Teknologi

Adam Mosseri jelaskan kenapa Instagram menampilkan ulang carousel yang sudah dilewati (bukan bug)

×

Adam Mosseri jelaskan kenapa Instagram menampilkan ulang carousel yang sudah dilewati (bukan bug)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Instagram Sering Tampilkan Lagi Postingan yang Sudah Di-skip, Ternyata Bukan Bug

jurnalistik.co.id – Pengguna Instagram kadang merasa “disuguhi ulang” konten dari akun yang sama setelah sebelumnya dilewati begitu saja. Fenomena itu sempat memunculkan dugaan gangguan sistem, tetapi Head of Instagram, Adam Mosseri, membantahnya.

Melalui kanal “Instagram Advice”, Mosseri menjelaskan bahwa konten yang di-skip tetap berpotensi muncul kembali di beranda atau lini masa. Menurutnya, mekanisme ini merupakan bagian dari cara Instagram menata pengalaman menonton pengguna, bukan bug.

Bagaimana carousel bisa tampil lagi

Mosseri menyoroti konten berformat carousel sebagai salah satu penyebab yang paling sering membuat pengguna merasa konten “terulang”. Carousel adalah unggahan yang memuat beberapa foto atau video dalam satu postingan.

Dalam unggahan terbarunya, Mosseri menyatakan bahwa Instagram dapat menampilkan ulang postingan carousel dari akun yang sama apabila pengguna melewatinya tanpa melakukan interaksi. Mosseri juga menyebutkan bahwa ketika konten itu ditayangkan untuk kedua kalinya, Instagram biasanya akan memulai dari slide yang berbeda.

“Jika seseorang melewati carousel tanpa berinteraksi, kami sering menampilkannya lagi nanti, dimulai dari slide lain,” kata Mosseri dalam unggahannya yang dikutip KompasTekno.

Dengan cara itu, konten yang sama dari akun yang sama bisa muncul kembali, walau sebelumnya hanya ditonton sekilas atau langsung di-skip. Pergeseran titik mulai tayang ke slide lain menjadi pembeda utama saat carousel tampil lagi.

Adam Mosseri tidak merinci alasan teknis yang lebih dalam mengenai mengapa mekanisme tersebut diterapkan. Namun, ia menawarkan penalaran yang mengarah pada nilai yang mungkin masih “terlewat”.

Secara logika, ini dapat dipahami sebagai upaya Instagram untuk memberi kesempatan pada pengguna agar mendapatkan bagian lain dari cerita yang ada di dalam carousel. Pasalnya, tiap slide bisa menyampaikan informasi atau elemen berbeda yang tidak terlihat ketika pengguna melewatinya terlalu cepat.

Jika pengguna tidak sempat melihat keseluruhan rangkaian slide, maka menampilkan ulang dari slide yang berbeda memberi kesempatan baru untuk menangkap konteks yang sebelumnya tidak tersaji. Dengan demikian, Instagram tidak hanya mengulang tampilan, tetapi mengubah cara urutan penyajiannya.

Mosseri menyebut bahwa foto di tiap bagian carousel mungkin memiliki nilai unik. Nilai itu, menurutnya, akan sia-sia jika tidak dilihat oleh pengguna lain atau oleh pengguna yang justru meng-skip unggahan tersebut.

Karena itu, Mosseri menekankan perhatian kreator pada struktur isi carousel. Ia meminta agar pembuat konten memastikan setiap slide tetap menarik dan punya makna tersendiri.

“Pastikan foto di slide-slide lain dalam carousel Anda dibuat semenarik mungkin agar memiliki makna tersendiri,” jelas Mosseri.

Pesan ini berkaitan dengan pengalaman audiens ketika carousel muncul lagi. Ketika Instagram memulai dari slide berbeda, pengguna tetap dapat memperoleh informasi atau rangkaian cerita yang lebih lengkap meski sebelumnya melewati postingan tersebut.

Di sisi lain, pendekatan ini juga berimplikasi pada cara pembaca “mengonsumsi” carousel. Pengguna yang tidak berinteraksi dan hanya melewati unggahan tetap akan berada dalam pola penayangan ulang yang diarahkan pada bagian lain dari postingan.

Dengan kata lain, apa yang terasa seperti konten yang “sudah lewat” sebenarnya masih berada dalam siklus rekomendasi internal, dengan variasi urutan slide agar pengguna tidak menerima tayangan yang identik persis seperti sebelumnya.

Carousel di Instagram dari waktu ke waktu

Sepintas, format carousel bukanlah hal baru di Instagram. Fitur ini diperkenalkan pada 2017 untuk memungkinkan pengguna mengunggah hingga 10 foto atau video dalam satu unggahan.

Seiring berjalannya waktu, carousel berkembang tidak hanya sebagai kumpulan gambar, tetapi juga menjadi format untuk menyampaikan cerita, informasi, hingga konten edukasi. Perluasan fungsi ini membuat carousel sering dipakai untuk rangkaian gagasan yang lebih panjang.

Platform kemudian memperluas batas jumlah slide menjadi 20 foto atau video dalam satu unggahan pada 2024. Kapasitas tersebut disebut masih bertahan hingga sekarang.

Perubahan jumlah slide membuat struktur carousel makin beragam, karena kreator bisa merancang alur yang lebih panjang dalam satu postingan. Hal ini juga memperbesar kemungkinan bahwa slide yang berbeda akan membawa fokus cerita yang berbeda pula.

Dalam konteks penayangan ulang yang dijelaskan Mosseri, perluasan kapasitas carousel menjadi relevan. Ketika jumlah slide lebih banyak, maka slide yang dimulai pada penayangan ulang juga berpeluang menyajikan informasi lain yang sebelumnya tidak terlihat oleh pengguna.

Itu sebabnya, saran Mosseri kepada kreator—agar setiap slide bermakna—menjadi semakin penting. Jika hanya beberapa bagian awal yang kuat, maka kemungkinan slide lain yang muncul saat carousel tampil kembali justru tidak memberi nilai yang cukup bagi audiens.

Bagi pengguna, penjelasan Mosseri membantu meredakan kecurigaan bahwa konten terulang terjadi karena gangguan. Fenomena tersebut lebih dekat dengan strategi penayangan yang mencoba menyesuaikan cara slide disajikan, terutama ketika pengguna melewati carousel tanpa interaksi.

Pada akhirnya, baik kreator maupun penonton sama-sama dihadapkan pada realitas bahwa carousel adalah rangkaian. Jika rangkaian itu dilewati, Instagram masih menyediakan kesempatan untuk memulai bagian lain di lain waktu.