Internasional

Jepang Tembus Rekor 107.677 Warga Usia 100+ (Pertama Kali), 87,6% Perempuan

×

Jepang Tembus Rekor 107.677 Warga Usia 100+ (Pertama Kali), 87,6% Perempuan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rekor! Warga Umur Seabad di Jepang Tembus 100.000 Orang-Ini Rahasianya

jurnalistik.co.id – Jepang untuk pertama kalinya menembus tonggak baru jumlah warga berusia 100 tahun ke atas. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang yang dirilis pada Selasa (15/9/2026), tercatat 107.677 orang tinggal di negara tersebut.

Angka itu naik 7.914 orang dibanding tahun sebelumnya, sekaligus menjadi rekor tertinggi selama 56 tahun berturut-turut. Dari total tersebut, 94.298 orang atau sekitar 87,6% merupakan perempuan.

Pencapaian ini memperlihatkan posisi Jepang sebagai salah satu negara dengan populasi tertua di dunia. Namun, di balik keberhasilan memperpanjang usia hidup, situasi demografi juga menandai tantangan yang makin berat bagi keberlanjutan sistem sosial dan ekonomi.

Lansia bertambah, sementara kelahiran terus ditekan

Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat, sementara angka kelahiran berada di titik terendah sepanjang sejarah. Hampir tiga dari setiap 10 penduduk Jepang kini berusia 65 tahun atau lebih, dan proporsinya diproyeksikan mendekati 40% pada 2070.

Dalam data kesuburan, tingkat kesuburan total Jepang pada 2025 tercatat hanya 1,14 anak per perempuan. Angka itu jauh di bawah kisaran sekitar 2,1 yang umumnya dibutuhkan untuk menjaga stabilitas populasi tanpa bergantung pada imigrasi.

Konsekuensinya, populasi Jepang diperkirakan terus menyusut. Proyeksi pemerintah memperkirakan jumlah penduduk turun dari sekitar 128 juta jiwa pada 2008 menjadi sekitar 87 juta jiwa pada 2070.

Mengapa banyak warga bisa hidup lebih lama

Tidak ada satu faktor tunggal yang menjelaskan tingginya jumlah warga berusia 100 tahun ke atas di Jepang. Para peneliti umumnya melihatnya sebagai hasil kombinasi pola makan, aktivitas sehari-hari, serta akses layanan kesehatan.

Pola makan tradisional Jepang kerap disebut sebagai salah satu penopang umur panjang. Masyarakat disebut mengonsumsi ikan, sayuran, dan nasi, dengan pola yang cenderung rendah lemak jenuh.

Selain konsumsi, aktivitas fisik turut berperan karena menjadi bagian dari rutinitas. Aktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda, serta penggunaan transportasi umum disebut masih dilakukan, termasuk oleh kalangan lanjut usia.

Kegiatan olahraga bersama dan keterlibatan dalam komunitas juga disebut membantu menjaga kebugaran sekaligus hubungan sosial. Di sisi lain, sistem asuransi kesehatan universal disebut turut berkontribusi lewat kemudahan akses terhadap layanan medis dan pengobatan.

Tekanan ekonomi dan kebutuhan perawatan makin besar

Meningkatnya jumlah warga lanjut usia membawa dampak langsung pada perekonomian Jepang. Ketika lebih banyak orang memasuki masa pensiun, kebutuhan akan dana pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan sosial ikut meningkat.

Pada saat yang sama, jumlah tenaga kerja yang membiayai sistem melalui pajak dan iuran jaminan sosial terus berkurang. Kondisi ini menciptakan tekanan terhadap keuangan negara sekaligus membebani generasi pekerja muda.

Berbagai sektor turut menghadapi tantangan kekurangan tenaga kerja, mulai dari konstruksi, pertanian, transportasi, hingga layanan kesehatan dan perawatan lansia. Wilayah pedesaan disebut menjadi salah satu area yang paling terdampak, terutama karena perpindahan penduduk usia muda ke kota.

Kebijakan keluarga belum cukup membalik tren

Untuk merespons persoalan tersebut, pemerintah Jepang telah meluncurkan berbagai kebijakan dukungan keluarga. Tunjangan anak, subsidi penitipan anak, program cuti orang tua, serta insentif lain disiapkan agar pasangan memiliki anak.

Meski demikian, kebijakan-kebijakan itu belum berhasil membalikkan tren penurunan angka kelahiran dalam jangka panjang. Para ahli ilmu sosial mengaitkan rendahnya kelahiran dengan kecenderungan generasi muda menunda atau tidak memilih pernikahan, ketidakpastian pekerjaan, upah yang cenderung stagnan, serta beban pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Partisipasi perempuan dalam dunia kerja juga disebut belum selalu diikuti pembagian tanggung jawab domestik yang seimbang. Karena itu, keputusan membangun keluarga menjadi semakin kompleks, sementara pemerintah harus menjaga keseimbangan antara dukungan bagi lansia dan penciptaan kondisi yang memungkinkan generasi muda berkeluarga.

Fenomena global, dengan Jepang sebagai contoh paling menonjol

Penuaan populasi tidak hanya terjadi di Jepang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut peningkatan harapan hidup sebagai salah satu pencapaian terbesar manusia, dengan harapan hidup global mencapai 73,3 tahun pada 2024. Angka tersebut meningkat 8,4 tahun dibanding 1995.

WHO juga memproyeksikan jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas naik dari 1,1 miliar pada 2023 menjadi 1,4 miliar pada 2030. Meski begitu, transisi demografi berlangsung lebih jauh di sejumlah negara.

Berdasarkan estimasi PBB untuk 2023, usia median penduduk Jepang mencapai 49 tahun. Negara berikutnya adalah Italia 47,5 tahun, Portugal 46,2 tahun, Yunani 45,7 tahun, dan Jerman 45,1 tahun.

Dengan demikian, rekor lebih dari 100.000 warga berusia 100 tahun ke atas menjadi cerminan ganda bagi Jepang. Di satu sisi, pencapaian itu menunjukkan keberhasilan memperpanjang usia kehidupan; di sisi lain, ia menegaskan kebutuhan besar untuk menjaga keberlanjutan ekonomi dan sistem sosial di tengah populasi yang terus menua.