jurnalistik.co.id – Kabar berpulangnya Guruh Soekarnoputra langsung menyedot perhatian, terutama karena sosok ini dikenal luas sebagai seniman dan budayawan, sekaligus bagian dari keluarga besar Soekarno.
Ia meninggal dunia di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pada usia 73 tahun. Guruh tutup usia pada pukul 04.16 WIB pada pagi hari tersebut.
Ucapan duka datang dari Sekretaris Jendral DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dalam keterangan tertulisnya yang mengutip Detikcom. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak MOHAMMAD GURUH IRIANTO SUKARNOPUTRA BIN SUKARNO pada usia 73 Tahun,” kata Hasto.
Hasto juga menyampaikan bahwa keluarga besar PDIP kehilangan sosok Guruh. “Keluarga besar PDI Perjuangan sungguh kehilangan Mas Guruh Soekarnoputra. Beliau dikenang sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, dan Pejuang Partai. Kita berikan penghormatan terbaik bagi Almarhum dengan Protokol Partai,” ujarnya.
Ia memohon doa agar Guruh husnul khotimah serta meminta pintu maaf dibukakan. “Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan kekhilafan dari almarhum tercinta,” ucap Hasto. “Selanjutnya mohon doa, semoga Almarhum husnul khotimah serta Allah SWT menerima semua amal ibadahnya, diampuni dan dihapuskan segala dosa-dosa dan menempatkannya di tempat yang terbaik di sisi-Nya,” imbuhnya.
Guruh Soekarnoputra atau Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra merupakan putra bungsu Presiden pertama RI, Soekarno, dan Fatmawati. Ia lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 dan menjadi anak kelima sekaligus anak terakhir dari pasangan tersebut.
Guruh memiliki empat kakak kandung, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, dan Sukmawati Soekarnoputri.
Meski sejumlah anggota keluarganya lebih dikenal lewat kiprah politik, Guruh justru lebih luas dikenal sebagai seniman dan budayawan. Namun, ia juga pernah menempuh peran politik dan tercatat sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP).
Jejak berkarya di seni tari dan musik
Berita Terkait
Minat Guruh terhadap seni telah tumbuh sejak usia dini. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi beragam aktivitas kreatif, mulai dari tari, musik, hingga penciptaan lagu.
Guruh dikenal mendalami kebudayaan Nusantara melalui berbagai jenis tari tradisional, termasuk tari Sunda, Jawa, dan Bali. Ia tidak hanya mempelajarinya, melainkan juga membawakan tarian-tarian tersebut di atas panggung.
Di luar tari, Guruh juga memiliki kemampuan bermain piano. Pada 1965, ia membentuk grup musik bernama Beat-G, yang kemudian merilis album perdana sekitar satu dekade setelah pembentukannya.
Langkah Guruh dalam seni tari terus meluas ketika pada 1977 ia mendirikan sanggar tari Swara Mahardika. Sanggar itu menjadi salah satu wadah baginya untuk menuangkan gagasan serta kecintaannya terhadap seni dan kebudayaan Indonesia.
Sejumlah pertunjukan digelar, termasuk Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra II bertajuk “Untukmu Indonesiaku”. Pagelaran tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk dokumenter yang dibuat pada 1980.
Dalam perjalanan bermusiknya, Guruh juga mengekspresikan kecintaan pada Indonesia lewat lagu. Sejumlah karya yang disebut lahir dari proses kreatifnya antara lain “Cinta Indonesia”, “Damai”, dan “Lenggang Puspita”.
Lagu seperti Galih dan Ratna pun berkembang dari generasi ke generasi, dari kalangan boomers hingga milenial, bahkan generasi Z ikut mendengarkan dengan versi yang diperbaharui.
Guruh juga menggandeng beberapa nama besar di industri musik Indonesia untuk membawakan karyanya. Beberapa di antaranya adalah Ahmad Albar dan Vina Panduwinata.
Eksplorasi Guruh dalam musik berlanjut melalui proyek Guruh Gipsy yang dirilis pada 1977. Proyek ini disebut sebagai album eksperimental yang dikerjakan bersama grup musik Gipsy dan melibatkan sejumlah musisi, yakni Keenan Nasution, Gauri Nasution, Chrisye, Tammy Daud, Onan Susilo, serta Atut Harahap.
Melalui rangkaian kiprah itu, Guruh Soekarnoputra dikenang bukan hanya sebagai bagian dari keluarga besar Soekarno, melainkan juga sebagai sosok yang aktif memperkenalkan dan mengembangkan seni serta budaya Indonesia lewat tari, musik, pertunjukan, dan karya-karya kreatifnya.












