jurnalistik.co.id – Xbox mengarahkan perhatian pada satu isu yang kini makin terasa di industri gim: bagaimana membuat konsol generasi berikutnya tetap terjangkau.
Pernyataan itu disampaikan CEO Xbox, Asha Sharma, dalam wawancara dengan BBC, saat membahas lonjakan biaya komputing yang disebutnya tengah berada dalam “krisis”.
Dari sudut pandang Sharma, kenaikan harga perangkat keras dipengaruhi oleh belanja AI yang terus mengembang, sehingga biaya komponen menjadi lebih mahal. Ia mengatakan perusahaan-perusahaan perlu mencari cara agar gim tetap bisa dinikmati dengan harga yang masuk akal, sekaligus memastikan produk mampu memberikan pengalaman terbaik bagi pemain.
Sharma juga menyinggung perubahan cara kepemilikan gim. Ia menyatakan gamer akan segera bisa memperoleh versi digital dari banyak judul fisik yang mereka miliki sekarang, sehingga permainan lamanya berpotensi tetap dimainkan di konsol Xbox generasi mendatang tanpa perlu memasukkan cakram ke dalam perangkat.
“I know players love physical media, and I know there’s a lot of benefits in digital media, and I want to make sure people have a choice,” ujar Sharma. Menurutnya, pemain memang memiliki preferensi berbeda—sebagian menyukai media fisik karena memberi kemudahan dalam pembelian dan penjualan barang bekas, sementara sebagian lain lebih nyaman dengan unduhan digital.
Saat ini, gim digital bisa diunduh dan dijalankan di konsol Xbox maupun PC. Namun, Sharma mengakui bahwa kecenderungan preferensi pemain membuat isu media fisik dan digital menjadi topik yang sensitif.
Ia juga menyebut perkembangan yang terjadi di industri: Sony mengumumkan gim PlayStation baru tidak lagi dirilis dalam bentuk cakram mulai Januari 2028. Ia menambahkan, Grand Theft Auto VI juga akan meluncur tanpa cakram fisik.
Dalam konteks itulah Sharma menyinggung rencana “entitlements” untuk cakram fisik. Ia menyatakan, “We’re announcing the ability for players for 1,000 titles with physical discs to be able to have a digital entitlement.”
Meski begitu, Sharma tidak merinci secara jelas bagaimana mekanisme perpindahan hak digital bekerja bila cakram dijual kembali. Proses pastinya—termasuk apakah hak tersebut sepenuhnya berpindah ke pemilik baru—masih belum dijelaskan.
Di sisi lain, Sharma menekankan bahwa kompatibilitas ke belakang (backwards compatibility) akan terus menjadi bagian dari arah teknologi Xbox. Ia mengatakan, “We’ve long pioneered backwards compatibility and so you’ll continue to see that as we go forward in the generations.”
Namun, ia tidak menjawab apakah konsol Xbox generasi berikutnya—saat ini masih berkode Project Helix—akan tetap menyediakan drive cakram atau tidak.
Ia memilih menekankan prioritas yang ingin dibangun untuk generasi baru, dengan menempatkan efisiensi dan keterjangkauan sejajar dengan performa. “This next generation, we have to be thinking about efficiency and affordability alongside performance,” tuturnya.
Harga konsol dan “Rampocalypse” komponen
Berita Terkait
Sharma juga membahas situasi yang ia anggap tidak biasa dalam sejarah industri gim. Untuk pertama kalinya, harga konsol di seluruh pasar mengalami kenaikan beberapa tahun setelah peluncurannya.
Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi biaya komponen yang melonjak, termasuk RAM. Ia menghubungkan lonjakan harga komponen dengan kebutuhan industri data center dan pembelian perangkat keras oleh perusahaan-perusahaan yang berinvestasi besar pada AI.
Sharma menggambarkan keadaan itu sebagai “Rampocalypse”. “As an industry, we’re in the middle of ‘Rampocalypse’ ,” katanya. Ia menilai seluruh industri perlu mulai berinovasi soal keterjangkauan dan efisiensi, sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu harus dilakukan secara intens.
“But with the crisis that’s currently happening in hardware and components, it is absolutely something all of us need to be thinking about and innovating on and giving people more choice in terms of how they play their console and how they purchase their console,” lanjutnya.
Ia menempatkan AI sebagai faktor yang sedang mengubah banyak hal. “AI is fundamentally changing a lot of things,” ujarnya. Karena itu, tugas Xbox dalam generasi berikutnya adalah memperhitungkan apa yang terjadi di dunia sekaligus membangun pengalaman terbaik untuk pemain.
Sharma menjelaskan bahwa untuk generasi konsol baru, Xbox perlu memikirkan efisiensi perangkat keras dari cara penggunaan penyimpanan dan memori, termasuk pertimbangan harga per unit dan jenis komponen yang dipakai.
Rencana internal setelah masa restrukturisasi
Sharma memimpin Xbox selama sekitar enam bulan. Sebelumnya, ia berasal dari divisi AI di Microsoft, dan ia berbicara tentang kebutuhan untuk melakukan restrukturisasi besar setelah bertahun-tahun penampilan yang dinilai tidak optimal.
Ia mengatakan “reset” itu ditujukan untuk memastikan Xbox mampu bertahan dalam jangka panjang. “reset” tersebut, menurutnya, untuk membantu memastikan perusahaan “ada untuk the next 25 years” dan tetap melayani tujuan mereka.
Dalam praktiknya, Sharma menyebut adanya pemotongan ribuan pekerjaan yang mengejutkan sebagian pekerja. Ia menuturkan bahwa kondisi internal Xbox tidak berjalan sehat, dan menilai beberapa tahun ke depan akan menjadi masa yang menantang, meski perusahaan memandangnya dengan perspektif jangka panjang.
Di saat yang sama, ia menggambarkan perubahan cara bermain sebagai bagian dari generasi baru. “We’re in the middle of a new generation that wants to play in a different way, and new technology as well,” katanya.
Ia juga menyampaikan keyakinan bahwa gim berada di ambang menjadi bentuk hiburan yang paling penting di abad berikutnya, sehingga arah perusahaan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada evolusi industri dalam jangka panjang.
Dengan kombinasi dorongan efisiensi, upaya menjaga keterjangkauan, serta rencana akses digital untuk ekosistem gim fisik, Sharma ingin memastikan Xbox menghadapi perubahan biaya dan preferensi pemain tanpa meninggalkan siapa pun dari pilihan mereka dalam bermain dan membeli konsol.












