Teknologi

Rene Haas: AI akan menemukan obat kanker dalam masa hidup kita, menurut bos Arm Holdings

×

Rene Haas: AI akan menemukan obat kanker dalam masa hidup kita, menurut bos Arm Holdings

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: AI will cure cancer in our lifetime, claims boss of UK chip giant

jurnalistik.co.id – Rene Haas, CEO Arm Holdings yang berbasis di Cambridge, meyakini bahwa kecerdasan buatan akan mampu menemukan obat kanker dalam masa hidup manusia. Pernyataan itu ia sampaikan saat wawancara dengan BBC, menyinggung perkembangan pemodelan biologis yang hingga kini dianggap terlalu rumit.

Menurut Haas, pengobatan berbasis AI berangkat dari kemampuan komputer memproses pola kompleks yang sulit dijelaskan dengan cara tradisional. Ia menilai, pemodelan bagaimana penanda DNA dipengaruhi kanker saat ini masih berada pada tahap “terlalu kompleks”.

Namun, Haas mengatakan proses tersebut akan berubah seiring model makin matang dan data yang dimasukkan semakin besar. “AI is going to… find a cure for cancer that today you and I, other humans [could] not in our lifetimes. I believe in our lifetime, AI will help cure cancer.”, ucapnya dalam podcast Big Boss Interview.

Ia menambahkan bahwa pekerjaan pemodelan pada tingkat sel, manusia, hingga dampak kanker terhadap penanda DNA bukan tugas yang mudah, baik untuk manusia maupun untuk komputer yang saat ini menjalankan AI. Dalam bagian kutipan lain, Haas berkata: “Modelling a cell, modelling a human, modelling how a DNA marker is impacted by cancer – it’s too complex a problem, not only for humans today, but the computers that run AI.”

Dari kompleksitas pemodelan ke kemampuan yang “akan dipecahkan”

Haas kemudian menjelaskan arah optimisme itu. “However, going forward, as we feed more and more of the models into these computers, and the computers get more sophisticated to run the models, they’re going to solve it,” ujarnya.

Di sisi lain, Prof Chris Bakal dari Institute of Cancer Research dan CEO Sentinal4D menempatkan fokus pada pertanyaan yang lebih mendasar: bukan lagi apakah AI digunakan, melainkan apa yang diumpankan ke sistem tersebut. “The real question was no longer whether we use AI, it’s what we feed it,” katanya.

Bakal mencontohkan praktik di laboratoriumnya, di mana AI dilatih menggunakan data yang dihasilkan sendiri dari sampel pasien. Ia menegaskan pendekatan itu bukan hasil pengambilan dari internet dan tidak bergantung pada kebutuhan komputasi yang sangat besar.

“It is not scraped from the internet. It does not need a giant data centre to run. The future of medical AI will not belong to whoever builds the biggest computer. It will belong to whoever has the right measurements,” demikian kutipan Bakal yang menekankan pentingnya “pengukuran” yang tepat.

Ia juga menyebut potensi percepatan dalam pengembangan terapi baru. Menurut Bakal, jenis prediksi seperti itu bisa memangkas tahun yang biasanya dibutuhkan untuk merumuskan perawatan, sehingga AI memberi manfaat nyata bagi pasien.

Robot humanoid dan keterbatasan chip untuk data center

Dalam wawancara yang sama, Haas turut berbicara soal dampak AI terhadap industri lain, termasuk kemunculan robot humanoid yang menurutnya akan menjadi hal yang umum dalam lima tahun ke depan. Ia menggambarkan robot dapat melihat, belajar, dan pada dasarnya diprogram ulang untuk tugas baru.

Haas memberi ilustrasi bagaimana robot yang awalnya diprogram untuk pekerjaan tertentu bisa menyesuaikan perintah berikutnya. Ia menyebut, dalam layanan seperti perhotelan, robot yang membuat tempat tidur bisa belajar mengatur handuk, membersihkan tempat sampah, atau melakukan pekerjaan lain sesuai kebutuhan.

Meski demikian, ia menilai laju pertumbuhan AI saat ini terhambat oleh kekurangan chip yang dibutuhkan untuk membangun data center. Ia juga menyampaikan keraguan bahwa pembuatan chip pada akhirnya bisa terjadi di Inggris, meski pemerintah telah berdiskusi dengan industri terkait kemungkinan memindahkan bagian dari rantai pasok fisik.

Arm sendiri dikenal sebagai perancang “otak” atau CPU pada microchip yang sudah dipakai dalam ratusan miliar perangkat seperti ponsel, mobil, jam tangan pintar, dan gadget di seluruh dunia. Haas juga menyebut perusahaannya sedang menghadapi lingkungan pasokan yang ketat.

Dalam konteks kebutuhan perangkat untuk skala data center, Haas mengatakan: “We are absolutely in a supply-constrained environment. Can you get enough chips? We need more fabs [chip factories] before we can put a data centre in space.” Ia menyinggung rencana pembangunan data center berdaya sangat besar, termasuk rencana di Prancis dan Amerika Serikat, serta rencana menempatkannya di luar angkasa.

Ia menambahkan bahwa pembuatan chip tidak semata-mata soal lokasi, melainkan soal ekosistem industri yang kompleks. “I don’t think it’s necessary for the UK to [build] fabs. Fabs are very expensive. They take a lot of specialised workers. They take a lot of natural resources, and there’s pretty broad ecosystem for those,” ujarnya.

Perubahan kerja, nilai pasar, dan permintaan chip Arm

Haas juga menanggapi kekhawatiran terkait dampak otomatisasi pada pekerjaan. Ia mengatakan perubahan pekerjaan memang ada, tetapi perkiraan bahwa pekerjaan akan hilang sepenuhnya dan digantikan mesin dinilai “berlebihan”, serta masih diimbangi oleh peluang kerja baru.

Selain itu, ia menilai ketakutan soal koreksi atas lonjakan nilai pasar perusahaan-perusahaan AI turut dibesar-besarkan, karena permintaan jangka panjang tetap kuat. Haas menyebut teknologi Arm yang hemat daya kini dipakai dalam separuh data center AI di seluruh dunia.

Ia menilai situasi itu turut mengubah arah bisnis Arm dalam beberapa bulan terakhir, termasuk dengan menjual microchip miliknya sendiri. Ia juga menyatakan bahwa Meta meminta Arm mengembangkan chip Arm AGI, dan menurutnya permintaan tersebut “off the charts”, dengan nilai lebih dari $2 miliar sejak peluncurannya pada bulan Maret.

Dalam aspek kebijakan dan persepsi publik terhadap perusahaan, Haas mengulas kritik yang muncul terkait penjualan Arm kepada investor Jepang pada 2016 dan sebagian IPO yang dilakukan di Nasdaq ketimbang di London. Ia membalas dengan menekankan bahwa setengah karyawan Arm tetap berada di Inggris, serta menyebut perusahaan itu sebagai pemberi kerja terbesar di Cambridge.