Bisnis & Ekonomi

Musim panas ini, burger makin mahal—petani mengaku tak menikmati kenaikannya

×

Musim panas ini, burger makin mahal—petani mengaku tak menikmati kenaikannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Burgers cost more this summer, but farmers say they're not cashing in

jurnalistik.co.id – Musim panas ini, burger dan menu cepat saji terasa makin berat di kantong. Kenaikan harga melibatkan bukan hanya daging, tetapi juga roti burger dan salad kemasan.

Berdasarkan data, harga sejumlah komponen burger melonjak dibanding periode sebelumnya. Situasi ini kerap disebut “burgerflation”. Meski harga di sisi pembeli naik, para pelaku yang berada di awal rantai pasok menyatakan mereka tidak ikut menikmati kenaikannya.

Heather Oldfield, peternak sapi di sekitar Boston, Lincolnshire, menggambarkan tekanan yang datang bersamaan dengan biaya operasional yang harus tetap ditanggung. Ia menyebut keluarga besarnya ingin terus memproduksi daging untuk memenuhi kebutuhan orang-orang, bukan sekadar mencari keuntungan cepat.

Oldfield mengatakan keluarganya “want to feed people”. Ia mengelola peternakan dengan 200 ekor hewan yang rencananya dijual ke butchery Morrison’s. Dari penjualan itu, daging kemudian diolah menjadi berbagai produk, termasuk burger yang ditujukan untuk kebutuhan barbekyu.

Namun, angka-angka terkait harga yang diterima petani menunjukkan gambaran yang berbeda dari yang dibayar konsumen. Oldfield merujuk pada Agricultural Price Index (API) untuk bulan April, yang memperlihatkan petani seperti dirinya menerima rata-rata 8% lebih rendah untuk daging sapi dibanding 12 bulan sebelumnya.

Sementara itu, dari sisi konsumen, CPI menunjukkan harga yang dibayar di Mei justru 9% lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya. Ia menempatkan ketimpangan ini sebagai sumber ketidakpastian dalam menjalankan usaha tani. “There’s a lot of uncertainty,” kata Oldfield.

Oldfield menyatakan ia harus menutup biaya agar peternakan tetap bertahan, terutama karena ia punya rencana masa depan bagi kedua putrinya. Putrinya ingin menjadi petani, sehingga keberlangsungan usaha dinilai menjadi syarat utama.

Dalam penjelasannya, Oldfield mengatakan, “How do we shore the business up into a place that’s right for them to come into without saddling them with a lot of debt?” Ia juga menuturkan bahwa ia bekerja penuh waktu sebagai peneliti pemuliaan tanaman, karena peternakan dinilai belum cukup menghasilkan untuk membayar upah dirinya dan suaminya sekaligus.

Di sisi lain, Phil Clayton yang menjalankan usaha roti di York, North Yorkshire, menegaskan kenaikan harga tidak otomatis membuat pembuat roti menikmati laba lebih besar. Ia berbicara di tengah aktivitas dapur dan ruang produksi yang berjalan sejak pagi.

Clayton menyatakan, “I know I’m not going to be a millionaire running a bakery,” serta menegaskan, “absolutely not true” bahwa toko roti kebal terhadap dampak biaya naik. Menurutnya, operasional yang intensif justru menuntut pengeluaran yang terus berjalan.

Untuk bulan Mei, data CPI menyebut keluarga membayar 2% lebih mahal untuk bread rolls dibanding setahun sebelumnya. Tetapi pada bulan April, API menunjukkan petani menerima 0.3% lebih rendah untuk gandum, yang menjadi bahan utama roti.

Clayton menilai kenaikan harga yang dirasakan pelanggan tidak selalu sebanding dengan perubahan yang terjadi pada tingkat produsen. “The 2% increase in prices for customers is smaller than the 3% rise seen across the whole CPI index,” ujarnya.

Ia juga menyatakan tidak menyesal ketika harus menaikkan harga berkisar 10p hingga 20p. “My responsibility is to make sure all of this lot get paid,” katanya, sambil merujuk pada timnya yang berjumlah 30 orang.

Clayton menjelaskan tim tersebut mencakup para pembuat roti, pengemudi pengantaran, hingga staf yang bekerja di hari Sabtu di kafe yang menempel pada bakery. Ia menekankan uang tambahan yang dibayar pelanggan di kasir digunakan untuk menutup kenaikan sewa, upah, National Insurance, biaya bahan bakar pengiriman, serta meningkatnya biaya tepung.

