jurnalistik.co.id – Reputasi kampus-kampus Tiongkok yang kian menonjol di berbagai panggung global terus melebar. Namun, di dalam kampus sendiri, tekanan justru bertambah—mulai dari hibah penelitian yang makin ketat hingga prospek kerja akademisi yang semakin tidak pasti.
Di satu sisi, universitas di China makin diperhitungkan di tingkat dunia. Di sisi lain, dunia akademik menghadapi persaingan yang menajam dan ruang anggaran yang makin menyempit.
Kekhawatiran sempat muncul juga dari luar negeri. Di Amerika Serikat, pemangkasan dukungan federal untuk universitas pada era Presiden Donald Trump dikhawatirkan menguntungkan China.
Meski begitu, situasi di China tidak sesederhana itu. Pemerintah masih menyalurkan dana untuk riset strategis seperti kecerdasan buatan (AI) dan robotika, tetapi kian selektif menentukan bidang dan peneliti yang mendapat dukungan.
Pada April, Kementerian Pendidikan China menyatakan telah mencabut 12.200 program gelar dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar program itu berasal dari bidang nonteknis, seperti manajemen bisnis, lalu banyak digantikan oleh program AI serta bidang lain yang menjadi prioritas Presiden Xi Jinping.
Menurut Times Higher Education, jumlah universitas China yang masuk 100 besar dunia meningkat dari dua pada 2017 menjadi delapan pada 2026. Tsinghua University berada di peringkat ke-11 dan Peking University di posisi ke-13, tertinggi di Asia.
Tapi prestasi global tersebut tidak otomatis mengurangi tekanan domestik. Bahkan, pada kelompok universitas elit yang didanai pemerintah pusat, dinamika di dalam kampus tetap menegang.
Dari 75 universitas elit yang didanai pemerintah pusat, median anggaran tahun ini naik 6,8%. Namun, satu dari lima kampus mengalami pemangkasan, termasuk pemotongan jumlah serta nilai beasiswa pascasarjana hingga lebih dari separuh.
Di saat yang sama, ekonomi yang melambat membuat belanja sains dan teknologi turut tertekan. Kenaikannya rata-rata hanya 3,5% per tahun pada dekade ini, turun dari sekitar 10% pada akhir 2010-an.
Tekanan juga terasa di departemen fisika dan kimia. Peking University dan sejumlah kampus lain menerbitkan instruksi untuk berhemat pada September, sementara di beberapa institusi gaji serta tunjangan peneliti dikurangi dan bahkan program studi dihapus.
Data resmi menunjukkan belanja fiskal China untuk sains dan teknologi mencapai CNY1,32 triliun pada 2025, sekitar Rp3,55 kuadriliun (dengan kurs 1 CNY ÂĄ = Rp2.692). Angka itu naik 4,4% dari tahun sebelumnya.
Pemerintah daerah menyumbang 871,12 miliar yuan atau 66,1% dari total. Pemerintah pusat mengeluarkan 447,32 miliar yuan atau 33,9%.
Masalahnya, banyak universitas di luar kelompok elite bergantung pada pemerintah daerah. Ketika keuangan daerah tertekan oleh kemerosotan pasar properti, konsekuensinya berujung pada ruang gerak yang lebih sempit bagi riset dan rekrutmen.
Pemerintah daerah bertanggung jawab atas 95% dari sekitar 2.900 universitas di China. Bahkan Shenzhen dan Hangzhou—dua pusat teknologi yang selaras dengan prioritas Xi—mengalami pemangkasan anggaran lebih dari 5% tahun ini, menurut dokumen yang ditinjau The Economist.
Pengetatan anggaran juga mempersempit prospek kerja lulusan. Meski ekonomi China tumbuh 4,5%, pengangguran kaum muda mencapai 19% dan lapangan kerja baru belum mampu menyerap rekor jumlah lulusan.
