jurnalistik.co.id – Operator pub asal Inggris, Wetherspoons, mengeluarkan aturan baru yang melarang pengunjung memutar musik dengan pengeras suara dari ponsel atau mengambil panggilan telepon melalui mode speakerphone di dalam pub. Kebijakan ini ditetapkan setelah keluhan yang terus meningkat, terutama soal gangguan dari video orang lain serta percakapan telepon yang dikuatkan lewat perangkat.
Dalam pengumumannya, perusahaan menyampaikan bahwa kebisingan dari ponsel dan tablet menjadi masalah yang kian sering memicu ketidaknyamanan. Wetherspoons menyatakan, suara yang terdengar terlalu keras itu dapat membuat orang “nuts”. Sebagai respons, pengelola meminta pengunjung menonaktifkan perangkat ke mode senyap atau menggunakan earphone.
Wetherspoons mengoperasikan 792 pub dan bar di seluruh Inggris. Perusahaan juga menyebut bahwa penolakan terhadap kebiasaan memutar musik atau menggunakan speakerphone di ruang publik kerap terlihat dari hasil jajak pendapat beberapa tahun terakhir yang dilakukan oleh berbagai organisasi.
Soal penerapan di lapangan, Wetherspoons mengatakan staf akan diminta menggunakan “common sense”. Perusahaan menegaskan bahwa tujuan mereka bukan mendorong pengunjung yang melanggar untuk segera meninggalkan pub, tetapi manajer tetap diberi opsi mengambil tindakan bila pengunjung bersikeras tidak mematuhi aturan.
“We are not looking to ask anyone to leave a pub if they go against the ruling, but it is an option for managers if they refuse to do so,” demikian bunyi pernyataan Wetherspoons. Kalimat itu sekaligus memperjelas batas pendekatan yang digunakan: mulai dari pengingat di tempat hingga kemungkinan langkah lanjutan bila tidak ditangani secara kooperatif.
Adapun British Beer and Pub Association, yang mewakili Wetherspoons dan beberapa perusahaan pub lain di Inggris, menilai bahwa kebijakan yang jelas akan memudahkan staf menegakkan aturan. Menurut mereka, pelanggan pun akan lebih memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di area pub.
Organisasi tersebut menambahkan, “having a clear policy helps staff enforce rules and customers know what they can and can’t do”. Mereka juga menyatakan belum pernah mendengar ada orang yang “relishes having a pint against the backdrop of a speakerphone call or someone loudly playing a video”, sehingga perusahaan berharap langkah ini disambut baik.
Wacana serupa mengenai telepon tanpa earphone dan kebiasaan memutar konten suara keras di tempat umum memang kerap menjadi perdebatan. Sejumlah studi menunjukkan sebagian besar warga Inggris merasa terganggu ketika mendengar panggilan speakerphone atau video dan musik diputar tanpa headphone.
Transport for London pernah melakukan survei terhadap 1.000 responden pada tahun lalu. Hasilnya, 70% responden menilai musik keras maupun percakapan telepon tanpa headphone adalah gangguan.
Berita Terkait
Namun, bukti juga memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antarusia. Dalam survei Ofcom terhadap 1.010 orang pada Agustus 2022, dari kelompok usia 13 sampai 17 tahun, 69% menyatakan membuat panggilan video tanpa headphone dapat diterima, 73% menilai mendengarkan musik tanpa headphone juga bisa, dan 83% mengatakan menonton video tanpa headphone masih dapat diterima.
Keputusan Wetherspoons ini mengikuti pendekatan yang lebih ketat dari rantai pub pesaing, Sam Smiths. Sejak lama, Sam Smiths telah menerapkan larangan penggunaan telepon atau teknologi apa pun, sekaligus larangan menyumpah (swearing).
Mark Evans, manajer Black Horse Inn, pub Sam Smiths di Bradford, menyebut kebijakan tersebut berfungsi sebagai “digital detox”. Ia mengatakan, bahkan orang yang baru pertama kali datang dapat terlibat dalam percakapan sesama pengunjung dalam waktu 10 atau 15 menit.
Menurut Evans, ada respons negatif yang sesekali muncul, ketika sebagian orang memilih berhenti dan berjalan keluar. Ia menilai reaksi seperti itu dapat dimaklumi.
Evans juga mengakui adanya unsur kemiripan yang terasa “hipocrisy”. Alasannya, meski melarang penggunaan perangkat, pelanggan tetap diperbolehkan membayar memakai ponsel.
Sejalan dengan Sam Smiths, pub Wetherspoons juga tidak memutar musik di dalam ruangnya. Direktur utama Wetherspoons, Sir Tim Martin, menggambarkan suasana itu sebagai “an oasis of tranquillity and contemplation… in a world dominated by other people’s music and amplified sound”.
Meski begitu, Wetherspoons tetap menjalankan pemutaran musik pada malam hari di 44 bar milik Lloyds. Perusahaan memastikan larangan terhadap pengunjung yang memutar musik dari ponsel atau mengangkat panggilan dengan speakerphone juga diberlakukan di venue-venue tersebut.
Sir Tim menambahkan, “In order to avoid customers being driven chicken jalfrezi by a cacophony of sound, we are kindly asking phone users to pipe down”. Kalimat itu menekankan niat perusahaan untuk menekan situasi yang dirasakan terlalu ramai secara suara.
Di sisi lain, Wetherspoons juga menghadapi tantangan bisnis dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah pub perusahaan tercatat menurun bertahap selama satu dekade terakhir, dari puncak 955 pada akhir 2015.
Perusahaan menyebut tantangan finansial datang dari pandemi Covid serta inflasi selama periode 10 tahun tersebut. Pada bulan lalu, Wetherspoons menyampaikan kepada investor bahwa laba untuk tahun berjalan diperkirakan lebih rendah daripada target, karena biaya yang lebih tinggi untuk makanan, tenaga kerja, perbaikan, energi, dan business rates.












