Teknologi

Daya Saing Industri Indonesia Dikalkulasi Ulang oleh Perubahan Teknologi dan Rantai Pasok Global

×

Daya Saing Industri Indonesia Dikalkulasi Ulang oleh Perubahan Teknologi dan Rantai Pasok Global

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Daya Saing Industri RI Diuji Perubahan Teknologi dan Rantai Pasok Global

jurnalistik.co.id – Indonesia harus menata ulang cara meningkatkan daya saing industrinya seiring perubahan lingkungan ekonomi global yang bergerak makin cepat. Airlangga Hartarto menekankan bahwa penguatan industri tidak bisa lagi bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik semata.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu, transformasi ekonomi perlu berjalan beriringan dengan penguatan sumber daya manusia, inovasi, teknologi, serta kemampuan industri untuk menciptakan nilai tambah. Ia menyampaikan hal tersebut dalam Ministerial Keynote pada SBM ITB Industrial Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Airlangga menyoroti bahwa teknologi, perubahan rantai pasok global, hingga meningkatnya kompetisi antarnegara telah mengubah lanskap ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia dituntut terus meningkatkan produktivitas dan daya saing agar mampu menghadapi perubahan sekaligus menangkap peluang ekonomi global.

Ia menilai, pembangunan infrastruktur fisik memang penting, namun tidak cukup untuk memastikan transformasi ekonomi berdampak nyata. Perubahan ekonomi, kata dia, harus dibarengi kemampuan industri beradaptasi dan memperluas keterkaitan antara kebijakan pemerintah, dunia industri, serta institusi pendidikan.

“Perubahan teknologi membuat kebutuhan tersebut semakin mendesak,” ujar Airlangga dalam paparannya. Teknologi tidak hanya mengubah cara perusahaan menjalankan kegiatan usaha, tetapi juga memengaruhi bagaimana perusahaan berinovasi dan menciptakan nilai dalam proses produksinya.

Karena itu, penguasaan teknologi serta kemampuan beradaptasi dipandang sebagai faktor kunci agar industri nasional tidak berhenti sebagai pasar semata. Industri perlu mengambil peran lebih jauh dalam penciptaan nilai di ekonomi global.

Tantangan dari rantai pasok dan persaingan

Airlangga menempatkan perubahan rantai pasok global dan menguatnya kompetisi antarnegara sebagai salah satu alasan daya saing menjadi penentu posisi Indonesia di perekonomian dunia. Dalam konteks tersebut, peningkatan produktivitas menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda bagi industri nasional.

Namun, produktivitas menurutnya tidak cukup diartikan sebagai kemampuan menghasilkan lebih banyak barang dan jasa. Lebih dari itu, industri juga harus mampu meningkatkan nilai tambah melalui penerapan teknologi dan inovasi.

Di bagian lain, Airlangga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari transformasi ekonomi. Ia menilai kemampuan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi semakin penting, terutama ketika proses produksi serta model bisnis terus mengalami perubahan.

Ekosistem inovasi dan pemanfaatan teknologi

Di sisi industri, Airlangga menegaskan bahwa dibutuhkan lingkungan yang memungkinkan inovasi berkembang dan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan ekosistem seperti itu, teknologi tidak hanya hadir sebagai alat, tetapi benar-benar menjadi penopang peningkatan daya saing industri.

Poin penting dari paparan Airlangga adalah bahwa pembenahan daya saing harus bersifat menyeluruh: mulai dari kesiapan SDM, kemampuan inovasi, penguasaan teknologi, hingga kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pendidikan. Pendekatan tersebut dimaksudkan agar perubahan global dapat dikelola, bukan semata-mata dihadapi.

Menurut Airlangga, daya saing yang kuat tidak muncul secara instan, melainkan perlu dibangun lewat cara kerja industri yang terus diperbarui. Ketika rantai pasok global bergerak dan kompetisi antarnegara menguat, perusahaan dituntut tidak hanya menjaga kelangsungan produksi, tetapi juga menata ulang proses agar lebih efisien sekaligus relevan dengan kebutuhan pasar.

Ia juga menekankan bahwa transformasi ekonomi yang berjalan bersama penguatan SDM harus terlihat dalam kemampuan praktis tenaga kerja menghadapi perubahan teknologi. Adaptasi tersebut menjadi penentu apakah industri mampu menjalankan inovasi, mempercepat pembelajaran di lingkungan produksi, dan menghasilkan nilai tambah yang lebih nyata dibanding sekadar peningkatan output.

Dalam pandangannya, pembenahan hubungan antara kebijakan pemerintah, dunia industri, serta institusi pendidikan berfungsi untuk memastikan kemampuan yang dibutuhkan industri benar-benar tersedia. Kolaborasi itu dimaksudkan agar pengetahuan dan keterampilan berkembang selaras dengan kebutuhan industri yang terus berubah, sehingga inovasi dapat diterjemahkan ke dalam praktik.

Lebih jauh, Airlangga memandang ekosistem inovasi sebagai prasyarat agar teknologi dimanfaatkan secara optimal. Ketika inovasi diberi ruang dan dukungan, teknologi tidak berhenti sebagai alat pendukung, melainkan menjadi dasar bagi industri untuk memperluas keterkaitan dan memperkuat perannya dalam penciptaan nilai di ekonomi global.