jurnalistik.co.id – Jejaring akun Instagram diduga ikut mendorong krisis di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di utara Afrika, lewat saran berbayar untuk mencoba menyeberang melalui pagar perbatasan Maroko–Ceuta. Investigasi BBC melalui program Top Comment menyebut konten yang dipromosikan tampak meyakinkan, tetapi berisiko berujung pada kematian.
Pada akhir pekan ini, Mohammed—nama yang dipakai untuk akun tiruan BBC—ingin berangkat dari Maroko menuju Ceuta. Ia bertemu beberapa akun Instagram dan salah satunya merespons dengan klaim pernah membantu “banyak orang”, sekaligus menawarkan panduan penyeberangan dengan bayaran.
Dalam percakapan yang dilakukan BBC, akun tersebut meminta “5000 dirhams di muka” setara dengan sekitar £400 untuk “informasi yang akan membantu Anda memasuki Ceuta”. Akun itu juga menyebut pernah membantu “banyak orang” menyeberang sebelumnya, lalu menawarkan rincian yang konon bisa digunakan untuk mencapai enclave secara aman, termasuk menyebut “sewer pipes”.
Upaya verifikasi lanjutan tidak mendapatkan jawaban yang memadai. Saat Mohammed menanyakan apakah ia bisa memperoleh pengembalian dana bila upaya menyeberang tidak berhasil, akun tersebut tidak merespons dengan jelas. Setelah BBC melanjutkan proses investigasi, beberapa pesan dari akun itu kemudian dihapus.
BBC menilai situasi ini berkaitan dengan gelombang kedatangan yang sempat memuncak beberapa waktu lalu. Investigasi menyebut sekitar 78.000 migran dari Maroko tiba melalui jalur laut di Ceuta dalam hitungan jam bulan lalu, dan menurut Wali Kota Ceuta, sekitar 100 orang meninggal dunia. Meski kondisi kemudian mereda, polemik tetap muncul, termasuk ketegangan di antara negara-negara Uni Eropa yang memiliki perbatasan terbuka serta kritik kepada pemerintah Spanyol.
Konten “terlihat mudah” yang berakhir berbahaya
Top Comment mengidentifikasi puluhan akun Instagram yang menggambarkan renang singkat melewati pagar perbatasan sebagai aman dan mudah. Namun, BBC menyebut pada kenyataannya orang yang mencoba menyeberang telah dilaporkan tenggelam, dan rute yang harus ditempuh justru jauh lebih panjang.
Investigasi juga menyoroti cara konten tersebut membingkai Ceuta sebagai jalur yang masuk akal menuju daratan Eropa. BBC menyatakan bahwa pencitraan keliru itu turut berperan pada arus kedatangan, selain faktor lain seperti misinformasi mengenai perubahan hukum imigrasi Spanyol dan dugaan lemahnya pengawasan perbatasan.
Menurut penelusuran BBC, jaringan itu tidak berhenti pada promosi konten. Akun-akun yang menawarkan bantuan berbayar juga disebut diarahkan pada saluran lain: setelah berinteraksi dengan profil dan unggahan, BBC menemukan bahwa BBC kemudian ditambahkan ke berbagai kanal dan grup WhatsApp.
Dalam satu percakapan, akun yang sama juga pernah mengirim pesan kepada akun Instagram BBC yang asli bahwa “it does not encourage immigration to Ceuta”. Klaim serupa disebut diulang oleh beberapa profil lain. Meski demikian, BBC melaporkan bahwa promosi tetap berjalan, termasuk postingan yang direkomendasikan oleh algoritme Instagram untuk mendorong percobaan penyeberangan pada akhir pekan berikutnya.
BBC menilai kondisi ini berpotensi menimbulkan kematian tambahan serta memperuncing ketegangan diplomatik antara Maroko dan Spanyol. Beberapa profil disebut sudah tidak tersedia di Instagram setelah BBC menghubungi Meta, perusahaan yang memiliki platform tersebut.
Meta menyampaikan kepada BBC bahwa pihaknya memiliki tim yang memantau situasi di Ceuta secara real time dan menghapus konten yang melanggar kebijakan mereka, termasuk konten yang menawarkan, memfasilitasi, atau mencari layanan penyelundupan manusia.