Tentang tepung, ia menunjuk asalnya yang terkait dengan pasokan dari petani di wilayah yang sama. Dengan kata lain, kenaikan biaya yang sampai ke baker juga berkaitan dengan perubahan harga di hulu.

Dari penggilingan hingga pasar: logistik ikut menekan biaya

Robert Archer, manajer pabrik penggilingan di Kirkbymoorside, North Yorkshire, menceritakan bahwa biaya angkut menjadi faktor yang “a big hit”. Menurutnya, kondisi ini memaksanya menaikkan harga tepung organik yang diproduksi.

Archer menegaskan, “If we stayed at the same price we would be losing money and then we couldn’t run the business”. Pabriknya membeli lebih dari 400 ton gandum organik yang ditanam secara lokal setiap tahun, berasal dari petani di North Yorkshire dan East Yorkshire.

Ia juga menyebut kapasitas produksi yang dimiliki pabrik tersebut menghasilkan tepung yang cukup untuk memberi makan 20,000 orang. Tepung kemudian didistribusikan ke pelanggan, termasuk bakery milik Phil Clayton di York.

Di tingkat kepemilikan, Nelly Trevelyan mengatakan mereka tetap memilih metode organik karena membantu menekan lonjakan persentase harga. Ia menyatakan, “staying organic helps them to minimise percentage price rises because ‘we don’t have nitrogen fertiliser cost increases [and] we don’t use pesticides, so we haven’t got those increases’.”

Namun, Trevelyan juga menyoroti bahwa sebagian orang memilih produk yang dianggap “cheap food” dari sistem pertanian industri. Ia menilai sistem tersebut memakai metode yang lebih intensif dibanding pendekatan yang mereka jalankan.

Salad dan persepsi “makanan murah”

Mathew Brankley, petani yang menanam salad di Snaith, East Yorkshire, memandang harga pangan di Inggris masih relatif terjangkau. Ia mengakui pernyataannya mungkin mengejutkan, tetapi ia merujuk pada perbandingan biaya di tempat lain.

Brankley menyebut, “I know that that might sound like a shock,” lalu menjelaskan bahwa di beberapa wilayah di Eropa dan Amerika Serikat, biaya selada sederhana bisa mencapai $2.99. Ia membandingkannya dengan harga di Inggris yang berada di kisaran 80p hingga £1.

Menurut API, vegetable growers menerima 12.6% lebih tinggi atas hasilnya pada April dibanding setahun sebelumnya. Tetapi pada Mei, CPI mencatat bahwa konsumen membayar 8% lebih mahal untuk produk-produk tersebut.

Brankley menekankan bahwa ia tidak merasa lebih diuntungkan. Ia menjelaskan tambahan uang yang dibayar untuk hasil panennya justru “eaten up” oleh kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk yang harus ia keluarkan.

Ia mengatakan, “There’s a lot of people that are taking a cut from what the customer pays in the supermarket before any of it gets back to the farmer”. Karena itu, ia menilai hubungan antara harga di rak dan pendapatan petani tidak berjalan lurus seperti yang dibayangkan banyak orang.

Meskipun menghadapi tantangan, Brankley mengatakan ia tidak mempertimbangkan mengganti pekerjaan. “I wouldn’t do anything else because I enjoy it so much,” ujarnya.

Respons kebijakan

Di bagian akhir laporan, perwakilan Defra menyampaikan bahwa pemerintah mendukung petani. Mereka menyebut “backing our hard-working farmers, investing a record £11.8bn – more than any previous government”.

Meski begitu, Oldfield menggambarkan bahwa dukungan kebijakan belum sepenuhnya mengubah tekanan sehari-hari yang dihadapinya. Ia mengaitkan beban ini dengan kebutuhan menjaga kelangsungan usaha dan kemampuan menjamin masa depan bagi putri-putrinya.

Perwakilan Defra juga menyebut kebijakan lain seperti pemotongan red diesel hingga tarif terendah dalam lebih dari 20 tahun. Selain itu, mereka menyatakan pemerintah sedang mencari masukan terkait kemungkinan menangguhkan fertiliser tariffs untuk membantu petani.

Di tengah kenaikan harga yang dirasakan konsumen, kisah para pelaku di hulu menunjukkan pola yang sama: biaya bergerak naik, sementara bagian yang diterima petani dan produsen justru tidak serta-merta ikut menguat. Cerita itu menempatkan “burgerflation” bukan sekadar sebagai isu harga, tetapi juga sebagai ujian keberlanjutan usaha pangan dari ladang hingga meja makan.