Olahraga

Tendangan Kungfu Safin Pati Buat Rama Jangkar Robek Otot Ligamen di Piala Soeratin U-17

×

Tendangan Kungfu Safin Pati Buat Rama Jangkar Robek Otot Ligamen di Piala Soeratin U-17

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tendangan Kungfu Pemain Safin Pati di Piala Soeratin U-17, Lawan Robek Otot Ligamen

jurnalistik.co.id – Insiden kekerasan terjadi saat pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona Jawa Tengah berlangsung di Stadion Gelora Soekarno Mojoagung, Pati, pada Senin (27/7/2026). Laga tersebut mempertemukan Safin Pati U-17 melawan BJL 2000 U-17.

Dalam jalannya pertandingan, seorang pemain Safin Pati U-17 melepaskan tendangan dengan gaya kungfu ke arah tubuh lawannya. Aksi itu dinilai brutal dan berujung pada cedera serius bagi pemain BJL 2000 U-17.

Korban yang mengalami dampak langsung adalah Rama Jangkar. Setelah insiden tersebut, Rama Jangkar harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif.

Menurut informasi yang disebut dalam laporan pertandingan, Rama Jangkar mengalami robek otot ligamen serta dislokasi akibat sabetan kaki lawannya. Kondisi ini membuatnya memerlukan perawatan medis lanjutan di fasilitas kesehatan.

Peristiwa tersebut turut memunculkan keprihatinan di lingkungan sepak bola usia muda, mengingat kompetisi seharusnya menjadi ruang pembinaan. Kejadian ini juga menimbulkan kekhawatiran soal keselamatan pemain dalam pertandingan.

Reaksi PSSI Jawa Tengah

PSSI Jawa Tengah kemudian menyampaikan tanggapan resmi atas kericuhan yang terjadi pada laga tersebut. Melalui Direktur Kompetisi PSSI Jawa Tengah, Setyo Agung Nugroho, organisasi itu menyatakan sikap tegas dan menyoroti pelanggaran fair play dalam kompetisi.

“PSSI Jateng sangat prihatin, menyayangkan, dan mengutuk keras kericuhan dalam pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona Jawa Tengah antara Safin Pati U-17 melawan BJL 2000 U-17 di Gelora Soekarno Mojoagung Pati,” kata Agung,

Agung menilai tindakan pemain Safin Pati U-17 jelas mencoreng semangat pertandingan yang menjunjung sportifitas. Ia menegaskan bahwa kompetisi usia muda semestinya digunakan untuk membentuk karakter dan mengasah prestasi, bukan menjadi arena yang menampilkan kekerasan.

Selain itu, PSSI Jawa Tengah juga berharap kejadian serupa bisa menjadi pelajaran. Dengan begitu, insiden yang dialami korban tidak kembali terulang di waktu mendatang pada pertandingan-pertandingan usia muda di wilayah Jawa Tengah.

Menunggu Keputusan Sanksi

Di sisi lain, penjatuhan sanksi masih berada dalam proses lanjutan. Hingga saat ini, Asprov PSSI Jawa Tengah disebut masih menantikan laporan resmi dan lengkap dari perangkat pertandingan sebagai bahan pertimbangan.

Setyo Agung Nugroho menegaskan bahwa keputusan final terkait bentuk hukuman ditentukan oleh Komisi Disiplin (Komdis). Ia menyampaikan bahwa proses tersebut akan mengacu pada data, fakta, serta keterangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam pertandingan.

“Kalau sanksi nanti Komdis yang memutuskan berdasarkan data, fakta, dan laporan dari perangkat pertandingan,” tutur Agung.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa PSSI Jawa Tengah akan memastikan penanganan kasus berjalan melalui mekanisme organisasi. Ke depan, keputusan sanksi diharapkan mampu memberi efek jera sekaligus menjaga integritas kompetisi usia muda.

Sementara proses pemeriksaan dan evaluasi berlangsung, perhatian tetap tertuju pada pemulihan Rama Jangkar. Cedera robek otot ligamen dan dislokasi yang dialaminya menjadi fokus utama agar pemain bisa menjalani perawatan sesuai kebutuhan medis.

Insiden yang terjadi di Stadion Gelora Soekarno Mojoagung, Pati ini pun menjadi pengingat penting bahwa sepak bola, termasuk di level usia muda, harus tetap mengutamakan keselamatan dan disiplin dalam bermain. Semua pihak diharapkan menjaga agar persaingan di lapangan tidak berubah menjadi tindakan membahayakan.

Kericuhan pada laga Piala Soeratin U-17 Zona Jawa Tengah di Gelora Soekarno Mojoagung, Pati, mendapat penolakan keras dari PSSI Jawa Tengah. Organisasi itu menekankan bahwa semangat kompetisi usia muda seharusnya diarahkan pada pembinaan dan pembentukan karakter, sehingga pelanggaran fair play seperti yang terjadi dalam pertandingan menjadi catatan serius yang tidak bisa dibiarkan.

PSSI Jawa Tengah juga menggarisbawahi bahwa proses penanganan kasus masih berjalan. Asprov disebut masih menunggu laporan resmi dan lengkap dari perangkat pertandingan, sebelum kemudian Komisi Disiplin (Komdis) menentukan keputusan akhir. Dengan pertimbangan data, fakta, serta keterangan dari pihak-pihak terkait, PSSI berharap sanksi yang dijatuhkan mampu menjaga integritas turnamen sekaligus memberi efek jera.

Di saat evaluasi berlangsung, perhatian utama tetap diarahkan pada pemulihan Rama Jangkar pascainsiden. Cedera yang disebutkan berupa robek otot ligamen serta dislokasi membuatnya memerlukan perawatan medis lanjutan agar bisa kembali mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan. Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keselamatan pemain dan disiplin dalam bermain harus menjadi prioritas di setiap pertandingan usia muda.