jurnalistik.co.id – Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September 2001, ingatan tentang hari itu tidak lagi dimiliki oleh semua generasi. Bagi banyak anak muda, pengetahuan tentang peristiwa tersebut datang setelah waktu kejadian—ketika mereka mulai memahaminya dari cerita orang dewasa, penjelasan di sekolah, hingga pencarian mandiri.
Mayoritas orang Amerika mengaku bisa menunjuk dengan tepat apa yang mereka lakukan dan bagaimana perasaan mereka saat empat pesawat dibajak oleh teroris, lalu menghantam World Trade Center, Pentagon, dan sebuah lokasi di Pennsylvania. Namun, Generasi Z yang lahir pada rentang 1997 hingga 2012 tidak mengalami hari itu secara langsung, sehingga memori yang mereka simpan terbentuk dari momen bertahun-tahun kemudian mereka akhirnya mengetahui detailnya.
“Terlalu sulit menjelaskan kepada seorang anak tentang apa itu teroris,” kata salah satu responden. Bagi mereka, yang paling mengendap bukan hanya fakta peristiwa, melainkan cara informasi itu pertama kali disampaikan—sering kali dengan emosi yang besar dan kalimat-kalimat yang membuat anak mencoba memahami sesuatu yang belum bisa ia cerna sepenuhnya.
Ingatan pertama yang muncul dari percakapan keluarga
Avery Black, 20 tahun, mahasiswa jurnalisme di University of South Carolina, menyebut ingatan pertamanya tentang 9/11 muncul saat ia masih duduk di sekolah dasar. Setelah mendengar penjelasan awal, ia pulang dan bertanya kepada ibunya, lalu menerima cerita yang disertai kesedihan mendalam.
Black menceritakan bahwa kisah yang ia dengar tidak berhenti pada kronologi umum, melainkan membawa detail yang terasa personal baginya. Ia mengingat: “She just started telling me where she was the day it happened, and just broke down in tears, explaining to me about all the firefighters that went in and never came out,”
Bagi Black, saat itu ia belum sepenuhnya memahami bobot peristiwa. Meski demikian, beberapa detail tetap tertanam. Ia paling jelas mengingat sosok “falling man”—sebuah gambar terkenal yang memperlihatkan seorang pria jatuh terbalik dari North Tower.
Saat sekolah, Black juga ingat ada momen ketika guru menayangkan video tentang mantan Presiden George W. Bush yang pertama kali mengetahui serangan tersebut. Ia menyebut video itu muncul dalam sebuah acara sekolah, dan dari sana ia memulai rangkaian pemahaman yang belum tersusun rapi.
Cerita pribadi lebih kuat daripada materi sekolah
Bagi Annie Erickson, 26 tahun, yang dibesarkan di North Carolina, kenangan tentang 9/11 pertama kali terbentuk bukan dari laporan umum atau materi kelas, melainkan dari cerita personal di sekitarnya. Ia menuturkan ibunya tumbuh di New York City, sehingga hubungan cerita keluarga dengan peristiwa terasa lebih dekat dan konkret.
Erickson mengingat ibunya pernah bercerita bahwa ada seseorang yang tinggal di gedung yang sama—seorang teman—meninggal di menara. Ia menyebut narasi seperti itu membuatnya memahami tragedi sebagai sesuatu yang dialami orang lain yang punya keterikatan nyata.
Erickson juga merasakan perbedaan cara mengajar di sekolah. Menurutnya, 9/11 adalah salah satu peristiwa sejarah yang memungkinkan guru menyesuaikan pengajaran dengan ingatan pribadi mereka masing-masing. Karena itu, ia tidak hanya belajar “sebuah peristiwa”, melainkan juga cara orang dewasa memaknai peristiwa tersebut.
Dalam konteks pendidikan AS, tidak ada kewajiban nasional yang seragam. Ekspektasi mengajarkan 9/11 berbeda-beda menurut negara bagian. Berdasarkan analisis baru dari The Associated Press, dua puluh lima negara bagian mewajibkan atau mengharapkan sekolah umum mengajarkan peristiwa 9/11, sementara tiga belas negara bagian menjadikan pengajaran 9/11 sebagai opsi.
Ketika penjelasan datang terlambat
Allegra Tashjian, yang dibesarkan di Wisconsin, menggambarkan awal pemahamannya juga terjadi lewat pelajaran dasar—namun ia merasakan ada jeda yang membuatnya bertanya-tanya mengapa ia baru mendengar peristiwa itu di usia sekolah. Gurunya menjelaskan bahwa 9/11 adalah hari yang sangat penting dan kelam, lalu menanyakan apakah ada siswa yang tahu alasannya.
