jurnalistik.co.id – Canva menempatkan pasar korporasi sebagai salah satu mesin pertumbuhan yang akan semakin penting di masa mendatang. Perusahaan pengembang aplikasi dan platform desain ini memandang B2B sebagai kelanjutan logis dari cara mereka membantu kebutuhan kerja, mulai dari konten hingga kolaborasi.
Canva, yang juga telah mengembangkan fitur kecerdasan buatan, tidak ingin hanya dilihat sebagai alat untuk membuat desain. Perusahaan berupaya agar organisasi menjadikan Canva sebagai ruang kerja yang membantu menyelesaikan beragam kebutuhan, termasuk dokumen, presentasi, dan aset konten.
Co-Founder dan Chief Product Officer Cameron Adams mengatakan bisnis business-to-business (B2B) akan terus menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan Canva. Dalam wawancara dengan Bloomberg Technoz, Adams menyebut fokus B2B sebagai ekspansi dari misi awal perusahaan.
“B2B akan terus menjadi bagian penting dari pertumbuhan Canva di masa depan. Kami melihatnya sebagai evolusi alami dari apa yang selalu ingin kami lakukan: memberdayakan dunia untuk mendesain,” kata Adams kepada Bloomberg Technoz, dikutip Rabu (8/9/2026).
Adams menjelaskan bahwa, pada tahap awal, Canva lebih banyak berorientasi pada penyederhanaan proses desain bagi individu. Prinsip yang sama kemudian diterapkan untuk konteks tim dan organisasi, ketika kebutuhan bekerja tidak berhenti pada membuat desain semata.
Menurut Adams, kebutuhan perusahaan tidak hanya mencakup produksi elemen visual. Perusahaan juga membutuhkan cara untuk mengelola aset merek, menyusun pustaka konten, hingga menyiapkan template dan materi presentasi yang bisa digunakan secara konsisten.
Selain itu, Canva menargetkan kebutuhan pengelolaan dokumen dan video di lingkungan kerja. Adams menyatakan bahwa organisasi perlu mengintegrasikan berbagai jenis kebutuhan tersebut agar proses internal berjalan lebih rapi, tanpa memecah kerja ke banyak tempat yang berbeda.
Berita Terkait
Dalam penjelasannya, fokus B2B Canva berangkat dari gagasan bahwa perusahaan membutuhkan satu platform untuk menangani beragam pekerjaan. Dengan begitu, tim tidak perlu berpindah-pindah alat yang masing-masing memiliki alur proses sendiri-sendiri.
Canva, lanjut Adams, juga berupaya menyediakan ruang kolaborasi untuk membantu pekerjaan lintas fungsi dalam organisasi. Ketika kolaborasi menjadi bagian dari workflow, platform desain yang terhubung dengan kebutuhan dokumen dan konten dianggap lebih relevan bagi perusahaan.
Adams menekankan bahwa pengembangan di sisi produk Canva mengikuti kebutuhan tersebut. Jika dahulu Canva menempatkan kemudahan dalam proses desain sebagai nilai utama untuk pengguna, kini kemudahan itu diarahkan agar dapat diterapkan dalam kerja tim dan sistem organisasi.
Dengan pendekatan tersebut, Canva berharap perusahaan dapat mengerjakan berbagai kebutuhan konten dan dokumen di satu ekosistem. Perusahaan dapat memanfaatkan pustaka, template, serta materi yang tersedia secara lebih terstruktur, sambil tetap mempertahankan kemampuan untuk membuat dan mengelola konten.
Pada akhirnya, B2B menjadi kelanjutan dari misi Canva: memberdayakan dunia untuk mendesain. Namun, menurut Adams, bentuk pemberdayaan itu sekarang diperluas agar menjawab kebutuhan organisasi yang menuntut pengelolaan aset merek, konsistensi materi, serta kolaborasi dalam satu alur kerja.
Dalam pandangan Canva, kebutuhan B2B bukan sekadar soal membuat materi visual yang menarik, melainkan memastikan proses kerja di organisasi berjalan dengan cara yang lebih terpadu. Pendekatan ini membuat perusahaan menempatkan fitur dan kapabilitasnya sebagai bagian dari alur penyelesaian pekerjaan, mulai dari pembuatan hingga pengelolaan berbagai keluaran yang dibutuhkan tim.
Canva juga mendorong agar organisasi memiliki cara yang sama untuk menyusun dan menggunakan template, materi presentasi, serta pustaka konten secara konsisten. Dengan demikian, penggunaan aset merek dapat dikelola lebih teratur, sementara tim tetap bisa memproduksi kebutuhan desain dan konten tanpa harus menghadapi perbedaan proses dari banyak alat yang terpisah.
Di sisi kolaborasi, platform ini dirancang agar kerja lintas fungsi bisa terhubung langsung dengan dokumen dan konten yang relevan. Ketika kolaborasi menjadi bagian dari workflow, perusahaan melihat relevansi Canva sebagai ruang kerja yang membantu organisasi menjaga keterpaduan pekerjaan internal, termasuk kebutuhan pengelolaan dokumen serta video di lingkungan kerja.