Berita Terkait
“Mirage content” dan manipulasi algoritme
Top Comment menjelaskan bahwa konten-konten tentang Ceuta yang viral menarik perhatian karena memunculkan harapan. BBC mengaku pertama kali melihat banjir materi ketika menonton video viral yang memperlihatkan dua perempuan dengan pakaian selam berjalan di sekitar kota.
Posting awal dalam bahasa Spanyol dilengkapi keterangan yang berupaya mencegah migran datang ke Ceuta dengan frasa “Ceuta can’t take it anymore”. BBC menyatakan bahwa sejumlah versi yang dibagikan oleh akun berbahasa Maroko dan Arab kemudian mengubah teks atau memotong bagian keterangan sehingga klip hanya menampilkan perempuan berjalan bebas.
BBC menamai pola seperti ini “mirage” content: konten yang memberi gambaran menipu tentang suatu tempat seolah-olah sesuai kenyataan, padahal tidak. Sejumlah video, misalnya, memperlihatkan kelompok pria dan perempuan berenang dengan gembira di laut meski BBC menyebut banyak orang telah tenggelam saat mencoba perjalanan tersebut dalam beberapa minggu terakhir.
BBC juga melaporkan adanya unggahan yang bercerita seolah orang bisa berhasil sampai di Ceuta, lalu mengklaim mereka kemudian meneruskan perjalanan hingga Spanyol atau daratan Eropa. Namun, investigasi menyebut sekitar 75.000 dari total 78.000 kedatangan telah dikembalikan ke Maroko oleh otoritas, sehingga klaim kelanjutan itu tidak sesuai data.
Dalam penelusuran profil, BBC menemukan banyak kemiripan di antara akun-akun yang menyebarkan pola semacam ini. Hampir 40 akun memiliki variasi istilah “Haraga” dan mencantumkan Ceuta pada nama atau handle mereka, sering memakai bendera Spanyol sebagai foto profil, serta kode panggilan untuk Maroko dan Spanyol di bagian deskripsi.
“Haraga” dalam bahasa Arab Maghrebi dipahami secara leksikal kira-kira berarti “those who burn”. Istilah itu lazim dipakai secara informal untuk menyebut migran yang datang ke tempat baru dengan “membakar” atau menghancurkan dokumen agar tidak dapat diidentifikasi dan dideportasi kembali ke negara asal.
Berdasarkan jejak unggahan, pengikut, dan sejarah akun, BBC menyimpulkan bahwa sebagian besar profil kemungkinan dijalankan dari Maroko, sementara beberapa lainnya mungkin berasal dari Spanyol atau Italia. BBC juga menyebut banyak akun tersebut sudah dibuat sejak beberapa tahun lalu, tetapi konten mengenai Ceuta baru mendapat daya tarik lebih besar dalam beberapa pekan terakhir.
Perluasan jangkauan untuk klien berbayar
BBC menggambarkan bahwa akun-akun tersebut memanfaatkan dinamika algoritme di media sosial utama dengan cara memadukan emosi dan harapan agar unggahan mudah menyebar. BBC menyebut pernyataan dari orang dalam di perusahaan media sosial besar yang menjelaskan bahwa postingan yang memicu reaksi kuat lebih berpeluang menjadi viral.
Ketika BBC mencoba menghubungi beberapa profil menggunakan akun sendiri, sejumlah akun justru mengarah ke nomor WhatsApp atau alamat email yang sama. Akun tiruan Mohammed juga diset privat agar menyerupai akun milik anak muda Maroko yang biasanya menyukai dan memberi komentar pada unggahan yang mempromosikan penyeberangan.
Tak lama kemudian, feed Mohammed dipenuhi video dan materi yang mendorong perjalanan ke Ceuta. BBC melihat adanya kecenderungan lebih luas bahwa orang yang ingin menarik uang dari migran untuk nasihat dapat dengan mudah membuat profil dan memanipulasi algoritme media sosial, sehingga dampaknya tidak hanya berhenti di ranah digital.
Top Comment menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan bagaimana pengoperasian algoritme dapat berkontribusi pada bahaya di dunia nyata—termasuk peluang kematian tambahan—sekaligus memperumit hubungan diplomatik antara negara-negara yang bersinggungan dengan arus migrasi di kawasan itu.












