Pendidikan

5 Kebiasaan Tatapan yang Bisa Membuat Orang Lain Tidak Nyaman

×

5 Kebiasaan Tatapan yang Bisa Membuat Orang Lain Tidak Nyaman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 5 Kebiasaan Kontak Mata yang Bisa Bikin Orang Lain Tak Nyaman

jurnalistik.co.id – Kontak mata sering dianggap sebagai bagian yang paling “terlihat” dalam komunikasi sehari-hari. Tatapan saat berbicara dapat memberi sinyal bahwa kita memperhatikan, mendengarkan, dan ikut terlibat dalam percakapan.

Tidak semua orang memandang kontak mata dengan cara yang sama. Saat tatapan terlalu intens, terlalu sering mengalihkan pandangan, atau membuat fokus hanya tertuju pada satu orang di situasi kelompok, lawan bicara dapat mulai merasa tidak nyaman.

Dikutip dari Verywell Mind, kontak mata dipahami sebagai keterampilan sosial yang membantu membangun kepercayaan, hubungan, dan pemahaman antarpihak. Namun, cara melakukannya bisa berpengaruh pada persepsi orang lain terhadap sikap kita.

Menghindari kontak mata sama sekali

Salah satu kebiasaan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman adalah menghindari kontak mata sepenuhnya. Menurut terapis April Crowe, LCSW (dikomitkan dari Verywell Mind, Sabtu (15/8/2026)), menghindari tatapan bisa terbaca oleh lawan bicara sebagai tanda tertentu.

“Baik karena malu, gugup, atau sekadar merasa canggung, menghindari kontak mata secara tidak sengaja dapat menandakan ketidakminatan, rasa tidak aman, atau bahkan ketidakjujuran,” catat terapis April Crowe, LCSW, dikutip dari Verywell Mind, Sabtu (15/8/2026).

Pada sebagian orang, kebiasaan ini bisa muncul karena kecemasan sosial. Walau penyebabnya terasa personal, hasil yang diterima orang lain bisa berbeda.

Jika pandangan terus mengarah ke tempat lain, lawan bicara dapat menangkap pesan bahwa pembicaraan tidak menarik, bahwa kita tidak sepenuhnya memperhatikan, atau bahwa ada jarak emosional yang ingin dipertahankan.

Menatap terlalu lama dan intens

Bukan hanya menghindari kontak mata yang bisa membuat orang lain tidak nyaman. Menatap terlalu lama dan dengan intensitas yang tinggi juga dapat menimbulkan kesan yang kurang menyenangkan.

Psikolog sosial dan terapis kesehatan mental Sophia Spencer menjelaskan bahwa manusia secara alami mengharapkan adanya jeda dalam tatapan. Saat tatapan berlangsung tanpa jeda, lawan bicara mungkin mulai mempertanyakan maksud dari tatapan tersebut.

Tatapan yang terlalu intens juga dapat terasa mengintimidasi, terutama jika ekspresi wajah terlihat tegang atau terlalu serius. Dalam situasi seperti ini, orang lain bisa merasa berada dalam tekanan, padahal percakapan sebenarnya berjalan normal.

Karena itu, kontak mata yang baik tidak harus dilakukan terus-menerus. Sesekali mengalihkan pandangan justru membuat dinamika percakapan terasa lebih alami.

Ketika jeda dibiarkan muncul secara wajar, lawan bicara cenderung lebih mudah menangkap pesan bahwa kita hadir sepenuhnya, bukan sedang “memantau” atau menahan tatapan dengan cara yang terasa berlebihan.

Dalam praktiknya, kenyamanan lawan bicara sering terbentuk bukan dari durasi tatapan semata, melainkan dari ritme yang memberi ruang bagi ekspresi lain: perhatian, respons, dan kemampuan untuk berpindah fokus secara natural.

Pada akhirnya, kontak mata tetap menjadi alat komunikasi yang kuat, tetapi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan konteks. Tatapan yang tepat dapat mendukung rasa percaya dan pemahaman, sedangkan kebiasaan seperti menghindari tatapan sama sekali atau menatap terlalu lama dan intens dapat membuat orang lain merasa tidak tertarik, gugup, bahkan tertekan.

Dalam percakapan tatap muka, persepsi orang lain banyak terbentuk dari nuansa yang kita berikan lewat cara menaruh perhatian. Jika tatapan terasa “mengunci” lawan bicara, terutama ketika berada dalam situasi kelompok, fokus yang sempit bisa membuat suasana menjadi kurang nyaman.

Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya ada atau tidaknya kontak mata, tetapi juga bagaimana tatapan bergerak mengikuti alur percakapan. Ketika ritme memberi ruang—misalnya dengan momen singkat untuk menengok atau mengalihkan pandangan—lawan bicara cenderung menangkap pesan bahwa kita hadir dan merespons.

Pada akhirnya, kontak mata yang tepat membantu membangun hubungan yang lebih mudah dipahami. Ketika kebiasaan seperti menghindar total atau menahan tatapan terlalu lama muncul, pesan yang diterima bisa bergeser: dari perhatian menjadi ketidaktertarikan, kegugupan, atau bahkan kesan tidak jujur—yang tentunya tidak diinginkan dalam komunikasi.