Teknologi

GoPro Umumkan Merger dengan Starman Optical, Total Pembayaran Tunai US$285 Juta

×

GoPro Umumkan Merger dengan Starman Optical, Total Pembayaran Tunai US$285 Juta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pertimbangan GoPro Memilih Merger dengan Starman Optical - Teknologi

jurnalistik.co.id – GoPro Inc. mengumumkan kesepakatan merger dengan Starman Optical Inc. Perusahaan menyebut transaksi ini akan memperkuat struktur permodalan GoPro sekaligus membuka ruang perluasan bisnis ke area infrastruktur berbasis AI, pemerintahan, pertahanan, dan aerospace.

Dalam skema yang disepakati, pemegang saham GoPro akan menerima pembayaran tunai agregat sebesar US$285 juta. Nilai tersebut setara dengan US$1,14 per saham dan masih bisa mengalami penyesuaian mengikuti posisi modal kerja bersih GoPro pada saat transaksi ditutup.

Selain pembayaran tunai, pemegang saham GoPro juga akan mempertahankan kepemilikan sekitar 10% pada perusahaan gabungan setelah merger berlangsung. Pada saat penutupan, utang GoPro sekitar US$92 juta disebut akan dilunasi sepenuhnya.

Dengan pelunasan tersebut, GoPro menilai neraca perusahaan pasca-merger akan memiliki kondisi yang secara substansial bebas utang. Perusahaan juga menegaskan langkah ini dirancang untuk merekapitalisasi bisnis, memperkuat neraca, serta memberikan kapasitas pendanaan untuk investasi pertumbuhan.

GoPro menambahkan bahwa perusahaan tetap akan tercatat di Nasdaq setelah proses merger selesai. Artinya, perubahan yang direncanakan berada pada penggabungan kapabilitas dan struktur usaha, tanpa mengubah status pencatatan di bursa.

Dalam rilisnya, GoPro menyoroti rekam jejak teknologi yang dibangun selama lebih dari 24 tahun. Perusahaan telah mengembangkan berbagai teknologi pencitraan dengan bertumpu pada teknologi optik dan sistem imaging, termasuk pengembangan portofolio kekayaan intelektual yang disebut mencakup lebih dari 2.500 paten Amerika Serikat.

Melalui merger ini, GoPro berencana menggabungkan kemampuan tersebut dengan teknologi Starman yang memproduksi optical transceiver di Amerika Serikat. Penggabungan kapabilitas di bidang optik, imaging, dan komponen transceiver ini diproyeksikan memperluas fokus GoPro dari kamera konsumen menuju pasar infrastruktur AI yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan tinggi.

GoPro juga menyatakan niat memanfaatkan optik dan imaging, sekaligus portofolio kekayaan intelektualnya, untuk mengembangkan lini usaha di sektor pertahanan, pemerintahan, robotika, serta aerospace. Dengan kata lain, perusahaan menempatkan merger sebagai jembatan untuk memperlebar jangkauan teknologi yang selama ini dikenal lewat perangkat konsumen.

Starman, menurut pengumuman tersebut, memandang teknologi optik dan imaging sebagai bagian penting dari ekosistem yang mendukung kebutuhan AI, keamanan nasional, dan perekonomian. Charles Tebele, yang menjabat sebagai pendiri sekaligus CEO Starman Holding, menekankan bahwa meski teknologi itu bernilai strategis, sebagian perangkat keras pendukung masih diproduksi di luar Amerika Serikat.

Tebele menyebut bahwa kedua perusahaan akan berupaya membawa kembali produksi komponen-komponen strategis tersebut ke AS. Hal ini dikaitkan dengan rencana penguatan rantai manufaktur agar komponen penting dapat diproduksi di lokasi yang ditargetkan.

ā€œPenggabungan keahlian optik dan kekayaan intelektual GoPro dengan kemampuan transceiver Starman serta platform manufaktur di Amerika Serikat menciptakan peluang yang unik,ā€ ujar Tebele.

Sementara itu, Nicholas Woodman selaku pendiri dan CEO GoPro mengatakan transaksi merger ini akan memberi peluang pengembangan yang lebih luas bagi perusahaan. Woodman menyatakan bahwa GoPro memperkirakan merger memungkinkan perusahaan bertumbuh di pasar konsumen, komersial, dan pertahanan sebagai perusahaan imaging dan solusi optik berbasis AS.

Menurut pengumuman tersebut, rencana merger telah mendapat persetujuan dari Dewan Direksi GoPro dan Dewan Starman. Proses kelanjutan transaksi juga diarahkan untuk memenuhi tahapan persyaratan yang ditetapkan sebelum penutupan.

GoPro menargetkan merger dapat selesai pada akhir 2026. Namun, penyelesaian transaksi tetap tunduk pada persetujuan regulator serta persetujuan pemegang saham GoPro, sesuai ketentuan yang berlaku dalam proses korporasi.

Dengan struktur pembayaran tunai US$285 juta, perlakuan kepemilikan sekitar 10% bagi pemegang saham GoPro, pelunasan utang sekitar US$92 juta pada saat penutupan, serta komitmen penguatan arah teknologi, merger ini diposisikan sebagai langkah konsolidasi yang memadukan aset pencitraan GoPro dengan kapabilitas transceiver Starman.

Melalui penggabungan tersebut, GoPro berharap platform imaging dan optik yang telah lama dikembangkan selama puluhan tahun dapat ditransformasikan menjadi fondasi untuk menjangkau kebutuhan industri yang lebih luas. Fokus ke infrastruktur AI, pertahanan, dan pemerintahan menjadi bagian penting dari narasi ekspansi perusahaan pasca-merger.

Pada akhirnya, transaksi ini juga memuat pesan bahwa penguatan modal dan neraca dipandang sebagai prasyarat untuk membuka ruang investasi pertumbuhan. Dengan target penyelesaian di akhir 2026, GoPro dan Starman menempatkan tahap berikutnya pada kelulusan seluruh persyaratan, sebelum perusahaan gabungan beroperasi sesuai rencana ekspansi yang diumumkan.