jurnalistik.co.id – Pelatih kepala Timnas Inggris, Thomas Tuchel, menyampaikan pesan tenang jelang laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 melawan tuan rumah bersama, Meksiko. Ia membantah kekhawatiran terkait pengalaman timnya selama berada di Meksiko, termasuk soal suasana di luar hotel.
Menurut Tuchel, cara Inggris diperlakukan di Meksiko “nicer than I expected”. Ia juga menilai dukungan fans setempat “friendly and respectful” sepanjang persiapan jelang pertandingan yang dipastikan menjadi laga gugur.
Inggris akan menghadapi Meksiko dalam laga babak 16 besar yang kickoff pada pukul 18:00 waktu setempat, Senin (6 Juli) pukul 01:00 BST. Tuchel menekankan bahwa momen pertandingan memang mengharuskan tim fokus, bukan terjebak pada prediksi masalah yang belum terjadi.
Sabtu sebelumnya, skuad Inggris menjalani sesi latihan di Mexico City dengan pengamanan yang ditingkatkan. Saat mereka berangkat dari hotel, suasana di sekitar lokasi diselimuti beragam reaksi penonton, mulai dari sorak hingga ejekan.
Latar pengamanan yang lebih ketat juga dikaitkan dengan insiden yang sebelumnya dialami pihak lain. Ecuador, yang pada babak terakhir 32 besar dikalahkan Meksiko 2-0, melaporkan adanya gangguan tidur kepada FIFA setelah fans memakai pengeras suara, motorbiker, dan klakson pada pekan lalu.
Sebagai respons, anggota National Guard Meksiko terlihat berjajar di pintu masuk hotel Inggris. Di sisi jalan yang mengarah ke area tersebut, polisi bersiaga dengan perlengkapan anti huru-hara, berdiri dekat pembatas.
Menanggapi kondisi itu, Tuchel mengatakan, “We had no issues tonight and I think Fifa took care of the situation”. Ia menambahkan bahwa pengamanan di sekitar hotel menjadi alasan pihaknya berharap tidur malam yang baik untuk memulihkan tenaga pemain.
Tuchel juga memilih pendekatan yang meredam spekulasi. “I don’t want to talk about problems that don’t exist yet. If they come, we will accept them. The best way to approach is to be relaxed and calm.”
Ia menambahkan pertimbangan jadwal ketika membahas istirahat. “We have a six o’clock kick-off, so if we miss some hours of sleep we will have time to get some other hours in the late morning.”
Bagi Tuchel, yang ia rasakan sejauh ini justru berbeda dari dugaan-dugaan negatif. “What I experienced until now was very respectful and emotional and very supportive towards our teams, so we are very respectful towards everyone.”
Ia menegaskan ekspektasi bahwa timnya juga layak diperlakukan dengan rasa hormat. “We expect to be treated with respect and that was the case.” Lalu ia merangkum pengalamannya dengan kalimat yang ia sebutkan berulang, “It was even nicer than I expected.”
Keberadaan Inggris di Mexico City juga menyentuh aspek mental dan energi pertandingan. Tuchel mengatakan ia merasa “the energy in Mexico City” begitu tiba, karena suasana dipenuhi kegembiraan dan emosi yang langsung terasa.
“It just catches you straight away once you land here and saw the excitement and the emotions,” ujarnya. Baginya, laga ini akan menjadi pertandingan Piala Dunia yang “proper”, di tempat yang sarat sejarah dan identitas sepak bola.
Tuchel menggambarkan stadion dan konteks duel gugur sebagai faktor yang membuat tim lebih tajam. “This will be a proper World Cup match. We are in an iconic place, an iconic stadium and a massive knockout game.”
Ia percaya panggung besar akan membawa efek nyata pada performa. “It is a big stage and we feel it. It makes you sharper and brings the best out of you. It makes you feel alive.”
