jurnalistik.co.id – PT Geo Dipa Energi (Persero) tengah menyiapkan skema pembiayaan alternatif melalui penerbitan obligasi hijau atau green bonds. Langkah ini ditempatkan sebagai opsi pendanaan di luar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Geo Dipa menyusun ide tersebut sebagai bentuk creative financing untuk mendukung kebutuhan dana pengembangan bisnis panas bumi. Dalam rencana perusahaan, obligasi menjadi salah satu instrumen yang disiapkan untuk menjaga kelanjutan proyek dan ekspansi usaha.
Perusahaan juga menegaskan posisi kelembagaannya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan status Special Mission Vehicle (SMV). Geo Dipa berfokus pada pengembangan dan pengelolaan energi panas bumi atau geothermal untuk menghasilkan listrik bersih.
Obligasi hijau sebagai opsi pendanaan
Direktur Utama Geo Dipa, Yudistian Yunis, menyebut penerbitan obligasi merupakan bagian dari opsi yang sedang disiapkan guna memenuhi kebutuhan pendanaan pengembangan panas bumi. Rencana itu, menurutnya, telah dimasukkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 10 tahunan.
Yudistian menyampaikan alasan perusahaan mencari alternatif pendanaan dengan menyertakan kutipan langsung: “Karena dibilang mulai mencari creative financing , [maka] salah satu yang kita siapkan adalah bonds yang mau kita lepas,” kata dia dalam agenda Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).
Dengan pendekatan tersebut, penerbitan obligasi diposisikan bukan sekadar wacana, melainkan rencana yang sudah diletakkan dalam kerangka perencanaan jangka panjang. Perusahaan juga menempatkannya sebagai jalan pembiayaan yang dapat dipilih sesuai kebutuhan bisnis.
Berbeda dari IPO
Berita Terkait
Menurut Yudistian, obligasi memiliki karakter yang berbeda dibandingkan IPO. Lewat instrumen obligasi, Geo Dipa disebut dapat memperoleh pendanaan tanpa harus melepas kepemilikan saham perusahaan kepada investor.
Di dalam penjelasan itu, pembanding yang disebut adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Jika IPO mengaitkan pendanaan dengan pelepasan sebagian kepemilikan, penerbitan obligasi ditawarkan sebagai alternatif yang menempatkan perusahaan tidak harus menyerahkan bagian sahamnya pada investor dalam proses memperoleh dana.
Penekanan pada perbedaan tersebut menjadi inti dari strategi Geo Dipa. Perusahaan ingin memastikan kebutuhan pembiayaan pembangunan panas bumi dapat dijawab melalui jalur yang sesuai dengan struktur kepemilikan dan kebutuhan pendanaan.
Implikasi strategi untuk pendanaan panas bumi
Dengan latar sebagai SMV di bawah Kemenkeu, Geo Dipa memposisikan pengembangan geothermal sebagai agenda yang memerlukan kesinambungan pendanaan. Karena itu, instrumen seperti green bonds yang dirancang sebagai opsi pembiayaan alternatif diharapkan bisa mendukung pengembangan energi panas bumi dalam rentang waktu yang lebih panjang.
Langkah kreatif dalam memilih sumber dana tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya bertumpu pada satu jalur pembiayaan. Dengan RJPP 10 tahunan sebagai payung perencanaan, obligasi dipahami sebagai bagian dari strategi pembiayaan yang telah dirancang sejak tahap perencanaan.
Pada akhirnya, wacana Geo Dipa tentang green bonds memberi gambaran tentang bagaimana perusahaan BUMN di sektor geothermal menata opsi pendanaan di luar IPO. Perusahaan menempatkan penerbitan obligasi sebagai jalur yang dapat memastikan kebutuhan dana pengembangan panas bumi tetap berjalan, sekaligus mempertahankan kepemilikan sahamnya dari perubahan lewat investasi publik.
Di dalam kerangka RJPP 10 tahunan, Geo Dipa menempatkan penerbitan obligasi sebagai salah satu opsi pembiayaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek pengembangan panas bumi. Dengan posisi sebagai SMV di bawah Kementerian Keuangan, perusahaan memandang instrumen pendanaan jangka panjang sebagai cara untuk menjaga kelangsungan agenda geothermal, sekaligus memastikan rencana usaha tetap bergerak sesuai horizon perencanaan.
Strategi ini juga menegaskan bahwa opsi pendanaan tidak hanya dipahami sebagai mekanisme untuk mengejar dana, tetapi sebagai pilihan yang mempertimbangkan struktur kepemilikan. Karena obligasi diarahkan sebagai jalur pembiayaan alternatif di luar IPO, perusahaan dapat memperoleh dukungan pendanaan tanpa harus menyerahkan sebagian saham kepada investor, sehingga arah pengembangan energi bersih tetap berjalan dengan pola yang lebih selaras dengan mandat dan kebutuhan perusahaan.



