak perempuan yang bercerita, bab berikutnya justru berlangsung di internet: ancaman kekerasan seksual, gambar yang diedit agar tampak “mencemarkan”, serta serangan yang datang dari orang-orang tak dikenal yang menelusuri foto dan video mereka.
BBC mewawancarai empat perempuan dan menelaah tangkapan layar atas pesan, unggahan, serta materi pelecehan yang mereka bagikan. Demi menjaga identitas, nama mereka tidak digunakan dalam cerita ini.
Konten yang dibagikan berubah menjadi sasaran
Seorang kreator konten berusia pertengahan 20-an mengatakan ia mulai memposting sejak awal, tetapi pada 20 Juli itu adalah kali pertama ia benar-benar hadir di lokasi protes. Setelah hari itu—termasuk setelah terjadinya serangan dengan pentungan dan pemadaman internet di sekitar area demonstrasi—ia memulai unggahan narasi sudut pandang langsung di Instagram.
Ia juga membantu pengorganisasian bantuan, termasuk makanan, bantuan darurat, dan relawan. Ia mengaku tak menganggap unggahannya sebagai tindakan politik, melainkan sekadar membantu; namun, “benci” mulai muncul hampir segera setelah ia memublikasikan kontennya.
Ia menyebut dirinya “slut-shamed” dan diserang karena mempertanyakan komentar Perdana Menteri setelah protes berakhir. Ia mengatakan ia sudah kehilangan hitungan untuk jumlah pesan yang ia hapus dan orang-orang yang ia blokir, tetapi serangan terus berlanjut.
Menurutnya, sebagai kreator konten ia hidup dengan rasa terus diawasi. “Setiap kata” yang ia tulis diperiksa, terutama oleh laki-laki, dan awalnya ia akan memblokir pria ketika mereka membuatnya tidak nyaman.
Ia kemudian memperhatikan algoritma mulai lebih mendorong unggahannya ke lebih banyak perempuan, dan ia percaya hal itu memberinya “perlindungan” dibanding banyak kreator perempuan lain. Walau begitu, ia tetap mengalami serangan yang sama—yang baginya menegaskan bahwa rasa takut online tidak benar-benar hilang, hanya berpindah tempat.
Ia juga menceritakan ibunya berhenti membaca kolom komentar sejak lama karena tak sanggup menghadapi apa yang orang asing katakan tentang putrinya. Ia menggambarkan bahwa perempuan di India sejak dini hidup dengan ketakutan: diminta tak keluar larut, memperhatikan ke mana pergi, siapa yang ditemani, dan bagaimana cara pulang.
Baginya, ketika seseorang “memiliki suara” di internet, ketakutan itu ikut terbawa. “It just follows you there,” ujarnya tentang bagaimana ancaman digital tetap mengikutinya.
Video singkat di lokasi aksi berbalik menjadi bukti untuk menyerang
Seorang mahasiswi berusia 20 tahun mengatakan itu adalah protes pertamanya. Ia hadir karena percaya para mahasiswa sedang berdiri untuk sesuatu yang penting.
Sebelum berangkat dari stasiun Metro, ia menempatkan ponselnya di pagar lalu merekam “fit check” cepat, yaitu video menampilkan pakaiannya sebelum aksi. Ia bahkan membuat bercanda “Going to get beaten by cops, guys,” menggambarkan gaya video ringan yang biasanya ia buat.
Ketika sore harinya polisi menembakkan gas air mata dan menyerbu demonstran, ia tetap merekam. Ia menyatakan video itu hanya dokumentasi terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, seperti kebiasaan yang ia lakukan.
Namun ia terkejut ketika unggahan-unggahan tersebut menembus jauh melampaui pengikutnya. Ia mengatakan salah satu videonya diputar di kanal televisi nasional, lalu tak lama setelah itu wajahnya mulai muncul dalam unggahan media sosial yang mengklaim demonstran tengah “diidentifikasi” oleh polisi.
Ia menambahkan bahwa seseorang bahkan menemukan kampus tempat ia belajar. Sejak itu, kotak masuknya dipenuhi pesan anonim; ada yang mengatakan akan melaporkannya kepada polisi agar ia dipukuli atau ditangkap.
Ia juga menyebut para penyerang menggunakan nama-nama merendahkan yang diasosiasikan dengan prostitusi, melontarkan komentar seksual yang eksplisit, mengejek tubuhnya, serta mengancam kekerasan. Ada yang menyatakan ia “taught a lesson” dan ada pula yang sekadar memperingatkan: “Your turn will come.”
Berita Terkait
Yang paling membuatnya takut, menurutnya, bukan hanya pelecehan yang ia terima, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Relatif dan kenalan menelepon orang tuanya, mendesak agar video segera dihapus atau mereka akan menghadapi konsekuensinya.
Melihat orang tuanya begitu cemas membuatnya terpukul. Setelah itu, ia mengaku telah menghapus atau mengarsipkan hampir semua video protesnya, dengan perhatian kini lebih besar pada kemungkinan yang bisa menimpa orang tuanya dibanding ancaman yang datang padanya secara langsung.