Berita Terkait
Sisi lain yang menjadi pembahasan utama adalah faktor ketinggian di Mexico City. Tuchel dan skuad menyadari dampak kondisi tersebut, terutama karena laga akan dimainkan di Estadio Azteca pada ketinggian 7,220ft (2,240m) di atas permukaan laut.
Secara fisiologis, tekanan udara lebih rendah sehingga udara menjadi lebih tipis. Akibatnya, oksigen yang masuk ke aliran darah pada setiap tarikan napas menjadi lebih sedikit, yang dapat memicu peningkatan denyut jantung, “shortness of breath”, dehidrasi, serta kelelahan yang datang lebih cepat dan terasa lebih intens.
Tuchel menyatakan bahwa ia sudah merasakannya sejak tiba pada Sabtu malam. “We feel it even if we don’t train,” katanya, mengindikasikan bahwa adaptasi terhadap ketinggian tidak hanya terkait aktivitas latihan.
Ia menjelaskan beberapa dampak yang dirasakannya. “I felt a slight headache through the day, for example.” Ia juga menilai kualitas tidurnya tidak sepenuhnya sama dengan hari-hari sebelumnya, namun tetap bisa ditangani.
“I didn’t sleep as well as the days before but nothing you cannot handle and that you cannot adapt.” Ia menuturkan bahwa pemain merasakan efek tersebut sejak menit-menit awal sesi latihan, lalu seiring waktu mereka bisa mengatasinya dengan lebih baik.
Menurut Tuchel, ada batas yang tidak bisa ditembus hanya dengan latihan singkat. “It is just what it is. We cannot physically adapt, it is impossible. But we are here one day before to experience it at least.”
Ia juga mengaitkan strategi permainan Meksiko dengan dinamika awal pertandingan. Tuchel menilai laga sering berjalan dengan intensitas tinggi pada fase pembukaan, sehingga timnya perlu siap menghadapi rentang waktu 15 sampai 20 menit pertama.
“It is not a coincidence Mexico starts their matches strong and aggressively as the first 15 to 20 minutes maybe the tougher.” Setelah melewati fase awal yang biasanya paling menekan, ia merasa Inggris berada pada posisi yang lebih baik.
“Once we overcome that, I think we are in a good place.” Ia yakin pemain sudah memiliki pemahaman tentang situasi yang akan mereka hadapi dan akan mempersiapkan semua hal yang diperlukan menjelang pertandingan.
“The players are kind of adapted – you know about the situation. We will take care of what we need to take care of. We need a strong performance and I feel we will have one.”
Selain isu keamanan dan ketinggian, Tuchel juga diminta menanggapi kekacauan jadwal kickoff yang sempat memicu kebingungan. FIFA sempat merencanakan perubahan waktu pertandingan maju enam jam menjadi 12:00 waktu setempat (19:00 BST), sebelum akhirnya mengalami pembalikan keputusan.
Tuchel menjelaskan bahwa situasi di dalam “bubble” justru berada dalam kondisi yang cukup tenang. “Inside the bubble it was quite calm,” katanya, sambil menegaskan para pemain pada saat itu tidak menyadari kemungkinan perubahan kickoff.
“The players were not aware there was a possible change of kick-off.” Ia kemudian menilai contoh tersebut berguna untuk mengingatkan pentingnya menjaga kepala tetap dingin saat rencana berubah tanpa kendali langsung tim.
“Just this example shows you to not lose your head – we cannot influence it. Three and a half hours later, you land in Mexico and the kick-off time stayed the same. It is not worth losing your head.”
Baginya, berbagai tantangan di Mexico City bukan sesuatu yang harus membuat tim kehilangan fokus. “Altitude: it is what it is. Home crowd: it is what it is.”
Tuchel menutup dengan penekanan pada karakter tim dan tekad untuk menembus hambatan yang datang dari lingkungan pertandingan. “We have the spirit, we have the commitment, we have the pure will and the glue in the team to overcome these things. We know what is coming. But that is the beauty of it.”