Ketika ada siswa menjawab bahwa itu adalah hari ketika pesawat menabrak menara di New York, Tashjian merasa bingung karena selama ini ia tidak pernah mendengar tentangnya. Ia kemudian mengingat momen di rumah ketika ibunya sedang melipat pakaian.
Berita Terkait
Ia menuturkan ibunya berhenti sejenak dan menjawab: “um no, I don’t think I’ve ever heard anything about that,” lalu ia menambahkan bahwa pada titik itu, “For whatever reason at that point, I guess she really didn’t want to talk about it.”
Belakangan, Tashjian menjelaskan bahwa ia baru benar-benar memahami bobot peristiwa setelah membaca informasi lebih dalam. Ia mengatakan: “I really understood the gravity of it more from reading things on the internet when I was probably between like nine and 12”.
Pemahaman yang “lengkap” datang dari riset mandiri
Black, Erickson, Tashjian, dan beberapa Gen Z lainnya sama-sama menyampaikan bahwa mereka pernah mendengar beberapa detail tentang serangan itu di sekolah atau dari keluarga. Namun, mereka mengaku memperoleh pemahaman mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi pada hari tersebut terutama melalui riset yang dilakukan sendiri.
Black bahkan tidak menyadari bahwa serangan itu adalah tindakan terorisme sampai ia melakukan pencarian mandiri. Ia menegaskan: “That was the part that I wasn’t really taught until I did my own research. It’s really hard to explain what a terrorist is to a child.”
Minat yang bertahan di kalangan anak muda
Profesor David Schanzer, pengajar mata kuliah “9/11 & Its Aftermath” di Duke University, menulis dalam sebuah komentar majalah kampus pekan ini bahwa minat lintas generasi terhadap 9/11 masih kuat. Menurutnya, kelasnya dipenuhi, bahkan ada puluhan mahasiswa yang masuk daftar tunggu.
“Ten years ago, I thought student interest was ebbing and I would need to find something else to teach about,” katanya. Namun, ia menilai peristiwa-peristiwa dunia belakangan ini justru membuat generasi muda semakin ingin tahu tentang apa yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Ia menulis: “If you want to understand what has gone wrong over the past couple of decades it makes sense to learn about 9/11, the first global catastrophe of the 21st century (the others being the Great Recession and the COVID-19 pandemic),”
Cara bicara yang berbeda di antara teman sebaya
Di sisi lain, beberapa Gen Z menyampaikan bahwa meskipun mereka telah belajar tentang tragedi tersebut, masih ada kebiasaan di kalangan teman sebaya untuk mengurangi kesungguhan saat percakapan muncul. Thomas Schwartz, profesor sejarah dan ilmu politik di Vanderbilt University, menyebut dalam diskusi kelasnya bahwa para mahasiswanya yang lahir pada 2004 atau 2005 pernah mengomentari kecenderungan generasi mereka untuk “deflect and joke about 9/11”.
Schwartz menambahkan bahwa “students from the Northeast, who had parents with personal memories of 9/11, were more careful about this, remarking on the sensitivities in their family about the subject.” Dengan kata lain, konteks keluarga ikut menentukan cara seseorang bersikap terhadap topik yang sensitif itu.
Erickson juga menjelaskan bahwa banyak Gen Z cenderung meremehkan peristiwa monumental atau tragedi karena mereka merasa belum mampu memahami dampaknya sepenuhnya. Ia menilai sebagian orang memakai humor sebagai mekanisme bertahan, agar tidak harus menatap terlalu dalam kecemasan-kecemasan besar yang hadir di dunia.
Tashjian mengatakan bahkan hingga menjadi dewasa, ia masih sulit membayangkan jumlah besar orang yang meninggal dalam peristiwa apa pun. Karena itu, ia tetap tertarik pada cerita individual yang membantu menjelaskan beban yang ditinggalkan 9/11.
Namun Schanzer menilai mempelajari 9/11 dan memahami dampaknya tetap penting bagi generasi yang tidak memiliki pengetahuan langsung. Ia menegaskan: “But like most significant historical events, one can’t fully understand our world today unless you understand why 9/11 occurred and how the United States responded to it.”
Dalam narasi para responden Gen Z, pola yang terlihat adalah perpindahan dari “sekadar tahu” menuju “benar-benar memahami”—sering lewat percakapan keluarga yang emosional, pengalaman belajar yang tidak selalu konsisten, serta kerja riset mandiri yang membuat detail peristiwa akhirnya bisa disusun menjadi pengertian yang lebih utuh.












