Teknologi

Ramainya Pusat Data di Indonesia, Risiko Ekologi Mengemuka — Teknologi

×

Ramainya Pusat Data di Indonesia, Risiko Ekologi Mengemuka — Teknologi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Risiko Ekologi Mengintai di Balik Ramai Pusat Data di Indonesia - Teknologi

jurnalistik.co.id – Gelombang investasi pusat data di Indonesia terus membesar seiring percepatan ekonomi digital dan meningkatnya kebutuhan komputasi untuk teknologi modern. Namun, di balik laju pembangunan yang kian ramai, risiko ekologi mulai menjadi sorotan dan menuntut perhatian kebijakan yang lebih serius.

Data Center Map mencatat, saat ini terdapat 128 pusat data yang beroperasi di wilayah Jabodetabek. Angka tersebut setara dengan 64% dari total 198 pusat data yang ada di seluruh Indonesia.

Lonjakan minat ini terlihat bukan hanya pada lokasi khusus, melainkan juga pada kawasan perkantoran dan area satelit di sekitar Jakarta. Pola ekspansi tersebut menunjukkan bagaimana infrastruktur digital semakin terintegrasi dengan ruang ekonomi yang lebih luas.

Seiring ambisi Indonesia untuk berkembang menjadi pusat ekosistem digital di Asia Pasifik, keberadaan pusat data diproyeksikan akan berlipat ganda dalam beberapa tahun ke depan. Dengan kata lain, tambahan kapasitas bukan lagi wacana jangka panjang, melainkan tren yang mulai mengambil bentuk.

Dari sisi kapasitas operasional, sampai paruh pertama tahun ini, total kemampuan pusat data di Indonesia mencapai 682 megawatt bila dilihat dari sisi IT Load. Dalam perkembangannya, angka ini diperkirakan akan melonjak hingga 1,6 gigawatt pada kuartal kedua tahun depan, sejalan dengan hadirnya pusat data baru.

Maraknya pembangunan pusat data juga didorong oleh keyakinan terhadap prospek ekonomi digital Tanah Air. Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company menempatkan nilai penjualan bruto (GMV) ekonomi digital Indonesia pada US$99 miliar, sekaligus menegaskan posisinya sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.

Proyeksi dalam laporan tersebut menyebutkan, GMV ekonomi digital Indonesia diperkirakan terus naik hingga menembus US$340 miliar pada 2030. Kenaikan ini dikaitkan dengan pertumbuhan beragam sektor, mulai dari e-commerce, transportasi, dan makanan, hingga media online serta travel online.

Perkembangan ekonomi digital tersebut kemudian memperkuat kebutuhan infrastruktur, termasuk untuk beban kerja yang semakin intensif. Di saat yang sama, kemajuan teknologi berbasis data—termasuk kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan—ikut membuat permintaan pusat data bertambah.

Dengan meningkatnya kebutuhan tersebut, Digital Edge Indonesia berencana mengoperasikan pusat data berskala besar di Cikarang, Bekasi. Kapasitas pusat data yang dimaksud mencapai 500 MW mulai kuartal IV-2026.

Ekspansi kapasitas dan percepatan operasional menjadi indikator bahwa sektor ini sedang memasuki fase pertumbuhan yang lebih agresif. Pusat data bukan hanya bertambah jumlahnya, tetapi juga memperbesar skala kapasitas untuk memenuhi tuntutan ekosistem digital.

Meski demikian, laju pembangunan yang cepat membawa konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Risiko ekologi yang mengemuka menegaskan perlunya regulasi yang serius agar pertumbuhan infrastruktur berjalan sejalan dengan perhatian terhadap dampak lingkungan.

Di periode ketika kapasitas IT Load diproyeksikan melonjak hingga 1,6 gigawatt, arah kebijakan menjadi penentu kualitas pertumbuhan. Fokus pada aturan yang lebih kuat diharapkan mampu menjaga agar ekspansi pusat data tetap terukur, selaras dengan kebutuhan ekonomi digital, dan tidak mengabaikan pertimbangan lingkungan.

Kecepatan kenaikan ekonomi digital tercermin dari beragam sektor yang disebut dalam laporan Google, Temasek, dan Bain & Company, termasuk e-commerce, transportasi, dan makanan, serta media online dan travel online. Ketika aktivitas digital makin intens, kebutuhan komputasi untuk mendukung layanan tersebut turut mendorong percepatan pembangunan pusat data, bukan sekadar menambah kapasitas, tetapi juga menopang keberlanjutan layanan.

Di sisi lain, proyeksi peningkatan IT Load—dari 682 megawatt pada paruh pertama tahun ini menuju 1,6 gigawatt pada kuartal kedua tahun depan—menjadikan aspek tata kelola sebagai penentu. Dengan rencana pengoperasian pusat data besar di Cikarang, Bekasi, yang menargetkan kapasitas 500 MW mulai kuartal IV-2026, diskusi soal dampak ekologi semakin relevan. Karena itu, penguatan regulasi diharapkan menjaga agar ekspansi tetap selaras dengan kebutuhan ekonomi digital sekaligus memperhatikan konsekuensi lingkungan.