Aksi sebagai sikap—dan menjadi alasan untuk menghapus identitas
Seorang aktivis mahasiswa yang menyebut dirinya Muslim—bagian dari kelompok minoritas agama di India yang kian terpolarisasi—mengatakan ia sebelumnya terbiasa menyampaikan pendapat di ruang online. Identitas dan keyakinannya, katanya, tak membuatnya takut sebelum CJP menggelar protes.
Sesudah protes, situasinya berubah total. Akun Instagramnya kini bersifat privat, dan ia mematikan sebagian besar fitur di media sosial lain karena pelecehan baginya tak berhenti.
Ia menggambarkan setiap kali membuka ponsel, ia mendapati komentar atau pesan yang menyerang dirinya. Dalam masa aksi, ia membuat beberapa video satir selama pawai: satu menyoroti Perdana Menteri, sementara yang lain menampilkan mereka bernyanyi di panggung dan melafalkan slogan.
Ia menegaskan materi tersebut bersifat politis, irreverent, dan sejenis video yang biasanya ia buat. Tetapi, ia mengatakan unggahan-unggahan itu menyebar jauh melebihi lingkaran orang yang mengenalnya.
Ia menceritakan satu akun Instagram mengedit foto seolah-olah ia sedang mencium seorang pria untuk mempermalukannya. Akun lain memodifikasi citranya lalu menempelkan label “anti-nasional” dan “teroris” kepadanya.
Ia juga disebut sebagai “hijra”, menggunakan istilah untuk komunitas transgender di Asia Selatan sebagai hinaan. Ia menambahkan bahwa ia juga diremehkan sebagai “paid protester”, atau pengunjuk rasa bayaran.
Ia mengatakan ayahnya, yang bekerja sebagai jurnalis, membaca komentar dan panik. Ayahnya terus bertanya mengapa ia berani bersuara, lalu menyimpulkan bahwa begitu orang melihat nama Muslimnya, hal lain tak lagi dianggap penting.
Ia mengatakan orang tuanya juga menyaksikan investigasi dan penangkapan terhadap aktivis Muslim lain, sehingga mereka kini takut pola serupa akan terjadi pada dirinya. Ia menyebut keluarga mereka hidup dalam ketakutan yang terus-menerus.
Meski begitu, ia menyatakan tidak akan berhenti berbicara. Ia mengakui kini ia memahami biaya yang harus dibayar jauh lebih baik daripada sebelumnya, tetapi ia tetap meyakini keputusan untuk hadir di protes itu benar.
Pelecehan tidak datang setara—dan menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan perempuan
Seorang mahasiswa yang belajar di West Bengal mengatakan diskusi politik adalah bagian yang sudah melekat dalam kehidupan kampus, sehingga ia tak terlalu berpikir panjang saat memposting tentang protes. Ia bergabung dalam unjuk rasa Kolkata pada 20 Juli, dan sejak sebelumnya ia juga membantu secara online.
Ia menyebut bantuan yang ia koordinasikan mencakup persediaan seperti diabetic biscuits dan masker untuk orang yang khawatir identitasnya akan terungkap. Ia juga bekerja bersama seorang teman untuk meluncurkan penggalangan dana di Instagram.
Pada 24 Juli, ia mengatakan polisi mulai menahan pengunjuk rasa di negara bagian tersebut, sehingga perbincangan online pun berubah. Ia menuturkan saat itulah kebencian benar-benar mulai muncul.
Ia menerima komentar yang menyakitkan di unggahan penggalangan dan mendapat pesan pribadi yang menyebutnya “prostitute”. Pelecehan itu tidak berhenti bahkan setelah protes selesai, sehingga akhirnya ia menghapus unggahan tersebut.
Beberapa hari berikutnya, rasa takut untuk menjadi target doxxing menjadi kenyataan. Ia mengganti nama di media sosial, membuat akun lebih privat, dan memblokir pesan dari orang-orang yang tidak dikenalnya.
Bagian yang paling menyakitkan baginya adalah tidak semua temannya mengalami perlakuan yang sama. Ia mengatakan teman-teman prianya menyampaikan pandangan yang mirip, tetapi tidak diserang dengan pelecehan yang menargetkan seksualitas mereka atau hinaan tentang ibu mereka.
Ia pun mulai bertanya-tanya mengapa ketika menyangkut perempuan, respons cepat sekali berubah menjadi persoalan gender. Bagi banyak perempuan yang bercerita, jawabannya justru memperjelas bahwa kebebasan berbicara di internet—yang sering dianggap setara—ternyata jauh dari pengalaman mereka.
Dalam narasi yang mereka sampaikan, protes CJP mungkin berakhir di jalanan, tetapi perhitungan digital berlangsung lebih lama. Ancaman, editan gambar, dan penelusuran identitas membentuk pengalaman yang sama: suara online berubah menjadi risiko nyata—tidak hanya bagi mereka, melainkan juga bagi keluarga yang terhubung.