Berita Terkait
Jumlah penerimaan mahasiswa doktoral tahunan hampir dua kali lipat sejak 2019 menjadi 200.000 orang. Akibatnya, lebih banyak orang bertahan di kampus, sementara persaingan untuk memperoleh dana pemerintah dan pekerjaan akademik makin berat.
Persaingan hibah penelitian makin terlihat dari jalur pendanaan nasional. Untuk National Natural Science Foundation of China (NSFC)—salah satu sumber utama pendanaan pemerintah pusat—jumlah aplikasi program hibah utamanya meningkat 80% sejak 2021 menjadi sekitar 200.000 aplikasi.
Namun, dana yang disalurkan hanya bertambah 3%. Grafik The Economist menggambarkan jurang antara permintaan dan pendanaan: dengan indeks 2021 = 100, aplikasi melonjak hingga sekitar 175 pada 2025, sementara pendanaan berada di sekitar 100.
Tingkat keberhasilan pengajuan hibah pun menurun. Keberhasilan turun dari 22% pada 2013 menjadi 12% pada tahun lalu.
Di tengah tekanan tersebut, NSFC menaikkan bantuan bagi peneliti muda sebesar 50% tahun ini. Kebijakan ini disebut berpotensi meredam ketidakpuasan, tetapi tidak menghapus akar persoalan di sistem persaingan.
Kondisi ini diperburuk oleh sistem karier akademik yang makin kompetitif. Akademisi kerap harus mengumpulkan hibah untuk naik jabatan, sementara sebagian lain bekerja bertahun-tahun sebelum memperoleh posisi permanen.
Menurut Qiang Zha dari York University, universitas China semakin mengadopsi sistem ketenagakerjaan ala Barat. Sejumlah kampus juga disebut merekrut staf junior untuk meningkatkan keluaran riset tanpa berniat memberi mereka pekerjaan permanen.
Sulitnya memperoleh pekerjaan atau promosi membuat sebagian akademisi meninggalkan kampus. Shenzhen Middle School, misalnya, mempekerjakan lebih dari 100 staf bergelar doktor.
Meski terdengar “menggerus” kesempatan, kondisi pendanaan riset universitas sendiri tidak benar-benar habis. Menurut data resmi yang dikutip The Economist, belanja penelitian universitas naik 11% pada tahun lalu menjadi 341 miliar yuan atau US$47 miliar.
Perusahaan juga memasok separuh pendanaan baru untuk riset universitas pada 2024, berdasarkan data terbaru yang tersedia. Namun, perusahaan cenderung memilih universitas ternama dan riset yang berpotensi menghasilkan manfaat komersial.
Riset yang tidak sejalan dengan kebutuhan industri berisiko kesulitan memperoleh dana. Dengan kata lain, “ketersediaan uang” tidak selalu berarti akses merata bagi semua bidang dan institusi.
Yu Xie dari Princeton University—yang juga mengelola pusat penelitian di Peking University—menilai ekspansi universitas sebelumnya terlalu menekankan jumlah publikasi ketimbang kualitas. Dengan dana yang lebih terbatas, universitas perlu lebih selektif dan menghasilkan terobosan yang lebih berarti.
Tetapi tekanan untuk menerbitkan makalah ikut mendorong praktik kecurangan akademik. Jasa paper mill atau pabrik makalah dipasarkan melalui platform e-commerce seperti Taobao, sementara sebagian peneliti tertangkap membayar suap agar risetnya diterbitkan.
Sejumlah pemerintah daerah juga menyelidiki praktik akademisi yang membayar perusahaan untuk mendanai riset demi memenuhi kuota hibah sebagai syarat promosi. Dalam sebuah survei kecil pemerintah, seperlima responden mengaku melakukan praktik tersebut.
Pada akhirnya, persaingan yang ketat bisa melahirkan gagasan unggul, sebagaimana kompetisi di sektor ekspor China. Namun, bagi banyak akademisi muda, jalur menuju puncak karier tetap panjang, penuh tekanan, dan dibayangi ketidakpastian pekerjaan.












