Teknologi

Kreator Shaun the Sheep: AI takkan menggantikan seni bercerita saat film baru tayang

×

Kreator Shaun the Sheep: AI takkan menggantikan seni bercerita saat film baru tayang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Shaun the Sheep creators say AI will never replace storytelling as new film launches

jurnalistik.co.id – Para kreator Shaun the Sheep menyatakan kecerdasan buatan tidak akan menggantikan seni bercerita dalam film-film mereka, meski industri film terus dipengaruhi AI dan efek visual berbasis komputer.

Pernyataan itu muncul menjelang rilis film layar lebar terbaru waralaba Shaun the Sheep di bioskop Inggris. Film tersebut, berjudul Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom, membawa nuansa Halloween yang berbeda dari sebelumnya.

Sutradara film ini adalah Steve Cox dan Matthew Walker. Dalam petualangan terbaru itu, Shaun harus bertransformasi menjadi “mad scientist” untuk menyelamatkan keadaan.

Producer Richard Beek menegaskan bahwa stop-motion tetap memiliki tempat yang kuat, bahkan di tengah tren teknologi yang makin dominan. Ia mengungkapkan, “Maybe somewhere down the line there’s a tool we use which uses AI but I don’t think it would ever replace the storytelling and creation of those stories,” katanya.

Film ini dibuat tanpa dialog, namun tetap menampilkan jajaran pengisi suara yang mencakup Dani Dyer, Justin Fletcher, Nina Sosanya, Paul Whitehouse, dan Roman Kemp. Keberadaan para pengisi suara itu dihadirkan untuk menghidupkan karakter dan ritme cerita meski tanpa percakapan panjang.

Sisi musik juga menjadi perhatian. Shaun the Sheep dikenal melalui tema “Life’s A Treat”, dan kali ini akan hadir versi remix baru dari duo hip-hop asal Inggris, Rizzle Kicks.

Menurut BBC, Aardman—studio di balik produksi waralaba ini—tahun ini merayakan ulang tahun ke-50. Perusahaan asal Bristol itu didirikan oleh teman-teman sekolah, Sir Peter Lord dan Sir David Sproxton, pada 1976.

Dari studio tersebut lahir sejumlah karya animasi terkenal, termasuk Morph, Wallace and Gromit, Shaun the Sheep, serta Chicken Run. Aardman juga disebut sebagai salah satu rumah animasi stop-motion paling sukses di dunia.

Shaun sendiri pertama kali muncul dalam film Wallace and Gromit berjudul A Close Shave pada 1995, sebelum kemudian berkembang menjadi salah satu karakter utama Aardman. Daya tarik global Shaun banyak ditopang oleh cara ia “berbicara” lewat bleats, grunts, serta ekspresi wajah yang sangat dinamis.

Di sisi lain, eksekutif di beberapa periode sempat mendorong agar Shaun diberi suara. Dorongan itu muncul ketika seri televisi pertama berjalan dan ketika film layar lebar pertama dirilis pada 2015.

Untuk memastikan pendekatan artistik tetap hidup, Aardman juga menekankan pembelajaran di sekolah animasinya. Di Aardman’s Academy, para siswa diajarkan untuk merangkul ketidaksempurnaan dalam kerajinan stop-motion yang telaten.

Art director Kitty Clay mengatakan banyak model yang masih dipakai meski telah dibuat sekitar 20 tahun lalu. Ia juga menilai properti-properti yang digunakan punya “a personal touch”, termasuk sentuhan seperti papan setrika buatan ibunya hingga kap lampu peninggalan sang nenek di ruang keluarga.

Matthew Walker, yang juga menjabat co-director, menyebut proses eksplorasi genre sebagai bagian yang menarik. Ia berkomentar, “It’s been really exciting to explore a Shaun story in a new genre. We did sci-fi with Farmageddon and now we’re in Halloween horror but without the scares – it’s more comedy,” katanya.

Dengan karakter yang bergerak melalui animasi stop-motion dan tanpa dialog, film ini tetap mengandalkan ekspresi dan permainan fisik untuk menyampaikan suasana. Hal itu sekaligus menjadi penegasan bahwa gaya bercerita Aardman tidak hanya bertumpu pada teknologi, melainkan pada eksekusi kreatif yang berangkat dari tangan manusia.

Di Inggris, Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom tayang di bioskop selama pekan ini dan pekan berikutnya. Setelah itu, film dijadwalkan tersedia untuk ditonton kemudian melalui Sky Cinema dan NOW TV.